Ulasan “Angry Birds” (2016)

Pelajaran hidup #352: Jangan pernah nonton trailer dari film animasi bergenre komedi!

Sekali saja kamu melihat trailernya maka ketika menonton filmnya, rasanya akan berbeda. Adegan terlucu pun akan terasa garing dan hambar karena kita sudah mengantisipasi lelucon tersebut.

Begitulah kesan saat menonton “Angry Birds”. Tidak jauh berbeda dari “Minions” yang membocorkan hampir semua adegan terlucunya di trailer. Entah kenapa mereka tidak belajar dari kesalahan itu. Memang sih, tidak semua penonton sudah melihat trailernya. Tapi itu bisa jadi film membosankan bagi orang-orang yang katanya pecinta film dan menyia-nyiakan waktunya di depan Youtube menonton berbagai trailer. 😀

Seperti yang hampir semua orang tahu, “Angry Birds” diangkat dari game seluler populer keluaran pengembang game asal Finlandia, Rovio. Karakter-karakternya tentu sudah familier bagi banyak orang. Namun, kita masih belum tahu apa alasan yang membuat burung-burung tersebut jadi pemarah. Nah, lewat film inilah kita akan mendapat jawaban dari pertanyaan tersebut.

Berpusat pada karakter burung merah dengan alis tebal, Red (Jason Sudekis), film ini menawarkan premis klise from zero to hero. Selalu ada outcast dalam sebuah komunitas dan pada akhirnya dialah yang jadi pahlawan. Red dikisahkan berteman dengan Bomb (Danny McBride) dan Chuck (Josh Gad), yang ia temui di kelas manajemen emosi.

Konflik dimulai ketika pulau damai yang mereka huni kedatangan rombongan babi yang licik. Konfliknya mengalir dengan simpel tanpa naik turun yang berarti. Semua adegan mudah dipahami siapa saja. Beberapa sekuens malah dikaitkan dengan referensi pop culture, seperti Daft Punk dan Blake Shelton yang nyanyi lagu country dalam wujud babi.

Jalan cerita yang sederhana tersebut sama sekali bukan masalah besar, mengingat segmentasinya yang menyasar semua umur. Malah film ini, dengan segala simplifikasinya, mengingatkan kita pada pelajaran komposisi atau mengarang di sekolah dulu. Dibuka dengan awalan, dikupas ide pokoknya, untuk kemudian ditutup dengan simpulan dan sedikit menyisipkan awalan tadi. Kesederhanaan yang masih indah untuk dinikmati.

chuckSutradara Clay Kaytis dan Fergal Reilly juga memberi sajian kaya warna yang menciptakan atmosfer ceria di sepanjang film. Beberapa karakter ditampilkan dengan menonjol dalam cerita. Karakter yang paling berperan dalam mengundang tawa adalah Chuck. Pengisi suaranya, Josh Gad, memang sudah punya rekam jejak mengagumkan soal mengisi suara tokoh jenaka. Sebelumnya dia menyuarakan snowman konyol, Olaf, di animasi megasukses “Frozen”. Lalu ada juga Peter Dinklage yang meminjamkan suaranya untuk Mighty Eagle juga cukup tampil garang sekaligus menghibur.

Sayangnya – meski ceria dan menyenangkan – film yang diangkat dari game ini tidak menampilkan pengalaman gameplay yang apik. Permainan “Angry Birds” hanya diterapkan seadanya dalam sekuensnya. Jujur, ada harapan gamenya akan dielaborasi dengan lebih canggih untuk diaplikasikan secara serius dalam film. Masih ingat Angry Birds Space yang digarap Rovio dengan NASA? Tapi apa mau dikata, hanya permainan dan karakter dasar yang ditampilkan dalam film ini.

Simpulannya, “Angry Birds” adalah sebuah film keluarga yang menyenangkan, untuk dinikmati, bukan untuk dinilai dari ceritanya. Hampir semua adegan tereksekusi dengan baik meski ada beberapa dialog yang repetitif dan membosankan. Desain karakternya juga variatif dan adorable.

Jika Rovio menginginkan sekuelnya, tentunya timnya harus bekerja keras memikirkan cerita yang lebih matang, bukan lagi sekadar tentang cerita permusuhan sederhana antara burung dan babi.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 375 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
“Assassin’s Creed” (2016) Rilis Trailer Perdananya!

Close