Ulasan “Deadpool” (2016)

Film ini langsung dibuka dengan aksi pahlawan yang enggan disebut pahlawan dengan kostum merah. Ceria. Melompat ke atas sebuah mobil yang melaju di tol. Menghabisi penjahat-penjahat di mobil itu. Lalu cerewet mengenai masa lalunya. Dan begitu seterusnya hingga film berdurasi 108 menit ini selesai.

Kemunculan Deadpool di layar lebar gak bisa dibilang baru. Di “X-Men Origins: Wolverine”, dia ditampilkan sebagai musuh Wolverine. Pertarungan pamungkas di film tersebut juga patut dikenang. Tapi di film ini, Deadpool ditampilkan dari sisi berbeda. Jauh berbeda dibandingkan di X-Men.

Bagi para penggemar Marvel, mungkin akan langsung menyadari anomali dalam film ini. Deadpool di sini digambarkan jauh berbeda dibandingkan penampilan sebelumnya yang agak gelap. Dari segi kepribadian, Deadpool di film ini dan “X-Men” memang sama-sama ditampilkan ceriwis. Tapi di film ini antihero tersebut lebih playful, mengocok perut dan tetap… cerewet. Sedangkan untuk kekuatan, Deadpool di sini tidak bisa teleportasi layaknya dia di “X-Men”

Lalu Cannonball seharusnya dimunculkan dalam film ini, tapi karena alasan budget kehadirannya dihapus. Namun, kekuatannya untuk meluncur seperti bola meriam diadaptasi pada Negasonic Teenage Warhead. What a badass name! Padahal, sebenarnya kekuatannya hanya telepati.

Untuk sebuah film origin, cerita “Deadpool” masih terlalu klise. Dikisahkan Wade Wilson (Ryan Reynolds), mantan pembunuh bayaran yang hidupnya gak sukses-sukses banget, bahkan mendekati suram. Dunianya berubah setelah ketemu perempuan belahan jiwanya Vanessa Carlysle (Morena Baccarin). Mereka hidup bahagia meski tidak lama. Wade didiagnosis mengidap kanker. Putus asa, Wade ditawari pengobatan untuk menyembuhkan kankernya. Mengingat ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan pacarnya – dalam keadaan sehat tentunya – Wade menerima tawaran tersebut. Dalam pengobatan tersebut dia bertemu dengan Francis (Ed Skrein), mutan yang merangkap jadi praktisi kesehatan. Meski akhirnya sembuh dari kanker dan jadi manusia super, pengobatan tersebut ternyata sangat menyakitkan. Tubuh Wade hampir seluruhnya berubah jadi terlihat seperti monster. Dia gak mungkin kembali dengan keadaan seperti itu ke Vanessa. Kesal, Wade menuntut balas pada Francis.

Sebuah premis yang simpel dan berpotensi membosankan.

deadpoolrratedNamun, penulis naskah “Deadpool”, Paul Wernick dan Rhett Reese, patut diacungi jempol. Mereka membuat film ini jadi lebih hidup dengan cara yang konyol. Selain menawarkan humor konvensional, mereka juga melemparkan lelucon dengan referensi di luar film itu sendiri. Sebut saja, sindiran Deadpool tentang personel X-Men dan minimnya budget untuk film ini. Dan mimpi buruknya dikejar-kejar Liam Neeson – referensi yang diambil dari film “Taken”.

Kebiasaan breaking the fourth-wall (berbicara langsung kepada penonton) Deadpool di komik juga dibawa ke film ini. Alhasil, penonton lebih merasa dekat dengan jagoan konyolnya.

Sementara dari sisi sinematografi, Ken Seng, juga menghadirkan pengalaman visual yang gak kalah nyeleneh. Zoom-in (batuk) buah zakar Deadpool di balik kostum ketatnya dan adegan slow-mo dengan angle 360˚ luar biasa, kalo gak bisa dibilang revolusioner, untuk film sejenisnya.

Sayangnya, keindahan beberapa adegan gak lolos sensor di Indonesia. “Deadpool” sebenarnya dikategorikan dengan rating R. Banyak adegan seks dan gambar-gambar gore close-up seperti piercing shot dengan satu peluru yang memecah batok kepala tiga penjahat yang hilang begitu saja di bioskop Indonesia. Tapi secara keseluruhan film ini masih bisa menghibur.

Lewat “Deadpool” Marvel kembali mencoba peruntungannya dengan tokoh yang cukup ‘baru’. Sedangkan Fox berusaha menebus kegagalannya di “Fantastic Four”. Ryan Reynolds yang kariernya gak bisa dibilang luar biasa juga sangat terbantu lewat perannya yang hampir sempurna di sini. Selain itu, film ini juga menerapkan standar baru dengan ratingnya. Setelah ini, kabarnya sekuel “X-Men” juga akan dibuat dengan R-rated. Siap-siap kerja keras, LSF!

Trivia: Deadpool memang dibuat dengan budget yang cukup rendah. Di menit-menit terakhir, anggaran film ini kabarnya dikurangi hingga tujuh juta dolar. Akibatnya, kehadiran beberapa tokoh yang direncanakan dibatalkan. Adegan aksi dikurangi. Bahkan Deadpool sengaja dikondisikan lupa membawa tas Hello Kitty berisi peluru dan senjatanya di taksi untuk mengurangi dana untuk efek visual dan properti. Smooth covering.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 249 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “The Boy” (2016)

Close