Ulasan “The Boy” (2016)

Hal paling menyenangkan saat nonton film buat gue adalah alur yang tidak terduga. Kayak pemahaman lo sudah dibentuk dari awal terus pas di bagian klimaks harus dimentahin lagi karena plot twist yang sama sekali beda. Itu rasanya kaya lo makan permen yang manis di bagian luar tapi asem kecut parah di bagian dalem.

MV5BMTgyNzU3OTkwNV5BMl5BanBnXkFtZTgwMjk3NzA3NzE@._V1__SX1303_SY582_Hal ini yang gue rasain saat nonton film “The Boy” besutan sutradara William Brent Bell. Film berdurasi 1 jam 37 menit ini awalnya terkesan horor dengan boneka porselen bernama Brahms sebagai inti misteri dan seorang perempuan muda Gretta Evans (Lauren Cohan) sebagai protagonist yang penuh kejutan. Sayangnya plot twist memang bukan segalanya.

Film bergenre horor ini contohnya memang menjadi salah satu contoh film yang biasa banget bahkan terkesan asal dan ingin cepat selesai. Ditambah dengan alur yang terlalu lambat menyeret walaupun ada kejutan khas cerita horor lainnya di sekitar alur lambat itu lo yang akan cukup bikin lo jantungan.

Mengambil pinggiran Inggris sebagai “lokasi” cerita, film ini dimulai dengan adegan suram dan rumah yang nggak kalah menyeramkan. Sayangnya nggak banyak yang bisa benar-benar membuat gue yakin kalau lokasi itu benar-benar di Inggris.

MV5BMjA3MDI1OTE0MF5BMl5BanBnXkFtZTgwNDY1NzQwNzE@._V1__SX1303_SY582_Kayak yang gue sebutkan di atas, fokus cerita berada pada Gretta dan si boneka porselen yang harus “diasuhnya”. Boneka ini dianggap sebagai pengganti anak dari pasangan tua Heelshire yang konon meninggal saat terjadi kebakaran di dalam rumah.

Dari awal kayaknya Bell memang sengaja membuat film yang sangat suram dan gelap. Rumah di tengah halaman luas menyerupai hutan juga membuat suasana film jadi terasa sangat mencekam dan nggak bersahabat.

Padahal menurut gue detail seperti itu nggak terlalu perlu karena apa yang terjadi di dalam rumah sudah bisa membangun efek menyeramkan itu sendiri, apalagi karena hutan sama sekali nggak dipakai dan hanya jadi sia-sia belaka.

Penokohan dalam film juga dirasa nggak total, penanaman latar belakang para pihak dilakukan dengan tambal sulam yang akhirnya malah bikin cerita nggak ajek dan kita cuma dibuat takut dengan aransemen musik dan adegan-adegan mengejutkan lainnya.

Untuk suasana pinggiran Inggris juga kurang terasa karena tokoh-tokoh pendukungnya, kayak Malcolm (Rupert Evans) dan pasangan Heelshire (Jim Norton dan Diana Hardcastle) bahkan tidak memperdengarkan aksen British yang seksi dan menggoda sebagai aksen khas orang Inggris.

Selain itu juga jalan cerita terlalu dibuat menggantung, entah untuk pembuatan sekuel atau prekuelnya, tapi menurut gue meninggalkan penonton dengan tanda tanya besar itu nggak baik. Tanda tanya besar yang mengantung di depan mata gue sampai saat ini adalah kenapa Brahms membunuh anak perempuan bahkan saat umurnya baru delapan tahun? Apakah Brahms seorang psikopat? Siapa yang membakar rumah Brahms? Setidaknya mungkin bisa digunakan alur mundur untuk menceritakan tentang keanehan dan awal mula “teror” tersebut.

Untuk akting Lauren Cohen sebagai Gretta sebenarnya nggak terlalu buruk mengingat dia sudah berperan dalam serial “The Walking Dead” yang terkenal itu, hanya saja perannya sebagai Gretta gue rasa sangat nggak masuk akal karena terlalu mudah menerima kenyataan kalau dia hidup sendirian di rumah yang besar banget dan kemungkinan rumah itu berhantu. Bahkan nggak banyak memperlihatkan ekspresi ketakutan malah yang gue lihat dia cenderung senang dengan kenyataan ada hantu yang mengawasinya. Creepy abis.

MV5BMjQyNzE2ODg1N15BMl5BanBnXkFtZTgwMDA4NzA3NzE@._V1__SX1303_SY582_Kalau gue jadi Gretta mungkin dari awal gue tahu kalau gue harus mengasuh seonggok boneka gue akan balik-kanan-bubar-jalan dan balik ke Amerika Serikat. Pakai alasan kalau dia lari dari mantan pacarnya? Heii…Amerika punya sekitar 50 negara bagian dan lo tahu (sedikit spoiler) ujung-ujungnya dia tetap disusulin mantan pacarnya itu kok. Ha Ha!!!

Walau jalan ceritanya masih kurang di sana-sini, sang sutradara berhasil sedikit memperbaikinya dengan menciptakan perubahan alur cerita yang nggak terduga sama sekali di bagian-bagian akhir walaupun sekali lagi; plot twist bukanlah segalanya.

Kalau menurut lo plot twist adalah segalanya, lo salah, karena alur cerita yang baik dan masuk akal pasti lebih baik. Dan pastinya jadi tambah asik kalau semua itu digabungkan jadi satu.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 2,082 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “The Revenant” (2015)

Close