Ulasan “The Secret Life of Pets” (2016)

Illumination Entertainment sebelumnya sudah sukses menelurkan animasi “Despicable Me“, “The Lorax” dan “Minions”, yang terakhir laris jadi merchandise bagi anak-anak di seluruh dunia. Kali ini mereka membawa kisah tentang binatang peliharaan “The Secret Life of Pets” ke layar lebar.

Kisahnya berpusat pada binatang-binatang peliharaan yang ditinggalkan pemiliknya untuk beraktivitas sehari-hari. Dari trailer-nya, film ini menjanjikan petualangan menarik dengan tingkah laku nyentrik binatang-binatang peliharaan seperti anjing pudel yang head-banging mendengar musik metal, anjing dachshund yang memijat punggungnya dengan mixer dan burung yang terbang di depan kipas angin untuk simulasi terbang dengan gambar pesawat tempur di TV di depannya.

Hampir semua orang mempunyai binatang peliharaan dan kita pasti pernah bertanya-tanya apa yang mereka lakukan saat kita meninggalkan mereka di rumah, ya? Nah, pertanyaan inilah yang coba dijawab lewat film ini. Ternyata kelakuan mereka tidak sesederhana menunggu kita pulang untuk diberi makan.

Tokoh sentral dalam film ini, Max (Louis C.K), adalah seekor anjing Jack Russell terrier milik Katie (Ellie Kemper). Awalnya, Max hidup berbahagia berdua bersama Katie hingga pemiliknya tersebut mengadopsi seekor anjing mongrel bernama Duke (Eric Stonestreet). Seperti anjing mana pun, Max memberi penolakan atas kehadiran Duke di rumahnya, takut kasih sayang Katie berkurang. Hingga suatu kejadian menimpa mereka menyebabkan mereka terlempar ke jalanan dan berusaha mencari jalan pulang kembali ke rumah Katie.

Teman-teman Max yang terdiri dari berbagai spesies binatang membantu mencari Max dan Duke dan berusaha mengajak mereka pulang. Namun, perjalanan mereka tidak mudah karena Max dan Duke berurusan dengan kelinci adorable tapi galak, Snowball (Kevin Hart). Snowball adalah pemimpin kelompok gerakan Flushed Pets berisi berbagai binatang yang punya fokus tujuan membalas dendam pada manusia-manusia yang mencampakkan mereka. Meski penampilannya imut, dia ternyata adalah pemimpin garang dengan Napoleon complex.

“The Secret Life of Pets” adalah sebuah kisah petualangan dengan formula film yang kita semua familier dengannya: “Toy Story”. Yap, kisahnya sangat mirip dengan Woody, Buzz Lightyear dan kawan-kawan itu; tentang petualangan dari tokoh yang sebelumnya kita anggap tidak mempunyai cerita menarik di balik ‘kebisuan’ mereka. Bedanya, film ini kurang teratur dalam penceritaannya, kalau tidak bisa dibilang berantakan.

Hal esensial yang jadi motivasi Max dan Duke kembali ke Katie malah luput tersampaikan karena tidak dielaborasi dengan pantas. Keintiman binatang peliharaan dan pemiliknya tersebut terasa hambar, jauh berbeda dari Andy dan Woody yang punya jalan cerita hampir sama.

Malah, ketika fokus cerita sedang asyik menceritakan perjalanan pulang mereka – yang merupakan ide pokok film ini – dengan tiba-tiba pusat ceritanya beralih ke kisah masa lalu Duke yang belum terselesaikan dan tidak jua selesai ketika dipilih untuk ditampilkan. Keputusan untuk menampilkan cerita elementer Duke tersebut sangat disayangkan karena ritme penceritaan yang sudah dibangun sejak awal malah terganggu dan antiklimaks.

3092486-the-secret-life-of-pets-bunnyDari segi karakter, Max yang seharusnya jadi pemeran utama yang lovable atau setidaknya mengundang simpati penonton baik dari sisi negatif atau positifnya malah kelihatan kurang bersinar dibandingkan si kelinci Snowball. Karakterisasi tokoh dan talenta Kevin Hart sebagai komedian memberi napas yang layak untuk menjadikan Snowball tokoh infamous dalam film ini.

Pemberian judul dan fokus penceritaan yang seharusnya lebih luas mengingat ini adalah tentang pets tidak bisa dipertanggungjawabkan karena lampu sorot hanya didominasi oleh anjing. Benar, dog is man’s best friend, tapi seharusnya binatang lain juga mendapat porsi yang sama pentingnya dalam film dengan judul pluralisme spesies ini.

Lelucon yang ditawarkan juga garing dan kekanak-kanakan. Memang, dari departemen pengembangan cerita, Illumination masih belum bisa mengalahkan Disney atau Pixar yang tampil dengan gemilang dengan cerita kompleks yang dikemas playful, macam “Inside Out” atau “Finding Dory”. Cerita dalam film-film mereka, termasuk “The Secret Life of Pets” bisa disebut lelucon dangkal yang hanya ditujukan untuk menggelitik dan memicu tawa, tapi bukan untuk dikenang.

Namun, film ini tidak sepenuhnya buruk. Dari segi visual, desain karakter “The Secret Life of Pets” cukup kuat dan memuaskan mata. Keakuratan tokohnya yang mengambil inspirasi dari spesies asli cukup tinggi. Penonton akan dengan mudah jatuh cinta dengan keimutan binatang-binatang lucu bermata besarnya.

Secara keseluruhan, dengan premis mirip, film ini secara terang-terangan menantang “Toy Story” untuk menjadi animasi yang lucu – dengan konten tokoh-tokoh yang “tidak punya suara” dalam kehidupan sehari-hari – dan mengandung pesan kuat layak kenang namun sayangnya kalah telak karena eksekusinya yang kurang matang dan judul yang jadi malah blunder. Mungkin film ini lebih cocok diberi judul “The Secret Life of Dogs (and Friends)”. 😀

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 783 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Suicide Squad” (2016)

Close