Ulasan “Suicide Squad” (2016)

Butuh waktu lama untuk menulis ulasan “Suicide Squad” ini walau kami sudah menontonnya sejak 5 Agustus lalu. Ya, pada awalnya kami sangat antusias menonton film ini. Ada ekspektasi besar setelah promosi film ini mulai digembar-gemborkan beberapa bulan lalu tapi rasa malas merasuki setelah menontonnya.

Didukung trailer dengan soundtrack berkelas seperti “I Started a Joke” dari ConfidentialMX feat. Becky Hanson, “You Don’t Own Me” Grace feat. G-Eazy, “Heathens“ twenty one pilots, dan “Bohemian Rhapsody” yang legendaris, “Suicide Squad” menjanjikan sebuah film yang kelihatannya dapat membayar lunas kegagalan “Batman v Superman”.

Ditambah, ansambel karakter supervillain, taglineWorst. Heroes. Ever” dan warna neon punk yang ceria dan jauh dari kesan gelap Batman, film ini benar-benar bikin mati penasaran.

Apa lacur, ketika hari itu tiba ternyata “Suicide Squad” jauh dari harapan. Akibatnya, kami ogah-ogahan mengulas kesia-siaan 2 jam 10 menit ini. 😀

Kisahnya berpusat pada Amanda Waller (Viola Davis) yang membentuk kumpulan pahlawan dari penjahat yang nantinya akan menjadi penyelamat dunia dari ancaman dahsyat pascakematian Superman.

suicidePenjahat-penjahat yang dikumpulkan antara lain; Deadshot (Will Smith), Harley Quinn (Margot Robbie), Captain Boomerang (Jai Courtney), El Diablo (Jay Hernandez), Killer Croc (Adewale Akinnuoye-Agbaje), Slipknot (Adam Beach).

Baru dibentuk, tim ini langsung mendapatkan pekerjaan pertamanya ketika ilmuwan June Moone (Cara Delevingne) yang dirasuki arwah kuno Enchantress memberontak dan mengancam menguasai dunia. Cerita berlanjut dengan aksi penyelamatan Bumi dari kuasa ilmu hitam Enchantress.

Pada seperempat awal durasinya, film ini menceritakan latar belakang para tokohnya. Cukup menarik dan terstruktur. Namun, ketika cerita sudah menyentuh inti, sutradara David Ayer bermasalah dengan fokus cerita akibat terlalu banyaknya tokoh yang dimunculkan bersamaan. Karakter yang mendapat eksplorasi dan perlakuan layak hanyalah Harley Quinn dan Deadshot.

Kelemahan terbesar “Suicide Squad” bukan terletak dalam cast-nya melainkan pada soliditas ceritanya. Plot hole di sana-sini muncul mungkin karena ketidakmatangan skrip atau eksekusi yang terburu-buru. Tokoh Slipknot, contohnya, yang jadi sia-sia hanya demi membuktikan bahwa ancaman Rick Flag (Joel Kinnaman), komandan dalam operasi tersebut, tidak main-main.

Kecacatan latar belakang juga jadi soal dalam film ini. Anggota Navy SEAL, Letnan GQ Edwards (Scott Eastwood), yang memasang bom di bawah tempat Diablo, monster saudara Enchantress berada, tampak menjadi pahlawan karena berkorban meledakkan bom yang sedemikian besar dengan dirinya masih berada di dekatnya. Padahal, sebelumnya tidak diceritakan tentang betapa heroiknya karakter tersebut. Dia hanya seorang prajurit biasa yang hanya mengikuti perintah komandannya. Tapi kenapa di ujung dia memilih jadi martir? Atau apakah sedemikian bodohnya seorang Navy SEAL untuk memperhitungkan jarak aman sebuah ledakan sehingga dia jadi collateral damage dalam operasi itu? Pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab David dan logikanya.

Tokoh Joker (Jared Leto) yang banyak ditunggu-tunggu setelah dia menang Oscar dan pascakematian Joker legendaris Heath Ledger ternyata tidak terlalu memuaskan. Joker di sini hanyalah pelengkap, bukan villain murni yang level kejahatannya sakit jiwa. Kehadirannya hanya sedikit “mengganggu kelancaran” operasi bertujuan mulia tersebut. Jauh dari kata villain.

Satu-satunya yang menjadikan film ini layak tonton adalah kekasih Joker Harley Quinn. Margot Robbie tampil memukau. Karakteristiknya sangat menarik; kenes, drama, gila, sombong dan paling penting: cantik! Jika Warner mempertimbangkan film solo karakternya, Harley Quinn bisa jadi pilihan yang prospektif mengingat kesuksesan Margot dalam memikat lewat film ini.

Oh, satu lagi yang membuat film ini layak kenang, selain keburukannya tentu, adalah selera musik David Ayer yang bagus dalam memilih soundtrack.

Kehadiran Batman (Ben Affleck) juga tidak membantu banyak dalam film ini. Dia hanya berfungsi sebagai penghubung film ini dengan “Justice League” yang sebentar lagi akan mengekor tayang di bioskop.

Secara keseluruhan “Suicide Squad” adalah bukti bahwa kedigdayaan film DC Comics berhenti di “Batman” versi Christian Bale. Dan untuk menggantungkan harapan besar pada “Justice League” dan “Wonder Woman” yang akan menyusul nanti rasanya agak sulit.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 383 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
LWG Menyasar Peluang Industri Kecantikan dan Kesehatan di Indonesia

Close