Ulasan “Legend of Tarzan” (2016)

Ketika pertama kali memperkenalkan tokoh fiksi Tarzan kepada dunia pada 1912,  Edgar Rice Burroughs pasti tidak akan menyangka tokoh karangannya masih abadi hingga sekarang. Kombinasi tokoh bangsawan, terdampar di hutan, dibesarkan primata hingga punya kekasih cantik terbukti ringan dan efektif untuk selalu dikenang hingga beberapa generasi.

Mulai dari komik, pementasan drama, game hingga film porno terinspirasi dari penguasa hutan ini. Bahkan di beberapa negara punya tokoh serapan Tarzan-nya sendiri. Di Indonesia, komedian legendaris Benyamin Sueb pernah memfilmkan cerita ini dengan judul “Tarzan Kota” (1974).

Kali ini Tarzan digarap oleh sutradara saga “Harry Potter”, David Yates. Ia menjahit “The Legend of Tarzan” dengan kisah referensi sejarah asli tentang Raja Leopold II Belgia (1835-1909), yang membantai jutaan warga Kongo.

Ini bisa dibilang pendekatan baru jika dibandingkan film-film sebelumnya yang hanya bercerita tentang kehidupan primitif Tarzan dari hutan ke kota.

Titik awal penceritaannya pun juga inovatif. Dikisahkan Tarzan (Alexander Skarsgård) kini sudah berubah nama jadi John Clayton III atau Lord Greystroke dan tidak lagi tinggal di hutan tapi di sebuah istana di tempat asal orangtuanya dulu. Namun, perbudakan di Kongo memaksanya kembali ke tempat asalnya. Dia diundang ke sana oleh Leopold, yang ternyata hanya jebakan.

Menceritakan dari pertengahan kehidupan Tarzan tak lantas membuat alur cerita berantakan. David bersama penulis naskah Craig Brewer menawarkan cerita yang cukup rapi dengan menampilkan latar belakang Tarzan dengan alur maju-mundur. Mulai dari orang tuanya yang terdampar di hutan Kongo hingga pertemuan Tarzan dengan Jane, plotnya dibangun dengan sabar dan klimaks, meski kompleks tapi mudah dicerna penonton.

tarzanPenampilan fisik Alexander cukup pas untuk memainkan karakter pria yang sedari kecil dibesarkan di hutan. Aksinya dalam berayun dari pohon ke pohon, meski digantikan oleh stuntman, lebih lentur dibandingkan film-film sebelumnya. Hanya saja, dari segi karakter tidak ada yang menarik dari akting Alexander.

Sementara tokoh antagonis, tangan kanan Leopold, Captain Léon Rom diperankan Christoph Waltz. Menjadi villain bukanlah hal baru bagi Christoph. Namun, sayangnya dalam film ini Christoph tidak bisa lepas dari karakterisasinya di “Spectre”. Meyakinkan, cuma tidak distingtif. Karakternya di film ini lebih seperti rutinitas untuknya.

Sementara karakter Samuel Jackson diangkat dari pahlawan sejarah George Washington Williams, yang masuk dalam buku Adam Hochschild berjudul “King Leopold’s Ghost: A Story of Greed, Terror and Heroism in Colonial Africa.”

Menurut Hochschild, Williams adalah orang pertama yang blak-blakan dan terus menuntut agar kejahatan Leopold mendapat perhatian khusus. Karakter inilah yang meniupkan napas kehidupan dalam film ini. Dia menjadi penyeimbang karakter Tarzan yang tertutup dengan karakternya yang blak-blakan dan witty. Tidak bisa dipungkiri Samuel masih tetap jadi aktor yang paling menonjol di film ini meski ia bukan pemeran utama.

Sedangkan Margot Robbie meski ditampilkan berbeda dari Jane yang sudah-sudah; tidak centil, manja dan aristokrat – kurang tereksplorasi karena berpasangan dengan Alexander yang kaku.

Sebelumnya penonton disajikan “The Jungle Book” yang mengusung tema hampir sama dengan “Tarzan”, jadi otomatis kedua film ini akan dibandingkan satu sama lain. “Tarzan” jelas kalah telak jika dibandingkan dari segi CGI. CGI gorila dan binatang lain di film ini tidak sehalus “The Jungle Book” yang sangat realistis dan high definition.

Film ini juga menjadi bukti jelas bahwa ada yang perlu dibenahi dari lembaga sensor Indonesia. Adegan vulgar dipotong tanpa memedulikan estetika dan menghargai kerja keras pembuat film. Penyensoran dilakukan dengan paksa, akibatnya backsound dan gambar patah sangat kasar laiknya film gratisan di stasiun TV swasta.

Jika tidak mau melakukan penyuntingan yang jelas membutuhkan usaha lebih dari sekadar memotong frame, mungkin ada baiknya kebijakan penjualan tiket yang dipertegas sesuai umur penonton dengan pertimbangan rating film, alih-alih mengorbankan keutuhan film dan mengebiri hak penonton untuk mendapat tontonan yang layak.

Pada akhirnya, film tentang raja rimba ini memang entah kenapa tidak ada yang mampu melekat di pikiran penikmatnya untuk waktu yang lama, tidak terkecuali “Legend of Tarzan” ini. Ceritanya murni hanya bisa dinikmati sebagai film aksi petualangan semata tanpa ada unsur yang layak dikenang setelah menontonnya. Jika tidak mempersoalkan akting beberapa karakter yang datar dan penyensoran yang kelewat batas, film ini cukup menyenangkan untuk ditonton.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 318 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ini Trailer Pertama “Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss”

Close