Ulasan “Now You See Me: The Second Act” (2016)

Penampilan The Four Horesemen; J. Daniel “Danny” Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt Meckinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco)  dan Lula May (Lizzy Caplan) sebagai penanda kebangkitan kembali kelompok pesulap berbakat ini dimaksudkan untuk menggagalkan peluncuran sebuah produk telepon pintar yang ternyata hanya sebuah kedok perdagangan informasi pribadi penggunanya, digagalkan oleh seseorang atau kelompok yang rupanya bisa membaca setiap gerakan mereka.

Now-You-See-Me-2-PosterSeolah dibalas dan tak berdaya kini The For Horsemen terdampar di Tiongkok dan diharuskan mencuri sebuah harddrive yang berisi peranti lunak yang dapat memanipulasi dan mengendalikan semua data digital yang ada di dunia. Itulah premis yang diberikan sekuel film “Now You See Me” garapan Louis Leterrier pada 2013 silam.

“Now You See Me: The Second Act”  dimulai dengan narasi “suara Tuhan” milik Thedeus Bradley (Morgan Freeman) dan sedikit kilasan masa lalu Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) kecil bersama ayahnya Lionel Shrike (Richard Laing) saat akan melakukan trik sulapnya yang sayangnya justru memakan nyawanya sendiri.

Film ini menampilkan konflik yang cukup banyak. Jika di film pertama konflik yang terjadi mungkin hanya antara Rhodes yang ingin membalas dendam atas kematian ayahnya, di film kedua ini permasalahan juga hadir pada diri The Four Horsemen.

Diceritakan Atlas yang merasa superior sudah lelah dan tidak sabar untuk melakukan comeback di depan banyak masyarakat luas dan kembali dipuja. Kesombongannya karena merasa hebat membuatnya merasa bisa bergerak sendiri tanpa bantuan Rhodes. Namun, pada akhirnya sikap ini akan menjadi bumerang bagi dia dan ketiga kawannya.

Sementara itu masalah lain juga hadir dengan munculnya Lula May untuk menggantikan Henley Reeves yang entah ke mana karena tidak diceritakan dalam film. Sikap Lula yang sangat bawel dan ceria, naif sekaligus sangat mengagumi Wilder menjadi sedikit gangguan untuk Atlas.

Selain itu diceritakan juga Rhodes yang awalnya adalah agen FBI andal kini seolah menjadi ceroboh dan payah setelah berhasil “membalas dendam” pada Bradley. Akibatnya dia gagal memperhitungkan banyak hal dan membuatnya hampir mati dengan cara seperti ayahnya.

Film ini menampilkan beberapa tokoh sentral baru seperti Walter Mabry (Daniel Radcliffe) sebagai anak gelap Tressler, dan Chase McKinney (Woody Harrelson). Ya, kalian nggak salah baca nama pemeran kok. Harrelson akan memerankan tokoh ganda sebagai kembarannya yang keriting, licik, menyebal dan sotoy, Chase McKinney.

Bagi para pecinta sulap, kalian akan sangat dimanjakan dengan trik-trik sulap yang langsung dikonsultasikan dengan ilusionis kelas dunia David Copperfield. Kalian akan dibuat sangat sibuk dengan jalan cerita saat trik sulap dibongkar dan dipreteli satu demi satu sehingga sedikit saja memalingkan mata maka kalian akan kehilangan satu detail yang terakhir.

Selain trik sulap dan ilusi kita juga akan dihibur dengan sikap Chase dan Merritt sebagai saudara kembar yang tidak akur. Bagaimana tidak awalnya Chase menipu Merritt dengan membawa lari semua uangnya dan kini dia bekerja dengan pihak yang berlawanan dengan dirinya. Hmm.

Penampilan Daniel Radcliffe sebagai genius yang menyebalkan dan sedikit gila juga patut mendapat acungan jempol. Alumnus sekolah sihir Hogwarts ini mampu membawakan perannya dengan sangat apik. Dibuktikan dengan beberapa penonton yang jadi sebal sama tokoh Mabry.

Sayangnya kesempurnaan itu memang hanya milik Tuhan semata. Yaiyalaaah.

Mungkin berganti sutradara membuat film ini mengalami perubahan gaya cerita. Nampaknya Jon M. Chu kurang peduli dengan detail, selain detail trik sulap dan ilusinya tentu saja. Contohnya kalau kalian mau sedikit repot untuk menonton ulang film pertamanya, di bagian epilog kalian akan menemukan Rhodes dan ayahnya, Shrike, saat akan melakukan pertunjukan sulap yang akhirnya membuat nyawanya melayang.

Visualisasi adegan itu kembali muncul di film kedua. Sayangnya kedua adegan tersebut diejawantahkan dengan cara yang berbeda. Hal itu membuat orang-orang yang teliti akan sedikit bingung awalnya, “Apa film ini bercerita tentang Rhodes dan Lionel Shrike yang sama?”. Soalnya tokohnya dan adegannya beda banget.

Selain itu Jon M. Chu juga seolah tidak peduli dengan ke mana perginya Henley Reeves sehingga Lula May harus menggantikannya sebagai personel The Four Horsemen. Seperti yang kita tahu, saat proses pengambilan gambar, Isla Fisher yang berperan sebagai Henley Reeves sedang hamil sehingga tidak mungkin dia ambil bagian dalam sekuel ini. Namun alangkah baiknya kalau setidaknya diberikan sedikit porsi detail agar penonton tahu ke mana Reeves pergi.

Hanya saja, absennya hal-hal di atas mungkin sedikit terobati dengan printilan lain yang ditampilkan Chu, yaitu hadirnya Li (Jay Chow) sebagai salah satu anggota “The Eye” dengan aktingnya yang sangat bagus sebagai penyeimbang film. Sebenarnya penampilan Jay Chow si aktor multitalenta ini punya dua fungsi, sebagai katalis dan sebagai cara agar film ini bisa masuk pasar Tiongkok, tapi toh penampilan Jay Chow di sini cukup menyegarkan kok. Pintar!

Secara keseluruhan film ini menghibur, kalau disuruh kasih nilai  mungkin sekitar 7,5-8 poin dari total 10 angka. Asal nontonnya nggak sambal heri (heboh sendiri), mainan hape dan ngobrol sendiri, kalian akan sangat menikmati ilusi dan trik ruwet yang bikin penasaran.

Nah untuk yang nganggur selama weekend ini nggak rugi loh nonton, itung-itung sambil ngabuburit. Selamat menonton.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 176 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Adele dan Musisi Lain yang Memarahi Penggemar di Konsernya

Close