Ulasan “Doctor Strange” (2016)

Marvel Cinematic Universe (MCU) – biasanya menghadirkan tokoh jagoan yang mengandalkan teknologi atau manusia-manusia keturunan dewa yang turun ke Bumi – memilih untuk menghadirkan karakter baru di sinema. Kali ini tiba saatnya “Doctor Strange” untuk menampilkan kekuatan sihirnya.

Kisahnya berpusat pada seorang dokter bedah Stephen Vincent Strange (Benedict Cumberbatch). Strange adalah karakter karangan Steve Ditko dan hadir pertama kali di komik pada 1963 yang digambarkan sebagai dokter bertangan dingin dengan kemampuan eksepsional. Berbagai operasi rumit berhasil dilakukan oleh dia dan timnya. Dibekali kegeniusan luar biasa, wajar dia tumbuh jadi pribadi yang pongah nan arogan hingga sebuah kecelakaan mengubah karier dan kehidupannya. Kecelakaan tersebut membuat saraf jemarinya rusak dan dia tidak bisa mengendalikan jarinya sebagaimana manusia normal. Gone is the gifted neurosurgeon.

Upaya pencarian kesembuhannya berujung pada pertemuannya dengan seorang guru spiritual bernama Ancient One (Tilda Swinton) di Kamar Taj di Kathmandu, Nepal. Strange yang terbiasa dengan logika dan ilmu pasti harus tunduk pada dunia magis yang ditawarkan Ancient One karena ia bertekad untuk sembuh.

Ternyata di Kamar Taj ada konflik besar yang melibatkan Ancient One dan mantan pengikutnya, Kaecilius (Mads Mikkelsen). Strange – yang di tengah masa penyembuhannya belajar pesat dalam menguasai ilmu magis – terpaksa terlibat dalam perseteruan tersebut.

Dari segi akting, tentu Benedict Cumberbatch memimpin ansambel aktor yang tidak kalah besar seperti Tilda Swinton, Chiwetel Ejiofor sebagai Karl Mordo, Rachel McAdams yang jadi kekasih Strange, Christine Palmer. Berakting sebagai orang pintar sudah pasti sedemikian mudah bagi aktor Sherlock Holmes dan “The Imitation Game” ini. Dan Strange juga berhasil merengkuh peran barunya sebagai penyihir yang merintis dari bawah dengan akting yang tidak berlebihan. Arogansi Strange juga ditampilkan dengan dialog subtil seperti bagaimana Strange selalu menyebut gelarnya sebagai dokter. Dia selalu menekankan kepada lawan bicaranya bahwa ketika menyebut namanya gelar dokter di depannya tidak boleh luput diucapkan.

Dari segi humor “Doctor Strange” dalam skripnya menyelipkan lelucon dengan referensi pop yang mengena, seperti penyebutan Beyonce yang tokcer mengundang tawa.

Sebelumnya ada skeptisisme besar pada “Doctor Strange”, mengingat rekam jejak MCU yang hanya berfokus pada karakter Iron Man, Captain America, Thor dan kawan-kawannya. Premis film-film tersebut jauh berbeda dari “Strange”. Di film ini mengedepankan unsur magis, isu yang jarang sekali disentuh MCU. Dunia magis yang paling jauh disentuh MCU adalah sebatas Blade atau Loki dan Thor, itu pun karena mereka keturunan dewa.

Namun, sutradara Scott Derrickson yang terkenal lewat “The Exorcism of Emily” Rose dan “Sinister” berhasil meniupkan dunia spiritual ke dalam plot yang meyakinkan namun tidak terlalu impresif di film ini.

Laiknya film origin, “Doctor Strange” memberi fokus lebih pada pengenalan karakter. Akibatnya penceritaannya agak berlarut-larut. Dan klimaksnya adalah penyelesaian yang masih terkesan terlalu disimplifikasi.

Akan tetapi, semua kekurangan di plot berhasil dikompensasi oleh presentasi visualnya. Harus diakui imajinasi sinematografer Ben Davis melampaui akal sehat. Sangat psikedelik dan membuat penonton seperti menghirup gas halusinogen. Visual yang ditampilkan seperti bangunan yang dibengkokkan, portal yang menghubungkan dua dunia, environment yang dilipat-lipat dan gambar subatom yang sangat detail dan memanjakan mata saat ditonton dalam versi 3D – jauh melampaui ekspektasi dari film-film Marvel sebelumnya. Kecanggihan visual film ini membuat “Inception” dan “Ant-Man” dan “Legends of Tomorrow” yang menampilkan Atom terlihat seperti amatiran.

Film ini adalah kolaborasi terbaru Marvel dengan Disney, artinya ciri khas warna-warni eye candy dan segmen penonton yang tidak R-rated harus tetap dipertahankan. Dan “Doctor Strange” berhasil dalam kedua hal tersebut.  Adegan kekerasan direpresi dengan cara yang tidak terlalu  mencolok dan mengorbankan emosi cerita.

Dari sekian banyak adegan penuh warna, adegan subatom adalah yang paling mencuri perhatian. Penggambaran Strange yang sangat kecil ketika berada di alam semesta menyiratkan pesan tentang betapa kecilnya manusia di dunia ini. Memang pesan ini tidak mungkin diterima sama oleh setiap penonton tapi sajian visual “Doctor Strange” menggambarkan secara menohok bagaimana signifikansi manusia di semesta, bahkan untuk orang dengan kegeniusan Strange sekalipun. Dan – mungkin – yang paling penting adalah karma tentang arogansi itu sendiri. Dialog antara Ancient One dan Strange juga menyiratkan tentang bagaimana terbatasnya pengetahuan manusia tentang semesta.

"Doctor Strange" (2016)
  • 7.5/10
    Akting - 7.5/10
  • 6.5/10
    Cerita - 6.5/10
  • 9/10
    Visual - 9/10
  • 8.5/10
    Sinematografi - 8.5/10
7.9/10

Simpulan

Tidak terlalu kuat dalam penceritaan tapi terdongkrak banyak dengan visualnya yang memukau dan tertata baik. Plus, ini pendobrak yang sukses bagi MCU di bidang magis.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 581 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Hunt for The Wilderpeople” (2016)

Close