Ulasan “Ice Age: Collision Course” (2016)

Kisah prasejarah mamut Manny (Ray Romano) dalam film kelimanya “Ice Age: Collision Course” lagi-lagi berpusat pada kisah tentang akhir dunia. Di film ini, buah cinta Manny dan Ellie (Queen Latifah), Peaches (Keke Palmer), sudah beranjak dewasa sehingga otomatis dia sudah memiliki romansanya sendiri dan akan segera meninggalkan keluarga intinya. Adalah Julian (Adam DeVine), mamut swag yang jadi tambatan hati Peaches dan bersikap tidak memuaskan bagi Manny, yang seperti biasa masih bersikap overprotective dan perfeksionis terhadap masa depan keluarganya.

Kisah di Bumi itu kemudian berubah menjadi katastrofik akibat ulah Scrat si tupai yang mengejar acorn (biji pohon ek) mirip Sisifus. Scrat tidak sengaja mengaktifkan pesawat dan melesat ke luar angkasa. Dia mengubah tatanan tata surya dan menyebabkan hujan meteor yang berpotensi menghancurkan Bumi, tempat Manny, teman-teman, dan keluarganya tinggal. Sisa ceritanya sudah bisa ditebak; petualangan tentang bagaimana binatang-binatang prasejarah tersebut mencegah kiamat.

Kali ini “Ice Age: Collision Course” tampaknya lebih menitikberatkan pada karakter pendukungnya, alih-alih hanya berpusat pada Manny dan keluarganya. Beberapa karakter diberi porsi penampilan yang cukup besar dengan duo possum hiperaktif Crash and Eddie (Seann William Scott and Josh Peck) turut berkontribusi secara signifikan dalam plot dibanding film-film sebelumnya. Lalu, Buck (Simon Pegg) cerpelai bermata satu dengan aksen Inggris-nya yang medok berhasil mencuri spotlight dalam film ini. Sid (John Leguizamo) juga mendapat panggung yang cukup besar dalam film ini dengan kisah asmaranya yang jauh dari indah. Manny, meski masih berkarisma, sudah membosankan untuk dieksplor karakternya. Dia masih digambarkan sebagai seorang ayah yang sangat protektif dan tidak siap dengan perubahan mendadak meski pada akhirnya luluh juga. The same old conservative Manny.

buck ice ageDari segi cerita, “Collision Course” masih mengekor kesuksesan film sebelumnya. Cerita dibangun dengan rapi dengan bridging antaradegan yang halus. Kisah Scrat dan nafsu primordialnya terhadap acorn yang berujung malapetaka adalah tontonan menarik, tapi menyaksikan kebrilianan Buck yang sinting dan bisa dengan taktis memecahkan masalah adalah tontonan spektakuler. Apa lagi yang lebih menarik buat penonton kalau bukan tokoh slengekan yang ternyata genius?

Untuk mendukung keilmiahan ceritanya, “Collision Course” juga menggandeng astrofisikawan Neil deGrasse Tyson guna menjelaskan teori astronomi yang cukup pelik. Neil berperan sebagai Neil deBuck Weasel, tokoh rekaan dalam pikiran Buck, yang dengan ilmiah menjelaskan tentang tabrakan asteroid. Meski tidak setotal “Finding Dory” dalam mengintegrasikan unsur ilmiah biota laut ke dalam animasinya, usaha “Collision Course” dengan menampilkan Neil patut diacungi jempol karena membawa sebuah film animasi ke tingkatan yang tidak bisa disebut sekadar bercanda.

“Ice Age” berhasil jadi franchise yang cukup banyak dan ajaibnya belum membosankan untuk dinikmati. Di “Collision Course” masih banyak leluconnya yang layak ditertawakan. Gimmick-gimmick yang efektif dari beberapa karakternya juga membuat orang selalu menunggu kelanjutan film ini.

Namun, formula plotnya secara keseluruhan cenderung repetitif, mengulang film-film sebelumnya dengan hanya mengubah unsur materi utamanya. Kisah Scrat, misalnya, yang tidak sengaja menghancurkan tatanan dunia akibat ulahnya terlihat seperti deja vu karena formula itu sudah pernah digunakan untuk film pendek “Scrat’s Continental Crack-Up” pada 2010 yang ditujukan untuk teaser “Ice Age: Continental Drift”.

Secara keseluruhan “Ice Age: Collision Course” sama sekali bukan tontonan yang buruk karena didukung dengan cerita yang solid dan animasi kelas wahid, tapi di saat yang sama juga bukan tontonan yang sama sekali segar jika sudah menonton keempat filmnya sebelumnya.

"Ice Age: Collision Course" (2016)
  • 7/10
    Akting - 7/10
  • 6.5/10
    Cerita - 6.5/10
  • 9/10
    Visual - 9/10
  • 8/10
    Sinematografi - 8/10
7.6/10

Simpulan

Didukung animasi kelas wahid tapi ceritanya repetitif. Menghibur bagi penonton baru tapi membosankan bagi penikmat setia sekuel ini.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 220 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Jason Bourne” (2016)

Close