Ulasan “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1” (2016)

Jujur ada skeptisisme besar saat melihat cuplikan “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1” dua bulan lalu. Kecurigaan film ini akan jadi sekadar kumpulan joke-joke lama dan dipresentasikan dengan wajah baru tidak bisa dihindari karena di trailer tersebut hanya ada penggalan adegan yang mengulang jargon-jargon dari judul film trio pelawak legendaris Dono, Kasino, Indro.

Sutradara Anggy Umbara terhitung berani mempertaruhkan kariernya dalam menggarap film dengan penggemar jutaan orang dari berbagai generasi ini. Melenceng sedikit saja bukan tidak mungkin dia akan habis-habisan didamprat para penggemar Warkop DKI.

Film ini pada dasarnya adalah reboot cerita Warkop “Chips” (1982) dan beberapa judul film Warkop lainnya. “Chips” sendiri adalah singkatan dari Cara Hebat Ikut Penanggulangan masalah Sosial dan merupakan parodi dari serial TV Amerika yang terkenal era 80-an, “California Highway Patrols (CHiPs)”. Misi mereka kali ini adalah memberantas praktik begal yang marak terjadi dengan bantuan cewek cantik pindahan Prancis Sophia (Hannah Al Rashid). Dalam kesatuan tersebut Chips dipimpin oleh bos cabul (Ence Bagus), mengulang peran Mas’ud Panji Anom di “Chips” dahulu.

Karena namanya reboot tentu saja ada nuansa kental pengulangan ciri khas film Warkop dulu. Opening scene menyajikan kekonyolan satu per satu personel, diiringi musik latar komikal dan lengkap dengan tipografi credit title yang terlihat jadul. Kemudian dilanjutkan dengan adegan Indro yang membacakan berita nyeleneh tidak penting yang jadi ciri khas “Setan Kredit” (1981) dan mengingatkan kita pada sosok Dono yang berdandan ala ibu-ibu menor bernama Tuti Aji Wirya.

Setelah Indro tampil, reinkarnasi ketiga aktor baru Warkop Dono (Abimana Aryasatya), Kasino (Vino G. Bastian), Indro (Tora Sudiro) baru dimunculkan. Ketiganya berhasil meniupkan ruh trio DKI yang kita cintai selama ini. Meski sama-sama tampil prima, harus diakui bahwa yang paling pas menghidupkan karakter DKI adalah Abimana. Gestur, mimik dan cara bicara Abimana hampir 100 persen mirip Dono.

Sedangkan Vino sebagai Kasino sebenarnya agak memaksakan diri di awal, namun kemudian setelah tampil lama, cukup banyak usaha Vino untuk menirukan Kasino yang layak diapresiasi. Namun, Tora yang menguasai ranah komedi di kebanyakan filmnya malah tampil terlalu biasa untuk memerankan Indro. Tora kelewat asyik berperan sebagai dirinya sendiri dan terkesan tidak mengimbangi usaha kedua rekannya untuk memerankan tokoh legendaris yang sudah akrab bagi hampir semua pecinta film Indonesia.

Kelemahan Tora sebenarnya tidak sepenuhnya bisa disalahkan karena Anggy memilih menampilkan Indro asli sebagai karakter imajiner yang ada di kepala Indro reinkarnasi sehingga eksplorasi karakter Tora tidak terlalu maksimal dibandingkan Dono dan Kasino. Kehadiran Indro asli cukup menghibur di beberapa bagian tapi mayoritasnya malah terasa mengganggu dengan pemunculannya yang tidak koheren dengan plot.

Usaha Anggy untuk menautkan Warkop DKI dengan referensi masa kini cukup mujarab, anekdot seperti ibu-ibu naik motor matic sukses mengundang tawa dan bisa membuat penonton dengan mudah relate ke fenomena tersebut.

Adaptasi teknologi untuk adegan motor terbang dan adegan face-off Hengky Soelaiman dan Inggrid Widjanarko juga jadi poin tambah bagi usaha Anggy untuk mereinkarnasi Warkop menjadi sajian nostalgia dengan kemasan kekinian yang total, tidak semata menggunakan tone warna film bernuansa jadul.

Misi Warkop DKI yang di filmnya biasa menyelipkan sentilan-sentilun untuk dunia politik tidak lupa juga turut dilestarikan dalam film ini. Namun, harus diakui kritik Warkop dulu jauh lebih subtil, mengena dan tidak terkesan memaksakan seperti naskah yang digarap Anggy dibantu Bene Dion Rajagukguk, Andi Awwe Wijaya ini. Tidak terlalu buruk, cuma terasa seperti tambalan saja karena tidak didukung penulisan skrip yang melebur dengan cerita.

Dari segi cerita masih belum bisa diputuskan karena ini baru bagian pertama film. Namun, sejauh ini “Jangkrik Boss” mempunyai cerita yang cukup solid dibandingkan film-film Warkop dulu yang lebih mirip fragmen dibandingkan film utuh. Sayang di beberapa adegan terkesan memaksakan diri untuk meniupkan ruh Warkop ke dalam cerita. Khususnya “Nyanyian Kode”, yang terinspirasi dari lagu legendaris Kyu Sakamoto berjudul “Sukiyaki (Ue o Muite Arukou)” dan jadi signature Kasino malah ‘dirusak’ dengan ditampilkan dalam plot yang rasanya kurang pas untuk disebut misi rahasia dan terkesan asal tampil.

“Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1” bahkan sudah punya pasar tersendiri sebelum dirilis mengingat fanbase-nya yang besar di Indonesia, jadi wajar hingga lima hari penayangan penontonnya sudah tembus angka dua juta. Nostalgia tentu saja adalah tujuan film ini dibuat dan itu berhasil diwujudkan Anggy Umbara terlepas dari berbagai kekurangan minor. ,Abimana seperti biasa – tampil total, diikuti Vino yang cukup meyakinkan menjadi Kasino.

Secara keseluruhan film ini sangat menghibur meski ada beberapa lelucon hambar. Namun, tenang saja rasionya leluconnya lebih besar untuk yang hit ketimbang miss. Untuk keputusan akhirnya apakah film ini layak disebut sebagai film tersukses – yang otomatis terlaris – dengan cerita yang mumpuni tentu saja kita harus menunggu bagian kedua film ini.

“Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1” (2016)
  • 6/10
    Akting - 6/10
  • 5/10
    Cerita - 5/10
  • 7.5/10
    Visual - 7.5/10
  • 7/10
    Sinematografi - 7/10
6.4/10

Simpulan

Mengocok perut namun garing di beberapa bagian. Pertaruhan kredibilitas Anggy terbayar lunas di film ini karena berhasil memenuhi tujuan utama film komedi: menghibur. Sisanya masih di bawah harapan.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 3,729 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ini Gambar Spektakuler “Mad Max: Fury Road” Sebelum Dipoles CGI

Close