Ulasan “The Shallows” (2016)

Hiu selalu jadi tokoh antagonis di laut. Beberapa film sudah mendokumentasikannya, yang paling terkenal dan sudah jadi cult adalah “Jaws” garapan Steven Spielberg. Kekejaman hiu di film itu masih terngiang hingga kini.

“The Shallows” menawarkan premis yang kurang lebih sama. Hiu masih digambarkan sebagai makhluk agung tak terkalahkan ketika berhadapan dengan manusia. Mereka adalah pembunuh berdarah dingin secara harfiah walaupun hiu great white, tokoh sentral film ini, sebagian berdarah panas karena mereka makhluk endoterm.

Dikisahkan Nancy (Blake Lively) sedang berlibur sendirian di sebuah pantai terpencil untuk berselancar. Seorang mahasiswi kedokteran, Nancy sebenarnya berlibur untuk berdamai dengan kekecewaannya yang tidak bisa mengobati ibunya yang baru meninggal akibat kanker. Pantai terpencil yang dikunjunginya sekarang adalah yang dulu disambangi ibunya untuk berselancar ketika muda. Jadi perjalanannya ini adalah eskapisme retrospektif Nancy untuk mengenang ibunya.

Liburan yang tadinya menyenangkan berubah menjadi mimpi buruk bagi Nancy ketika tiba-tiba dia diserang hiu. Di dekat Nancy memang ada bangkai seekor paus, makanan favorit hiu great white. Hiu yang biasanya berada di laut dalam terpaksa ke dangkalan (shallows) karena daya tarik bangkai paus yang bisa menuntaskan rasa laparnya itu. Jadi bisa dibilang Nancy berada di tempat dan waktu yang salah.

Paha kirinya mengalami luka sobek yang cukup dalam. Hanya berjarak beberapa ratus meter dari bibir pantai, Nancy terpaksa harus berlindung di atas batu karang karena hiu tersebut masih penasaran dan berkeliling di dekat Nancy. Di situlah pertarungan bertahan hidupnya dimulai.

Film bergenre suspense thriller ini mengusung tema survival dari karakter tunggal laiknya “127 Hours” (James Franco), “I Am Legend” (Will Smith) dan “Cast Away” (Tom Hanks). Dengan segala akalnya Nancy berjuang bertahan hidup hingga penolongnya datang.

blake livelyKarakter Nancy dimainkan dengan pas oleh Blake. Meski ada beberapa adegan murahan seperti slow-mo menampilkan bikini dan belahan dada, dia mengimbangi karakter “cantik” itu dengan kecerdasannya sebagai mahasiswi kedokteran yang sebentar lagi drop out. Harus diakui daya tarik film ini terletak pada keseksian Blake Lively, namun akting aktris yang underrated ini juga tidak bisa diremehkan. Bikini shot yang mendominasi film ini bukanlah pendekatan sexist yang hanya mengumbar aurat dan menjadikan perempuan sebagai objek tapi memang berdasarkan logika setting dan cerita.

Seperti karakter Tom Hanks di “Cast Away” yang ditemani bola voli, Nancy juga memiliki teman sembari menunggu pertolongan. Seekor burung camar yang sayapnya mengalami dislokasi sehingga tidak bisa terbang ke mana-mana setia menemani Nancy di atas batu karang. Bahkan Nancy menamai burung camar itu Steven Seagull (plesetan aktor laga Steven Seagal).

Sutradara Jaume Collet-Serra yang dibantu penulis naskah Anthony Jaswinski menawarkan cerita yang cukup solid. Latar belakang Nancy sebagai mahasiswi kedokteran membuat penonton cukup yakin ketika dia melakukan operasi sendiri untuk menjahit lukanya dengan anting atau melakukan perawatan dasar RICE (Rest, Ice, Compression and Elevation) untuk menangani lukanya. Simpati penonton juga berhasil dimainkan dengan tepat lewat duka yang masih menggelayut di pikiran Nancy tentang ibunya dan liburannya yang berubah jadi neraka.

Nancy ditemani Stevan Seagull :)
Nancy ditemani Steven Seagull 🙂

Meski menegangkan dan penuh penderitaan, “The Shallows” tetap mengimbanginya dengan antidot humor, salah satunya ya lewat burung camar Steven Seagull tadi. Gestur burung camar ini entah bagaimana bisa menggemaskan dan terlihat sangat akrab sehingga Nancy bisa lupa sejenak akan masalah besar yang dihadapinya.

Komposisi gambar yang menampilkan laut ditampilkan indah dan agung untuk dikontraskan dengan kekejaman yang berada di dalamnya.

Kombinasi sudut pengambilan gambar dari aerial view untuk memperlihatkan kedigdayaan laut itu sendiri; di atas air untuk menampilkan Nancy berbikini di atas papan selancar dan karang; serta bawah laut untuk mewakili sudut pandang hiu adalah sebuah kesederhanaan teknik yang menghasilkan visual apik.

Meski tergolong film B, film ini tidak menyajikan efek visual berlebihan yang tidak masuk akal, seperti “Sharknado” contohnya. “The Shallows” lebih memilih menyajikan hiunya sebagai sosok misterius yang tidak diumbar gigi-gigi tajamnya. Hiu ditampilkan secara utuh hanya ketika diperlukan. Selebihnya dia hanya ditampilkan dengan sirip dan sekelebat bayangannya yang berenang sehingga efektif menimbulkan rasa waspada dan ketegangan.

Satu-satunya yang patut dipertanyakan dari film ini adalah apakah benar hiu great white adalah makhluk teritorial meski kehadiran bangkai paus – makanan favorit hiu – masih bisa menutupi akurasi fakta tersebut. Jadi ketika Nancy mendekati makanannya ia dianggap sebagai musuh yang harus dieliminasi. Tapi sejauh ini belum ada fakta yang mendukung.

Dari dokumentasi sains, beberapa hiu memang diketahui berebut ketika memakan bangkai paus, bahkan ada yang sampai menggigit dan meninggalkan satu atau dua gigi (ya, gigi hiu gampang copot dan ajaibnya bisa tumbuh lagi dengan cepat) di kepala hiu lain tapi selebihnya tidak ada agresi berlebih dan mereka bisa lanjut makan bareng lagi dengan tenang.

Selain kekurangan tersebut “The Shallows” adalah sebuah tontonan yang menghibur dan menegangkan. Definisi menghibur dalam film menurut gw adalah jika film tersebut bisa membuat penonton berinteraksi dengan pikirannya. Lewat film ini kita diajak untuk memosisikan diri menjadi Nancy yang berada di situasi tersebut. Apa yang kita lakukan jika kita berada di posisinya? Menyerah atau tetap berjuang hingga titik darah penghabisan?

“The Shallows” tidak berusaha tampil pintar dengan memberikan detail-detail yang rumit dan mengeksploitasi kekejaman hiu yang bisa sangat gore untuk ditampilkan dan menjadi favorit penonton. Film ini tetap sederhana dengan plot, karakter dan solusi simpel yang tidak membuat penonton mempertanyakan kemungkinan dan hanya menelan cerita yang tersaji di depan. Hampir semua cerita latar belakangnya masuk akal dan bisa menjawab pertanyaan yang timbul di sekuens berikutnya.

“The Shallows” sejauh ini adalah film tentang kekejaman hiu yang layak tonton dan, siapa tahu, berpotensi melumat “Jaws” sebagai cult berikutnya.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 339 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
“The Intervention” Rilis Trailer Drama Menjanjikan

Close