Ulasan “X-Men: Apocalypse” (2016)

Mutan pertama di dunia, En Sabah Nur atau Apocalypse (Oscar Issac), berhibernasi selama 5.600 tahun dan bangkit pada 1983. Setelah kebangkitannya itu, dia kembali berambisi untuk mewujudkan new order pada dunia masa kini. Dengan orang-orang pada zamannya memanggilnya Ra, Alrahim, dsb, dia menganggap dirinya sendiri menyerupai tuhan. Memang, dalam komiknya, Apocalypse adalah salah satu mutan terkuat. Demi mewujudkan ambisinya tersebut dia meminta bantuan empat pembantu, atau yang dalam kisah Wahyu di Alkitab disebut Four Horsemen of the Apocalypse. Itulah gambaran premis yang diusung installment terbaru superhero mutan “X-Men: Apocalypse”.

Kisah tersebut ber-setting kira-kira 10 tahun setelah “X-Men: Days of Future Past”, ketika Mystique dan kawan-kawan berusaha menyelamatkan presiden dari serangan kelompok mutan lain. Anehnya, “Apocalypse” yang seharusnya kelanjutan kisah “Days of Future Past” malah seperti bercerita mundur ketika menampilkan James McAvoy yang kembali botak di akhir cerita, dan Jean (Sophie Turner) dan Scott (Tye Sheridan) yang bertemu untuk pertama kalinya di sekolah Xavier. Tapi sang sutradara, Bryan Singer, menegaskan bahwa hal tersebut bukan kesalahan karena dia sedang bermain-main dengan waktu.

“The point is time’s immutability. The idea that time is like a river. You can splash it, and mess it up, and throw rocks in it, but it eventually kind of coalesces. And this is, again, theories of quantum physics. It’s all based in quantum physics. So what I’m doing with these in-betweenqueels is playing with time’s immutability and the prequel concept, meaning that: yes, we erased those storylines, and anything can happen.

“That means the audience goes into the movie thinking that anything can happen. I mean anything, anyone could die. Any possibility could occur… but characters are still moving towards their immutable place… Time can always be f*cked with, we’ve now learned that. We’ve now learned that once you alter time, that could be the future.

Bagi para pecinta fiksi ilmiah pasti sudah sangat lazim dengan aturan tokoh yang ‘memodifikasi takdir’ belum tentu mencegah suatu kejadian tersebut terjadi, atau dalam istilah Bryan; diperlakukan sebagaimana pun, sungai tetaplah sungai. Di ranah itulah Bryan mencoba bermain aman sekaligus eksperimental. Meski eksekusinya jadi bumerang bagi penggemar film X-Men yang disajikan sekuel yang tidak urut.

Timeline kompleks ditambah karakter baru Four Horsemen; Psylocke (Olivia Munn) dan Angel (Ben Hardy) yang tampak kurang tereksplor secara maksimal, membuat “Apocalypse” terlalu menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi mahakarya penutup “Days of Future Past” yang rapi. Sedangkan Storm muda yang kali ini diperankan Alexandra Shipp hampir sempurna mengundang simpati dengan karakterisasi dan latar belakang yang cukup menonjol, tapi entah mengapa  tetap terasa ada yang kurang darinya. Michael Fassbender yang masih menjadi Magneto, tampil cukup stabil seperti di installment sebelumnya. Kali ini Bryan Singer bahkan memperkuat karakternya dengan menampilkan istri dan anaknya yang bernasib tragis. Jurus yang ampuh untuk mengundang simpati penonton.

xmenSimpulannya, “X-Men: Apocalypse” kesulitan untuk menyaingi kemegahan dan solidnya cerita yang diusung dua film sebelumnya. Saking inginnya menampilkan karakter yang seabrek dengan plot yang padat, malah membuat karakternya tidak tereksplorasi dengan dalam. Contohnya, jika dibandingkan head to head dengan film sebelumnya, love-hate relationship antara Xavier dan Magneto kali ini terlihat monoton tanpa ada kemesraan seperti dulu lagi.

Namun, jika dinikmati secara terpisah dengan menafikan film-film sebelumnya, film ini cukup menghibur karena menawarkan special effect dua kali lipat lebih eksplosif dibandingkan pendahulunya. Malah yang tak disangka Quiksilver (Evan Peters) – yang banyak dicerca pecinta X-Men karena kostumnya yang buruk – diberi porsi tampil yang cukup efektif untuk menghidupkan cerita dengan tingkah kocaknya.

Catatan: “Days of Future Past” dapat disebut sebagai “pengacau” timeline X-Men secara keseluruhan sekaligus pendobrak penting sejarah X-Men karena premis perjalanan waktu yang diusungnya membuat hampir semua cerita jadi tidak kronologis. Jadi, seperti dikutip dari Techtimes, X-Men dapat dibagi menjadi dua, “Days of Future Past” setelah “The Last Stand” dan setelah “First Class”.

Ingin menonton X-Men dari pertama hingga akhir tapi bingung cara menontonnya? Begini urutan kronologisnya: “X-Men Origins: Wolverine”, “X-Men: First Class”, “X-Men”, “X2”, “X-Men: The Last Stand”, “The Wolverine”, “X-Men: Days of Future Past”.

Sedangkan urutan kronologis kedua adalah; “X-Men Origins: Wolverine”, “X-Men: First Class”, “X-Men: Days of Future Past”, “X-Men: Apocalypse”.

Hal yang patut disoroti juga adalah ada hubungan antara “Deadpool” dan X-Men, mengingat ada Profesor X juga yang ditampilkan dalam film tersebut.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 197 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
“Beauty and the Beast” Diangkat Jadi Film Live Action!

Close