Ulasan “Headshot” (2016)

September lalu “Headshot” merilis trailer pertamanya. Dalam trailer tersebut penonton disajikan sekelumit premis tentang Ishmael (Iko Uwais) yang hilang ingatan dan ditolong dokter cantik Ailin (Chelsea Islan). Penonton dibuat penasaran dengan kisah yang masih samar itu. Hingga akhirnya pada awal Desember film ini dirilis.

Mo Brothers yang terkenal lewat film slasher “Rumah Dara” mencoba peruntungannya di sini dengan memboyong Iko dan rekan-rekannya di “The Raid”. Jelas pembandingan keduanya tidak akan adil karena filmnya masing-masing mempunyai semesta yang berbeda sama sekali. Tapi mau tidak mau, “Headshot” harus dibayangi film-film Iko sebelumnya yang membesarkan namanya, mulai dari “Merantau”.

Iko yang berperan sebagai orang hilang ingatan sama sekali tidak bisa mengingat namanya. Kemudian Ailin – yang sedang membaca novel “Moby Dick” – berinisiatif memberi nama pria itu Ishmael. Tadinya saya mengharapkan ada alasan pemilihan tokoh Ishmael untuk dijadikan nama tokoh utama. Entah karakterisasi, nasib atau plotnya sendiri. Namun, ternyata pemilihan tersebut tampaknya dilakukan dengan alasan yang tidak terlalu kuat – selain karena kebetulan. Tidak ada paus, apa lagi terombang-ambing di laut. Satu-satunya hal terdekat yang sedikit relevan antara Ishmael Iko dan Ishmael Moby Dick adalah dua-duanya sama-sama tersesat, hanya saja Ishmael versi Iko terdampar di pinggir pantai saat ditemukan oleh Ailin. Cuma itu. Sisanya hantam-hantaman pemicu adrenalin antara mantan penjahat dan teman-temannya.

Ya, dari departemen cerita “Headshot” tidak mempunyai kekuatan yang bisa membuatnya disebut lebih baik dibandingkan film laga Iko sebelumnya. Ada beberapa plot hole yang cukup kentara dan luput dari perhatian, bukti bahwa film ini terlalu berfokus koreografi tarung dibanding plot secara keseluruhan.

“Headshot” sulit lepas dari bayang-bayang “The Raid” karena bedol desa para pemerannya. Selain Iko, ada Zack Lee sebagai Tano, David Hendrawan menjadi Tejo dan Very Tri Yulisman sebagai Besi, sahabat terdekat Ishmael ketika masih berada di dunia hitam. Namun, karakter yang paling tersia-siakan dalam film ini adalah Rika yang diperankan Julie Estelle, mantan Hammer Girl beringas di “The Raid”. Karakterisasi Rika sebenarnya sangat menarik, namun ketika dihadapkan dengan Ishmael dalam laga di tepi pantai semua karakter misterius yang dibangunnya sejak scene awal menjadi tak berarti dan menguap tanpa bekas yang layak kenang. Beda halnya dengan karakter Besi yang meski tampil tidak terlalu banyak sedari awal, namun pesonanya cukup mencuri perhatian dengan pertarungan yang epik.

Sunny Pang, aktor Singapura yang berperan jadi ‘ayah’ atau mantan bos Ishmael tampil cukup memesona dengan pembawaannya yang enigmatik. Tidak banyak omong, namun mematikan. Menyimpan rahasia kelam di balik penampilannya yang terlihat seperti sipil biasa.

Secara keseluruhan, “Headshot” berhasil dalam menampilkan adegan-adegan laga dengan sudut pengambilan gambar yang sulit menjadi sebuah sajian indah, namun tetap masih berada di level di bawah film besutan Gareth Evans yang mau tidak mau telanjur jadi standar. Pada akhirnya film ini merupakan sebuah capaian tinggi bagi Mo Brothers, namun hanya bisa berada di level pengisi kekosongan film laga sambil menunggu karya selanjutnya dari Gareth Evans.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 205 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
“Kong: Skull Island” Rilis Trailer Perdananya

Close