Ulasan “Spotlight” (2015)

Hollywood pada 2015 menelurkan film yang bisa dibilang membongkar institusi yang sudah mapan. Setelah meluruhkan sekat-sekat rumit dengan balutan istilah-istilah alien Wall Street menjadi sajian sinematik yang ‘agak’ tersimplifikasi lewat “The Big Short”, kita ditawari “Spotlight” – yang lebih berani lagi – mencoba mendobrak agama dan institusi terbesar di dunia, yaitu Katolik.

Film ini berkisah tentang sebuah tim liputan khusus di surat kabar The Boston Globe bernama Spotlight. Tim liputan yang menguasai ranah investigasi in-depth tersebut terdiri atas Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), Michael Rezendes (Mark Ruffalo) dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James); serta editor Walter V. Robinson (Michael Keaton) dan pemimpin redaksi Marty Baron (Liev Schreiber).

Cerita bermula ketika pemred Marty – seorang Yahudi – dipindahkan dari New York ke Boston. Dia kemudian mendengar kisah pelecehan di dalam gereja Katolik yang dilakukan seorang pastor. Ia lalu memerintahkan tim Spotlight untuk menggali artikel yang dulu pernah dimuat – namun tidak mendalam – di Boston Globe tersebut. Para jurnalis tersebut kemudian mulai menggali data, mengumpulkan kesaksian korban dan mencoba mendobrak benteng gereja Katolik yang kokoh bukan main.

spotlight-poster-651x560Pada sekitar 2002, tim Spotlight menemukan indikasi bahwa petinggi gereja Katolik di Boston, Kardinal Bernard Law, melakukan pembiaran dalam kasus pelecehan anak yang dilakukan oleh Fr. John Geoghan. Pater tersebut sebenarnya telah terbukti melecehkan beberapa anak. Namun, alih-alih memecatnya, gereja memilih menutup mata dan hanya memindahkannya ke daerah lain. Alhasil, anak-anak di daerah lain itu turut jadi korban.

Lewat film ini, Tom McCarthy mencoba menawarkan sebuah kisah yang gak hanya berisiko dapat penolakan luas dari umat Katolik tapi juga sulit untuk diterima pecinta film pada umumnya. Cerita berisiko, dialog intens, karakter yang banyak, sekuens bertubi-tubi merupakan kombinasi yang hampir pasti akan dihindari oleh para pecinta film yang sekadar ingin mencari hiburan ke bioskop. Namun, Tom jelas berhasil membuat penonton tidak bisa berpaling sejak seperempat durasinya. Dalam film ini kita terseret ke dalam kerumitan pembongkaran kasus yang ditutup rapat oleh salah satu organisasi sekaligus agama terbesar di dunia. Oleh karenanya, perjuangan para jurnalis dan editor di tim Spotlight jadi menarik untuk diikuti sampai habis.

Penampilan Mark Ruffalo, yang berperan jadi Michael Rezendes, penulis utama artikel yang mengguncangkan itu bisa dibilang sebagai sajian jurnalisme yang indah. Determinasi dan sense of journalism bisa dibawakannya dengan gaya yang meyakinkan. Sebaliknya, Rachel McAdams tampil tidak terlalu mencolok. Kehadirannya jadi menarik hanya karena dia berfungsi sebagai katalis antara karakter-karakter penting. Dan lagi siapa yang bisa melepaskan pandang dari satu perempuan cantik – cerdas pula – di tengah lingkungan yang didominasi pria, tapi untuk selanjutnya tidak ada eksplorasi yang cukup berarti.

Sebagai film kedua bagi Michael Keaton setelah “Birdman” yang hmm…, jujur ada harapan bahwa aktingnya di sini akan jelek sehingga membuktikan bahwa kemenangan film manusia burung di Oscar 2015 hanya kebetulan. Akan tetapi, ternyata doa itu tidak terjawab. Harus diakui Michael tampil memukau di film ini. Dia bertindak layaknya pemimpin sejati. Dia tahu kapan harus memutuskan hal tepat di saat yang tepat – meski tidak jarang keputusannya tersebut tidak populer dan dapat pertentangan di sana-sini. Namun, kepala dingin sekaligus kesabarannya akhirnya berbuah pada sebuah artikel yang membawa perubahan besar pada dunia.

Simpulannya, “Spotlight” bukanlah sebuah film yang bisa dinikmati dengan sekantong pop-corn di tangan. Film ini sama sekali bukan film yang mudah ditonton karena menyinggung isu yang paling mendasar dari manusia; seks – yang sayangnya ditampilkan dengan cara yang sama sekali tidak menyenangkan. Dan lebih mengesalkannya lagi dilakukan oleh orang yang seharusnya minim cela. Namun, di saat yang sama film ini juga menjadi sebuah pengingat yang efektif bahwa tidak ada manusia yang sempurna bahkan meski terlihat begitu di luarnya. Selalu ada kemungkinan dalam hidup. Dan untuk usahanya mencoba kemungkinan membongkar borok yang ditutupi dengan rapat itu, tim Spotlight wajib dapat penghargaan. Mereka menjadikan jurnalisme terlihat jadi seperti bukan sumber pencaharian namun sebuah pencarian kebenaran yang seutuhnya.

Artikel fenomenal yang jadi latar belakang “Spotlight” bisa dibaca di sini.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 108 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Deadpool” (2016)

Close