Ulasan “The Boss Baby” (2017)

Asal-usul pembuatan bayi yang dianalogikan sebagai produksi massal di sebuah pabrik pernah diangkat dalam film animasi “Storks”. Kali ini Dreamworks mencoba mengusung premis dasar yang hampir sama tersebut untuk film terbarunya “The Boss Baby”. “The Boss Baby” berkisah tentang seorang bayi yang diutus oleh sebuah perusahaan untuk menyusup ke perusahaan boneka anjing. Tujuannya adalah agar…

Read more

Ulasan “La La Land” (2016)

Jika diibaratkan magnet, film musikal mempunyai medan positif. Dan penonton bisa memiliki medan negatif – yang akan saling tarik menarik – atau malah bisa juga sama-sama positif yang membuatnya tidak akan bersentuhan sama sekali. Saya sebenarnya termasuk kategori kedua. Medan tersebut tercipta karena kebosanan menonton adegan yang dilagukan. Menarik tapi hampir selalu dipaksakan. Dan itu…

Read more

Ulasan “Cek Toko Sebelah” (2016)

Menjadi minoritas dalam sebuah komunitas bisa menimbulkan disparitas identitas. Atau bahasa gampangnya “enggak enak, coy!”. Serbacanggung untuk membaur dalam masyarakat yang katanya menjunjung tinggi kebhinekaan. Masalah itu yang ditangkap oleh Ernest Prakasa sebagai keturunan Tionghoa di Indonesia. Dalam karya pertamanya “Ngenest”, Ernest mengeksploitasi ke-Cina-annya yang sarat dengan perundungan ke dalam memoar hidupnya. Dan karya tersebut…

Read more

Ulasan “Headshot” (2016)

September lalu “Headshot” merilis trailer pertamanya. Dalam trailer tersebut penonton disajikan sekelumit premis tentang Ishmael (Iko Uwais) yang hilang ingatan dan ditolong dokter cantik Ailin (Chelsea Islan). Penonton dibuat penasaran dengan kisah yang masih samar itu. Hingga akhirnya pada awal Desember film ini dirilis. Mo Brothers yang terkenal lewat film slasher “Rumah Dara” mencoba peruntungannya…

Read more

Ulasan “Kubo and The Two Strings” (2016)

Stop-motion bukan barang baru di dunia perfilman, namun juga ‘kurang’ populer dibandingkan animasi 2D atau 3D konvensional. Alasannya? Butuh banyak tenaga menggarapnya; menggerakkan boneka sedikit demi sedikit untuk menciptakan sekuens yang hidup. Cuma Tim Burton yang cukup gila dengan beberapa kali membuat film stop-motion, seperti “Corpse Bride”, “9” dan “Frankenweenie”. Berbeda dari film-film Tim Burton, “Kubo And The…

Read more

Ulasan “Doctor Strange” (2016)

Marvel Cinematic Universe (MCU) - biasanya menghadirkan tokoh jagoan yang mengandalkan teknologi atau manusia-manusia keturunan dewa yang turun ke Bumi - memilih untuk menghadirkan karakter baru di sinema. Kali ini tiba saatnya “Doctor Strange” untuk menampilkan kekuatan sihirnya. Kisahnya berpusat pada seorang dokter bedah Stephen Vincent Strange (Benedict Cumberbatch). Strange adalah karakter karangan Steve Ditko…

Read more

Ulasan “Hunt for The Wilderpeople” (2016)

Taika Waititi yang sebelumnya menyutradarai film komedi vampir nyentrik “What We Do in the Shadows” kembali dengan “Hunt for The Wilderpeople” yang tidak kalah nyentriknya. Berpusat pada Ricky Baker (Julian Dennison), anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga Aunt Bella (Rima Te Wiata) dan Uncle Hec (Sam Neill). Ricky, bocah tengil berusia belasan tahun yang…

Read more

Ulasan “Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children” (2016)

“Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children” diangkat dari novel berjudul sama keluaran 2011 karya Ransom Riggs yang pernah menduduki peringkat satu The New York Times Best Seller. Jadi, sebelum menontonnya saya bertekad menyelesaikan membaca bukunya. Supaya nantinya bisa lebih (tidak) adil dalam menilai film ini. Kisahnya berpusat pada Jacob Portman (Asa Butterfield) yang tumbuh sebagai…

Read more

Ulasan “Kimi no Na wa” (“Your Name”) (2016)

Untuk para penggemar anime nama Makoto Shinkai mungkin sudah sangat familier. Filmnya sebelumnya “5 Centimeters Per Second” (2007) dan “The Garden of Words” (2013) masih menyisakan kekaguman baik dari segi cerita maupun visual. Kali ini Makoto kembali ke layar perak dengan “Your Name” atau berjudul asli “Kimi no Na wa”. Makoto, yang digadang-gadang bisa jadi…

Read more

Ulasan “Storks” (2016)

Mitos bayi berasal dari bangau sudah populer di budaya Barat sejak dulu. Cerita ini adalah rekaan instan para orang tua yang canggung ketika ditanya anak-anak bagaimana mereka bisa ada di dunia. Sedangkan di Indonesia kebiasaan ini tidak terlalu populer, setidaknya bagi para keluarga yang tidak terlalu akrab dengan budaya Barat. “Storks” memilih ini sebagai tema…

Read more

Stay updated! Follow Mumovi!