Ulasan “Ghostbusters” (2016)

Reboot dari film legendaris kayaknya emang lagi hype di Hollywood, kayak film “Ghostbusters” yang baru saja release beberapa pekan lalu. Film pemburu hantu ini bukan merupakan sekuel apalagi prekuel dari film yang pertama kali tayang pada 1984 tersebut. Film ini sepenuhnya baru dengan jalan cerita dan premis yang masih lama.

Penampilan Bill Muray sendiri sebenarnya cukup mengecoh, pasti banyak yang berpikir bahwa film ini adalah lanjutan dan menganggap para perempuan penangkap hantu tersebut adalah anak atau keponakan dari para pemeran di film aslinya. Namun, ternyata tidak. Perombakan jajaran cast-nya menjadi perempuan adalah untuk menghasilkan film yang lebih segar dari versi aslinya. Meski tidak dijelaskan kenapa.

Semua cast lama turut hadir meski cuma jadi cameo, kecuali Bill Muray yang diberi porsi tampil agak besar di sini. Di film ini dia hadir sebagai seorang “ahli” yang bertugas membongkar kebohongan dalam acara-acara televisi yang terkenal.

Diawali dengan cerita dua sahabat Dr. Erin Gilbert (Kristen Wiig) dan Abby Yates (Melissa McCarthy) yang kembali bertemu setelah Erin menjauhi Abby dan dunia supranatural yang sebelumnya mereka percayai untuk kembali ke realitas. Erin memilih dunia ilmiah dengan menjadi fisikawan, sedangkan Abby tetap memegang teguh keyakinannya dan memilih melakukan penelitian di bidang hantu-hantuan ini.

Namun, pada akhirnya kedua sahabat ini kembali dipertemukan saat muncul banyak hantu di New York. Berbekal dengan peralatan yang dibuat Dr. Jillian Holtzmann (Kate McKinnon) mereka bertiga mulai membentuk sebuah grup pembasmi hantu dengan tujuan, selain membasmi hantu tentunya, juga membuktikan kepada dunia yang pernah menertawakan mereka bahwa hantu itu memang benar ada dan nyata.

Film aslinya yang tayang pada 1984 sendiri menjadi salah satu komedi horor tersukses yang meraup untung besar. Film ini terasa sangat orisinal dengan jalan cerita yang seolah seperti kehidupan sehari-hari, dengan karakter dan lelucon yang nggak akan dilupakan sepanjang masa. Tetap nempel. Sayangnya tidak demikian dengan film reboot ini.

Film ini menghormati versi awal filmnya dengan berbagai properti dan karakter yang tetap dipertahankan semirip mungkin. Namun, tidak berarti film ini berhasil mengulang rekam kesuksesan film awalnya dengan mudah.

Bahkan rasanya cuma Abby dan Holtzmann yang bekerja keras untuk ngebodor dan mengocok perut penontonnya sementara Erin dan bayak pemeran pendukung lainnya; wali kota, jubir wali kota, dua agen pemerintah dan si pemeran antagonis yang banyak melakukan adegan lucu tampil dengan canggung dan setengah-setengah.

proton-packsSelain itu tokoh Patty Tolan (Leslie Jones), tanpa banyak dialog dan peranan yang menonjol, hanya terlihat sebagai pelengkap saja. Perannya terasa kurang berarti selain hanya untuk menyediakan kendaraan buat geng ibu-ibu pembasmi hantu ini. Padahal film aslinya menitikberatkan pada empat orang yang siap sedia menyelamatkan kota dari serbuan hantu.

Satu-satunya dialog utama Patty dalam film ini yang masih tertempel di pikiran penonton setelah keluar bioskop hanyalah saat dia terjatuh karena tidak ada orang yang mau mengangkat tubuhnya saat dia berada di sebuah konser rock untuk menangkap hantu.

Dari semua hal yang disebutin di atas, tokoh Chris Hemsworth yang berperan jadi Kevin Beckman, seorang pegawai front desk bodoh yang lugu, yang paling menghibur, jika tidak bisa dibilang membosankan. Akting Thor sebagai seorang laki-laki ganteng dengan otak kurang segram memang bagus karena dia bisa benar-benar menggambarkan seseorang yang bodoh maksimal.

Sayangnya perannya ini nantinya tidak lebih hanya bertujuan untuk jadi boneka yang dirasuki tokoh antagonis Rowan North (Neil Casey) ini atau mungkin memang dia hanya ditampilkan untuk daya tarik penjualan film ini.

Sejak trailer-nya dirilis, film ini sudah menuai banyak komentar miring dari yang berbau diskriminasi gender, membandingkan dengan film aslinya, dinilai merusak film “bersejarah” sampai yang murni menilai film ini nggak bagus dan yang lainnya.

Namun, apa pun itu semua karya harus tetap dihargai selayaknya, apalagi kalau bisa menghibur dan membuat perut kram walaupun dengan lelucon jayus yang maksa. Film ini masih layak tonton untuk mengisi waktu luang di akhir pekan.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 262 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Pokemon Akan Jadi Film Live Action!

Close