Ulasan “Surat Cinta untuk Kartini” (2016)

Dirilis bersamaan dengan Hari Kartini, “Surat Cinta untuk Kartini” adalah sebuah film fiksi historical period drama berlatar kehidupan pejuang emansipasi wanita indonesia tersebut.

Film ini dibuka dengan setting masa kini berisi adegan Rangga (Chicco Jerikho), seorang guru senior yang membantu guru baru, Dian (Melayu Nicole Hall), dalam mengisahkan sejarah Raden Adjeng Kartini dengan narasi menarik kepada sejumlah siswa SD yang awalnya menolak untuk mendengarkannya karena alasan bosan.

Cerita kemudian bergulir ke masa lampau mengisahkan perjuangan Kartini untuk mendirikan sekolah putri pribumi pertama di Indonesia dari sudut pandang tokoh fiksi Sarwadi (juga diperankan Chicco Jerikho). Sarwadi digambarkan sebagai seorang tukang pos berstatus duda yang memiliki putri bernama Ningrum (Christabelle Grace Marbun).

Takdir kemudian mempertemukan Sarwadi dengan Kartini (Rania Putrisari), kala dia mengantarkan surat untuk putri bupati Jepara tersebut. Pada momen inilah tukang pos dan putri bupati Jepara itu kemudian berkenalan.

Dari perkenalan itu, Sarwadi kemudian mengetahui bahwa Kartini memiliki cita-cita besar untuk membangun sekolah putri pertama di Indonesia guna mengangkat derajat perempuan pribumi. Walaupun saat itu cita-cita Kartini dianggap muluk, aneh serta mendapatkan penolakan keras, dia  tidak menyerah. Sekolah pribumi pertama di Indonesia berhasil diwujudkan berkat kegigihan Kartini dan Sarwadi.

Tanpa mereka sadari, seiring perjalanan waktu cinta tumbuh dalam hati kedua insan manusia tersebut.

Memasukkan Sarwadi ke dalam sebuah film sejarah bisa dibilang tidak faktual, namun itu sah-sah saja dilakukan mengingat ini adalah historical period drama. Film bergenre ini menggunakan tokoh sejarah sebagai inti cerita dengan memasukkan unsur fiksi agar lebih menarik menjadi sajian sinematik. Contoh film terkenal dari genre ini adalah “Braveheart” (1995) yang berkisah tentang ksatria William Wallace yang berjuang untuk kemerdekaan Skotlandia dan dipresentasikan sebagai fiksi yang menarik.

Plot cerita dalam film yang juga dibintangi Donny Damara dan Acha Septriasa ini digambarkan secara mundur-maju, dengan sesekali menampilkan adegan Rangga yang bertugas sebagai narator di masa modern. Namun, kisahnya sendiri terkesan biasa saja kendati terdapat adegan-adegan humoris yang ditampilkan tokoh Mujur (Ence Bagus).

Surat-Cinta-KartiniSedangkan akting para pemainnya juga terlihat tidak ada yang istimewa, kecuali performa Chicco. Akting Chicco dalam menghidupkan tokoh Sarwadi terlihat gemilang. Seperti film-filmnya sebelumnya, dia terlihat sangat menghayati setiap adegan dan dialog, seolah-olah sedang berbicara langsung dengan sosok Kartini.

Hal lainnya yang menarik perhatian dalam film ini adalah fakta dan pesan yang didengungkan “Surat Cinta untuk Kartini”. Walaupun film ini murni fiksi, namun adegan-adegan yang ditampilkan bisa dibilang menguatkan fakta serta rumor seputar kehidupan dan perjuangan Kartini yang selama ini tersaji dalam buku-buku sejarah.

Isu yang paling kentara dalam film itu adalah diskriminasi halus dari Belanda terhadap kalangan pribumi Indonesia, terutama rakyat jelata, walaupun negeri kincir angin tersebut sedang menjalankan politik etis (politik balas budi) di bumi pertiwi.

Sutradara Azhar Kinoi Lubis menunjukkan betapa di balik senyum dan keramahan penjajah yang saat itu terlihat bersahabat terdapat perasaan diskriminasi dan kebencian yang kuat terhadap kalangan pribumi Indonesia baik elite maupun jelata. Ini terlihat kala Kartini dan teman-temannya bermain di pantai yang dipasang papan larangan bertuliskan “Anjing dan Pribumi dilarang masuk area ini” dalam bahasa Belanda. Selain itu, saat gadis-gadis Belanda datang, kalangan pribumi harus langsung mengerti untuk menyingkir dari pantai tersebut kendati mereka tidak pernah diusir secara langsung.

Puncak adegan diskriminasi halus dalam film ini terlihat kala Belanda yang diwakili Abendannon, yang dipanggil “papa” oleh Kartini, meminta putri bupati Jepara tersebut untuk mengubur impiannya guna melanjutkan pendidikan ke Belanda. Tokoh Belanda itu (yang dalam kehidupan nyatanya merupakan Menteri Agama, Kebudayaan dan Kerajinan Hindia Belanda) khawatir kalau Kartini melanjutkan pendidikan tinggi ke Belanda, maka pengaruh putri bupati Jepara tersebut di tengah masyarakat akan hilang dan tidak lagi dihormati kalangan pribumi jelata. Sebuah argumen politis nan culas penjajah untuk mematikan semangat belajar serta membungkam pengaruh putri yang nantinya jadi kebanggan Indonesia itu.

Secara keseluruhan “Surat Cinta untuk Kartini” tidak hanya bisa dianggap sebagai salah satu oase segar dalam dunia perfilman Indonesia, namun juga metode baru dalam menarasikan sejarah nasional. Kendati plot ceritanya biasa-biasa saja, namun performa akting Chicco dalam film ini layak dipuji. Kemunculan film-film historical period drama seperti ini harus diapresiasi sebagai salah satu corak warna perfilman tanah air yang masih terkesan monoton dan mungkin bisa dijadikan rujukan sebagai salah satu metode pendidikan sejarah Indonesia agar tidak membosankan.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Aji Cakti

Movie mania yang demen nulis dan riset dunia film
Find me
(Visited 1,061 times, 1 visits today)

Aji Cakti

Movie mania yang demen nulis dan riset dunia film

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ini Penampakan Rita Repulsa “Power Rangers” Terbaru!

Close