Ulasan “Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children” (2016)

“Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children” diangkat dari novel berjudul sama keluaran 2011 karya Ransom Riggs yang pernah menduduki peringkat satu The New York Times Best Seller. Jadi, sebelum menontonnya saya bertekad menyelesaikan membaca bukunya. Supaya nantinya bisa lebih (tidak) adil dalam menilai film ini.

Kisahnya berpusat pada Jacob Portman (Asa Butterfield) yang tumbuh sebagai remaja canggung dalam kehidupan pribadinya sehari-hari. Kakek Jacob, Abe (Terrence Stamp), adalah seorang pribadi penuh imajinasi, setidaknya dari sudut pandang Jacob, dilihat dari kisah-kisahnya yang dituturkan kepada cucunya tersebut. Hingga suatu ketika dia meninggal secara misterius. Dari situ petualangan Abe dimulai.

Terdorong oleh cerita kakeknya, Jacob memutuskan untuk pergi ke Cairnholm, kota tempat kakeknya dibesarkan dulu. Rumah yang dimaksud kakek adalah rumah tinggal bagi anak-anak dengan kemampuan istimewa yang diasuh oleh Miss Peregrine. Perempuan tersebut ternyata bukanlah orang biasa melainkan seorang ymbryne yang bisa memanipulasi waktu dan berubah wujud menjadi seekor burung. Singkatnya, Jacob kembali bernostalgia dengan para penghuni rumah tersebut tentang masa lalu kakeknya yang meninggal secara misterius.

Pada paruh awal, Tim Burton langsung memutuskan untuk mengubah novel tersebut dengan menghilangkan karakter yang tidak penting. Ricky, satu-satunya sahabat Jacob yang berada di tempat jenazah Abe ditemukan, langsung dihilangkan karena memang signifikansinya tidak terlalu besar terhadap plot meski cukup berarti untuk Jacob. Oke, saya pikir ceritanya akan dibawa sesuai selera dan ciri khas Tim Burton yang adiluhung itu dan film ini akan lebih cocok disebut inspired by a novel, bukan based on a novel.

miss-perePada penceritaannya hasrat membandingkan film ini dengan novelnya sulit dielakkan, ada beberapa detail yang seharusnya penting untuk dimasukkan namun dinafikan oleh Tim sehingga penonton tidak bisa bersimpati pada karakternya. Bahkan karakter Emma Bloom (Ella Purnel) di film, yang memiliki kekuatan levitasi, sebenarnya adalah Olive Abroholos di novel. Sedangkan Emma Bloom sebenarnya memiliki kemampuan untuk menciptakan api dengan tangannya. Masih belum jelas alasan Tim mengubah karakter tersebut, namun tampaknya Ransom sudah menyetujui sepenuhnya penggarapan karyanya kepada Tim.

Akting Asa Butterfield sebagai karakter sentral film ini juga terlalu datar. Untuk ukuran plot dengan karakter-karakter yang imajinatif dan tidak biasa ini, Asa tidak bisa mengakomodasi rasa keterkejutan terhadap petualangan barunya di dunia yang belum diketahuinya itu. Sedangkan Miss Peregrine (Eva Green) tampil cukup memesona. Dia diberi karakter yang menarik namun tidak diberi ruang yang cukup sehingga signifikansinya tidak disajikan secara optimal. Dialog-dialog yang diramu dalam naskah oleh Jane Goldman terlalu sederhana untuk bisa dikenang. Hal tersebut pada akhirnya berdampak pada karakter-karakternya yang banyak, utamanya yang tidak mendapat porsi tampil yang cukup banyak.

Dengan keleluasaan besar yang sudah diberikan Ransom kepada Tim, ditambah dengan rekam jejak Tim dengan materi fantasi dan cerita-cerita eksentrik nan gelapnya, tadinya ada harapan besar film ini akan melampaui novelnya secara visual. Namun, ternyata kesuraman di novel tidak dipresentasikan di film dengan impresif. Malah dalam film ini, tone Tim lebih berwarna dibandingkan cerita aslinya yang merupakan novel anak-anak. Pemilihan warna, cara menampilkan konfrontasi antara karakter jahat dan baik tampak begitu banyak direpresi, mungkin demi rating penonton yang menyasar pada anak-anak.

Secara keseluruhan film ini tidak jauh lebih menghibur dibandingkan novelnya. Memang pembandingan tersebut tidak adil mengingat terbatasnya medium pada film, namun eksplorasi besar Tim pada beberapa karakter seharusnya bisa diterjemahkan menjadi karya yang setidaknya lebih baik daripada aslinya. Dan sayang sekali, Tim gagal dalam hal tersebut. Tajinya di film-film terdahulunya yang cenderung gelap tidak nampak di film ini. Dan mungkin Tim perlu kembali menggandeng (memperistri) Helena Bonham Carter untuk menjadi aktor andalannya.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 259 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Konser Morrissey 2016 Jakarta, Memukau tapi Belum Tuntas

Close