Ulasan “Steve Jobs” (2015)

Sutradara Inggris Danny Boyle sebelumnya pernah membesut film-film yang memorable, seperti “The Beach”, “Slumdog Millionaire”, “127 Hours” hingga yang film yang dianggap jadi cult bagi pecinta film “Trainspotting”. Kali ini dia kembali membawa penyutradaraan dalam film dengan cerita yang padat ciri khasnya lewat “Steve Jobs”.

Didasarkan pada karakter yang benar-benar ada, film ini sama sekali tidak mudah diwujudkan sebagai karya sinematik yang tidak mengundang sanggahan karena mau tidak mau akan selalu dibenturkan dengan fakta yang nyata. Dan lagi, ini bukan kali pertama kisah pendiri Apple tersebut diangkat ke layar lebar. Sebelumnya, pada 1999 persaingan Steve Jobs dan Bill Gates diejawantahkan dalam “Pirates of Sillicon Valley”. Lalu, pada 2013 Steve diperankan oleh Ashton Kutcher di “Jobs”. Maka, film pada 2015 ini sudah pasti akan dibanding-bandingkan.

Namun, untuk menyiasati kemungkinan tersebut Danny menyentuh area yang sebelumnya tidak terlalu tergali di film-film sebelumnya sebagai fokus utama. Dia menyasar pada kehidupan Steve, bukan semata sebagai pengusaha, tapi sebagai seorang ayah.

Sama seperti sebelumnya, film ini juga menyoroti kegagalan pertama Steve Jobs (Michael Fassbender) dalam memasarkan Macintosh yang diluncurkan pada 1984. Dia dipecat lalu pada 1988 mendirikan perusahaan baru bernama NeXT. Dalam kegagalannya tersebut dia selalu ditemani seorang pegawai pemasaran yang cerdas Joanna Hoffman (Kate Winslet). Joanna selalu jadi penengah dalam masalah pribadi Steve dengan mantan pacarnya Chrisann Brennan (Katherine Waterston) yang menggunakan anaknya Lisa Brennan-Jobs (Perla Haney Jardine) sebagai alasan untuk memeras uang Steve.

Kisah pribadi Steve sebenarnya cukup simpel. Dia tidak mengakui bahwa Lisa adalah anak kandungnya. Namun, diam-diam dia juga peduli pada anak tersebut. Selebihnya, kehidupan pribadinya didominasi oleh pekerjaannya di Apple.

Pendalaman Michael Fassbender cukup meyakinkan jika dibandingkan film-film tentang Steve Jobs sebelumnya. Sifat keras kepala, arogan, kepala dingin, serta pendirian teguh dan tidak memedulikan perasaan orang lain digambarkan dengan sempurna.

SteveJobs2.0Sikap kebapakan yang ditunjukkan Michael jadi menarik karena dikontraskan dengan sikapnya yang tak kenal ampun di dunia kerja. Steve gak segan mengancam akan mempermalukan bawahannya jika dia tidak bisa membuat Macintosh mengucapkan kata ‘Hello’ dalam peluncurannya, dia juga mentah-mentah menolak Steve Wozniak untuk sekadar menyebut tim Apple II dalam presentasinya. Dan semuanya itu dilakukan tanpa segan di hadapan orang banyak. Steve adalah sosok berdarah dingin dalam dunia kerja. Namun, di depan anaknya, Steve tampak mencair meski rasa sayangnya tersebut terkadang direpresi dan tampak seperti penolakan.

Secara keseluruhan, sinematografi dan plot film ini tidak terlalu memukau. Semuanya masih dalam taraf seadanya, tidak ada perlakuan khusus dalam sekuens tertentu di film ini. Namun, yang patut digarisbawahi adalah karakterisasi Steve Jobs yang dengan apik dibawakan oleh Michael Fassbender. Dia hampir mulus sempurna membawa emosi penonton turun naik dengan kehidupannya yang problematis. Sifat perfeksionisnya dan persuasifnya bisa menggiring kita membenci mantan pacarnya, menyayangi anaknya, menghargai pegawai pemasarannya, serta yang lebih penting, mengagumi inovasi dan mengagungkan mahakaryanya di Apple.  Nice product placement, good job(s), Michael!

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 115 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Spotlight” (2015)

Close