Ulasan “The Boss” (2016)

Nama Melissa McCarthy sebagai seorang komedian cukup menjanjikan, utamanya berkat kegemilangannya di “Bridesmaids”, “The Heat” dan “Spy”.

Berbekal keyakinan itulah ekspektasi terhadap “The Boss” berada di level yang cukup tinggi. Melissa tidak lagi bekerja bersama Paul Feig – seperti di tiga film suksesnya tersebut. Kali ini dia berkolabarasi bersama suaminya Ben Falcone. Sebelumnya mereka berdua menggarap “Tammy” yang tidak bisa dibilang sesukses film Melissa lainnya. Memang, ada peningkatan dalam segi kualitas namun masih jauh untuk disebut signifikan.

Dikisahkan Michelle Darnell (Melissa McCarthy) berperan sebagai The Boss. Dia tumbuh di panti asuhan dan bernasib sial. Beberapa keluarga yang mengadopsinya mengembalikannya lagi ke panti asuhan karena alasan yang tidak diketahui.

Singkat cerita, dia berubah menjadi seorang pengusaha tersukses dan menyandang status sebagai salah satu orang terkaya di AS. Namun, laiknya pengusaha dia banyak mendapat permusuhan dari kompetitornya dan akhirnya dipenjara karena melakukan insider trading. Dari kisah itulah kita akhirnya tahu alasan kenapa dia dikembalikan oleh beberapa orang tua yang mengadopsinya: Michelle adalah seorang sosiopat yang tidak memedulikan perasaan orang.

Tak hanya masuk penjara, semua hartanya juga disita. Ketika keluar penjara dia menumpang di rumah mantan asistennya, Claire (Kristen Bell), karena tidak ada satu pun mantan rekannya yang mau menerimanya kembali, bahkan mereka yang pernah ditolongnya untuk menjadi pengusaha sukses. Bersama Claire, Michelle akhirnya kemudian membuka usaha brownies yang cukup sukses.

Premis yang ditawarkan film ini terlalu sederhana kalau tidak bisa dibilang setengah matang. Karakter Melissa yang obsesif dan tidak peka secara sosial digambarkan cukup baik oleh Melissa. Namun, rasanya tetap ada yang kurang dari jalan cerita dan penyutradaraannya. Film ini menyia-nyiakan talenta komedi Melissa dengan ceritanya secara keseluruhan.

Lelucon yang ditawarkan dalam naskahnya cukup lucu namun terlalu acak dan tidak semuanya koheren dengan cerita. Slapstick, jurus ampuh Melissa untuk mengocok perut – seperti di “Spy” – tidak terlalu mencolok di sini. Umpatan-umpatan kasar dan celetukan vulgar yang awalnya menarik menjadi menjemukan karena kelewat sering ditampilkan. Akibatnya, esensi ceritanya jadi menguap dalam film yang seharusnya bisa lebih menawan mengingat chemistry natural sutradara dan aktrisnya ini.

Pokok permasalahan dalam film ini terlalu remeh untuk diangkat ke layar lebar. Kehadiran Peter Dinklage sebagai Renault, mantan kekasih sekaligus musuh bebuyutan, juga ditampilkan kurang menggigit. Level benci dan cinta Renault terhadap Michelle masih terkesan abu-abu sehingga membingungkan penonton untuk mengambil sikap. Sebuah hal yang tabu untuk film komedi, karena film seperti ini seharusnya diperuntukkan untuk menghibur bukan mengajak berasumsi.

the_bossNamun, tak disangka kehadiran Kristen Bell justru cukup menghibur. Dia hadir sebagai katalis dari Michelle yang acak-acakan. Pengisi suara Anna di “Frozen” ini juga berperan tak terlalu berlebihan sebagai single mom. Dia mampu mengimbangi pesona Melissa yang cukup besar dengan pembawaannya.

Meski ceritanya buruk “The Boss” setidaknya masih cukup menghibur. Soundtrack yang mengiringinya enak di telinga. Tembang Top 40 dari Foreigner, Nina Simone dan Beck cukup baik dalam merepresentasikan sekuens yang diiringinya.

Pada akhirnya, “The Boss” adalah sebuah bukti nyata bahwa tak selamanya pasangan di dunia nyata bisa menghasilkan sebuah karya kuat dengan pengarahan yang terkomunikasikan dengan baik. Ketika bicara tentang layar lebar, Melissa McCarthy lebih serasi ‘bersuamikan’ Paul Feig dibandingkan Ben Falcone. Mari kita lihat saja buktinya nanti di “Ghostbuster” apakah Melissa dan Paul benar-benar ditakdirkan untuk bersama.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 256 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Surat Cinta untuk Kartini” (2016)

Close