Ulasan “Jason Bourne” (2016)

Installment kelima film tentang mantan agen CIA yang mengincar institusi tempatnya bekerja dulu demi mencari jati dirinya ini hanya diberi judul sederhana “Jason Bourne”. Ya, film ini adalah film kelima franchise Bourne dan menjadi film keempat Matt Damon sebagai pemeran utama. 2012 lalu Jeremy Renner menjadi Aaron Cross sebagai pemeran utama “The Bourne Legacy”.  Disutradarai oleh sutradara berbeda dari tiga film sebelumnya, film ini jadi bulan-bulanan penggemar Bourne karena teknik cerita dan angle kamera yang sudah jadi ciri khas film sebelumnya hilang sama sekali.

Kehadiran Jeremy sebenarnya juga karena Matt ogah kembali berperan sebagai Bourne – yang sudah berjasa besar membesarkan namanya. Tapi ya namanya manusia. Selalu berubah. Akhirnya Matt kembali berperan menjadi Bourne setelah kursi sutradara diduduki Paul Greengrass. Paul adalah sutradara dua film terakhir Bourne “The Bourne Supremacy” dan “The Bourne Ultimatum”. Jadi mungkin Matt lebih nyaman bekerja dengan Paul dibandingkan Tony Gilroy (sutradara “Bourne Legacy).

“Jason Bourne” berkisah tentang mantan agen CIA Nicky Parsons (Julia Stiles) – yang dulu berkolaborasi dengan Bourne – yang mencoba untuk membongkar borok CIA ke publik dengan dukungan seorang whistleblower Christian Dassault (Vinzenz Kiefer). Ketika meretas data-data black ops CIA – termasuk Treadstone dan Blackbriar yang dulu menjadi sumber masalah Bourne, aksi Nicky ketahuan oleh agen cyber CIA Heather Lee (Alicia Vikander). Heather melapor kepada atasannya Robert Dewey (Tommy Lee Jones). Direktur tersebut langsung memerintahkan untuk menangkap Nicky – dan kalau bisa Jason juga karena geram dia pernah membongkar Blackbriar. Dimulailah aksi Jason Bourne melawan entitas keamanan raksasa dunia itu.

Dari presentasi plotnya, Paul tahu benar memainkan tempo untuk menaikkan adrenalin penonton. Cerita dibangun dengan detail dan klimaks. Aksi Jason – meski tidak serumit dan membuat tercengang seperti di film terdahulunya – masih layak dinikmati. Interaksinya dengan karakter-karakter lain terasa menegangkan, utamanya ketika berhadapan dengan seorang aset (sebutan untuk pembunuh profesional yang dipekerjakan CIA untuk mengeliminasi target).

Ceritanya juga dibalut dengan referensi aktual jadi tidak melulu fiksi. Isu pembocoran dokumen Edward Snowden dan WikiLeaks juga disinggung dalam film ini. Dan permintaan CIA kepada Aaron Kalloor (Riz Ahmed) CEO Deep Dream – sebuah media sosial yang diceritakan di film ini – untuk membuka backdoor media sosialnya juga mirip dengan Tim Cook dari Apple yang menolak permintaan pemerintah AS untuk membuka backdoor iCloud ketika terjadi penembakan pada Desember 2015 di San Bernardino. Dalam kejadian itu 14 orang tewas dan FBI menemukan iPhone milik pelaku dan ingin mengakses ponsel itu tapi karena proteksinya, FBI meminta Apple untuk membuka backdoor-nya sehingga bisa mengakses dengan bebas.

Akting Alicia Vikander sebagai agen yang enigmatik cukup brilian meski tidak sebagus penampilannya di “Ex Machina”. Sedangkan Tommy Lee Jones hanyalah sebuah repetisi dari musuh-musuh Bourne yang sudah-sudah karena ditampilkan dengan sangat stereotipikal sebagai sosok megalomaniac kolot dari institusi yang sudah mapan.

Disutradarai oleh orang yang paling berpengalaman menangani agen CIA ini, “Jason Bourne” langsung tampil sebagai nostalgia film-film Bourne sebelumnya. Ciri khas shaky cam kembali dipakai di sebagian besar adegan. Bagi orang yang tidak biasa mungkin akan menimbulkan sensasi mual saat menontonnya. Matt Damon membuktikan bahwa dirinya tidak hanya bisa tampil memukau dengan cerewet seperti di “The Martian” tapi juga bisa tanpa dialog banyak dan hanya bermodalkan gerakan tubuh yang meyakinkan. Bourne dengan caranya sendiri berdialog lugas dengan gerakan tubuhnya.

"Jason Bourne" (2016)
  • 8/10
    Akting - 8/10
  • 8.5/10
    Cerita - 8.5/10
  • 7/10
    Visual - 7/10
  • 8/10
    Sinematografi - 8/10
7.9/10

Simpulan

Digarap Paul Greengrass, Jason Bourne berada di tangan yang tepat. Aksi penuh adrenalin dibangun dengan sabar dan klimaks meski temponya tidak secepat pendahulunya.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 259 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Ghostbusters” (2016)

Close