Ulasan “Finding Dory” (2016)

Tiga belas tahun berlalu, Disney akhirnya meluncurkan sekuel, atau lebih tepat disebut spin-off dari “Finding Nemo” yang berjudul “Finding Dory”. Pengisi suara Dory, yang jadi karakter sentral di film ini masih sama seperti film pertamanya, yaitu pembawa acara humoris Ellen DeGeneres.

Kisahnya berpusat pada Dory dan masalah personalnya yang pelik. Sekadar pengingat, Dory adalah tokoh ikan jenis blue tang pelupa yang dulu membantu ikan badut Marlin yang mencari anaknya Nemo.

Meski dibuat 13 tahun setelah “Nemo”, setting waktu “Dory” hanya berjarak setahun setelah penemuan Nemo tersebut. Dory kini tinggal bersama Marlin (Albert Brooks) dan Nemo (Hayden Rolence).

Alkisah Dory yang sudah hidup damai bersama Nemo dan ayahnya, mengantar Nemo untuk ikut karyawisata bersama teman-temannya. Kemudian acara tersebut menyebabkan beberapa memori Dory terhadap masa kecilnya tergugah. Dory yang mengidap penyakit langka lupa ingatan atau biasa dikenal dengan short-term memory loss teringat akan orangtuanya yang hilang semasa dia kecil dulu.

Di situlah petualangan dimulai. Dia mulai mengarungi lautan untuk mencari orangtuanya yang hilang. Terdengar sama seperti cerita Nemo dulu? Memang film ini mengusung premis yang tidak terlalu baru. Hanya karakternya saja yang ditukar. Namun, bukan berarti film ini jadi sebuah kesia-siaan 200 juta dolar. Dibuat dengan anggaran dua kali lipat film sebelumnya, “Dory” adalah sajian sinematik pemanja mata yang di dalamnya mengajarkan pesan moral subtil yang tidak menggurui.

Karakter-karakter di “Nemo” dan “Dory” mengajarkan kita tentang bagaimana seekor ikan (mungkin dianalogikan sebagai manusia) bisa tetap berfungsi di masyarakat meski anggota tubuhnya tidak sempurna; Nemo memiliki satu sirip yang lebih kecil dari ukuran lazimnya; Dory bermasalah dengan ingatannya; Hank (Ed O’Neill) si gurita, alih-alih disebut octopus disebut septopus karena tentakelnya hanya berjumlah tujuh; Becky si burung loon jelek, serampangan, dan quirky ternyata dapat diandalkan untuk membantu Marlin dan Nemo; dan mungkin beberapa karakter lain yang dijadikan simbol untuk mewakili kelebihan dalam kekurangan ditampilkan oleh Disney terjalin rapi dalam plot yang tidak memaksa.

Dari segi penokohan, pengisi suara di film ini bertabur bintang dan karakterisasinya juga menonjol. Dory kecil yang diisi suaranya oleh Sloane Murray akan membuat meleleh siapa saja yang menontonnya. Rasanya tidak tega melihat anak ikan seimut itu harus menanggung beban penyakit langka yang menyebalkan. Duo anjing laut Fluke (Idris Elba) dan Rudder (Dominic West ) juga mencuri perhatian di film ini. Mereka sebelumnya sudah berduet di serial “The Wire”, jadi chemistry keduanya tidak perlu diragukan lagi, ditambah aksen Inggris yang kental Idris yang memukau. Sementara Hank si gurita juga memiliki peran penting di film ini. Kekonyolan, arogansi serta kebaikannya jadi kombinasi ciamik untuk membuatnya jadi tokoh idola. Hiu paus Destiny (Kaitlin Olson) dan paus beluga Bailey (Ty Burrell) juga layak disebut scene stealer berkat perangainya yang ceria dan konyol.

636017737514796866-finding-dory-k225-34cs.sel16.cmyk.122Sementara dari segi visual dan akurasi, Pixar terkenal dengan detailnya, jadi jelas hal ini bukan area yang patut dipertentangkan lagi. Untuk Nemo saja krunya diharuskan mengambil kursus ilmu kelautan. Baca alasan di sini selengkapnya. Jadi, untuk selang waktu 13 tahun, tim tersebut sudah jauh lebih memahami kehidupan laut.

Didukung dengan teknologi canggih dan mahal, dan tentu saja bujet besar, sekuens laut “Dory” luar biasa realistis. Gerakan air dan refleksinya serta goyangan rumput laut yang bergerak dengan arah berbeda karena arus laut yang tak kasatmata sampai diperhatikan dengan detail oleh sutradara Andrew Stanton.

Memang, dari segi cerita “Dory” bukanlah film spesial jika dibandingkan dengan “Nemo”. Masih ada adegan mengharukan namun tak lebih dari sekadar pengulangan formula Nemo. Visualnya tentu jauh lebih baik daripada “Nemo”, namun justru yang paling impresif adalah pesan yang ingin disampaikan lewat desain dan persoalan hidup karakternya. “Dory” mengajarkan tentang bagaimana memaksimalkan hidup terlepas dari kekurangan fisik dan lainnya. Dan tentang bagaimana menerima kekurangan tersebut dengan berusaha untuk tidak mengeluhkannya.

Ada satu adegan yang cukup menohok untuk mengingatkan kita untuk bersyukur atas apa yang kita miliki. Hank dan Dory sedang mengobrol tentang masalah lupa ingatan Dory. Namun, Hank yang banyak masalah malah ‘iri’ pada kekurangan Dory, yang membuat Dory kesusahan seumur hidup.

“No memory, no problems.”

–Hank

Disney bisa dibilang selalu gagal membuat sekuel. Sebut saja “Cars 2” dan “Monster University” yang malah merusak kedigdayaan film pertamanya. Disney hanya berhasil membuat sekuel yang tidak merusak film pertamanya lewat “Toy Story”, dan “Dory” masuk dalam level yang sama dengan “Toy Story”.

“Finding Dory” juga ditayangkan dengan pilihan sulih suara dengan judul “Mencari Dory”. Pengisi suaranya antara lain Syahrini yang meminjamkan suaranya untuk Destiny dan Raffi Ahmad untuk Bailey. Kabarnya suara mereka juga sangat pas memerankan karakter tersebut. Sayangnya, untuk versi sulih suara hanya tersedia di bioskop-bioskop tertentu. Silakan hunting di bioskop-bioskop yang menayangkannya, versi sulih suara ini cocok untuk dinikmati bersama anak-anak.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 1,468 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
PathDaily: Posting Status Gaya Baru

Close