Ulasan “La La Land” (2016)

Jika diibaratkan magnet, film musikal mempunyai medan positif. Dan penonton bisa memiliki medan negatif – yang akan saling tarik menarik – atau malah bisa juga sama-sama positif yang membuatnya tidak akan bersentuhan sama sekali. Saya sebenarnya termasuk kategori kedua.

Medan tersebut tercipta karena kebosanan menonton adegan yang dilagukan. Menarik tapi hampir selalu dipaksakan. Dan itu hampir terjadi di hampir semua musikal yang saya tonton. Namun, tidak begitu halnya dengan film garapan sutradara Damien Chazelle, yang sebelumnya menggarap kisah intens penggebuk drum “Whiplash”.

“La La Land” sebenarnya menawarkan premis yang sangat sederhana, yang mengingatkan kita pada “Happy Go Lucky”. Berkisah tentang pahit getirnya dunia berdasarkan sudut pandang terpusat karakternya saja yang selalu mempunyai sudut pandang positif sehingga semuanya bisa terlihat indah – setidaknya di awal.

Dikisahkan Sebastian Wilder (Ryan Gosling) dan Mia Dolan (Emma Stone) yang sama-sama asing dipertemukan oleh takdir. Keduanya berusaha mengejar impiannya masing-masing. Si pria ingin jadi musisi jazz andal, sedangkan si wanita ingin jadi aktris karena selama ini dia bekerja di kafe yang berada di sebuah studio film. Klise. Kisah perjalanan karier keduanya pun bisa dibilang klise.

Dibuka dengan kepositifan orang-orang di tengah kemacetan dengan kostum warna-warni diiringi tarian dan nyanyian, film ini langsung menentukan tone-nya. Hampir tiga perempat durasi kita disuguhi kenikmatan audio visual dengan segala kepositifan interaksi antara keduanya.

Akting Ryan dan Emma sama-sama memukau. Sebagai pasangan mereka jauh dari kecanggungan karena ini bukan kali pertama mereka berduet dalam film. Sebelumnya mereka beradu akting di “Crazy, Stupid, Love” dan “Gangster Squad”. Koreografi ala Broadway jadi sajian visual apik dipadu dengan nomor lagu dari Justin Hurwitz.

Ryan Gosling dan pesona fisiknya pasti membuat tergila-gila perempuan di luar sana. Tapi yang paling menarik dari film ini adalah kegemilangan akting Emma Stone. Bahasa, gerak tubuh dan mimiknya meniupkan roh yang tidak gampang diejawantahkan lewat adegan. Adegan favorit adalah ketika dia berjoget asyik mengikuti alunan piano Sebastian di klub jazz.

Dalam sinematografi, Damien bersama Linus Sandgren menampilkan lanskap magis L.A. yang menguarkan aspirasi – jika tidak bisa disebut keputusasaan – kedua tokoh sentralnya. Jatuh bangun mereka untuk menggapai cita-cita dikontraskan dengan pemandangan indah kota besar AS itu. Kebanyakan gambar menggunakan wide-shot yang mungkin ditujukan untuk menggambarkan betapa kecilnya signifikansi mereka di dunianya masing-masing.

Pada beberapa adegan one continous shot – layaknya “Birdman” – digunakan dengan cermat untuk menyajikan yang seolah aktual dan bisa membangun keterikatan dengan penonton. Bahkan gerakan kamera dinamis di kolam renang yang mengikuti pemeran yang akan-hingga-meloncat ke dalam kolam ditampilkan seolah itu pekerjaan mudah.

Lighting di film ini juga patut disoroti. Pencahayaan spotlight pada karakter yang ingin ditonjolkan memang terdengar murahan tapi percayalah transisi dan efek yang dihasilkan dari perlakuan cahaya demikian benar-benar berhasil menggiring fokus penonton dengan dramatis. Terlebih itu juga jadi tribut untuk gaya penyutradaraan jadul ala Broadway.

Dan karena ini film musikal tentu saja musikalitas jadi elemen fundamental. Damien memang pecinta film musikal, dan kesuksesan “Whiplash” sudah jadi bukti autentik kegeniusannya dalam hal musik.

Repertoire Justin Hurwitz efektif mendukung keseluruhan adegan bahkan detail-detail seperti backsound juga tampaknya dipikirkan dengan cermat. Tengok saja adegan makan malam Sebastian dan Mia yang tadinya diiringi lagu romantis dari gramofon lalu ketika suasana berubah memanas dan kaku akibat pertengkaran keduanya, suara indah tersebut tergantikan dengan suara berisik dan mengganggu alarm asap dari oven yang memanggang masakan Sebastian sampai hangus.

Secara keseluruhan “La La Land” memang pantas dapat nominasi sebanyak itu di ajang film bergengsi – 14 nominasi di Oscar, rekor yang sama dengan “Titanic” dan “All About Eve”. Paduan cerita pahit-manis, ansambel aktor mumpuni dan sinematografi spektakuler, tidak sulit bagi film ini untuk dikenang 10, 20 atau mungkin 50 tahun lagi.

  • 9/10
    Akting - 9/10
  • 8/10
    Cerita - 8/10
  • 9.5/10
    Visual - 9.5/10
  • 9.5/10
    Sinematografi - 9.5/10
9/10

Simpulan

Sebagai film yang banyak dipuji, film ini memang membuktikan kelasnya tanpa basa-basi. Kamu harus menonton mahakarya ini untuk membuktikannya. Dan sebutan mahakarya untuk film ini yang sebelumnya sudah digembar-gemborkan ternyata memang sama sekali tidak hiperbolis.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 215 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Cek Toko Sebelah” (2016)

Close