Ulasan “The Revenant” (2015)

Alejandro González Iñárritu tidak bisa dibilang sebagai sutradara yang produktif karena sejauh ini baru membuat sekitar enam film feature. Namun, untuk urusan penghargaan dan pujian, dia jelas terbukti bisa panen melimpah ruah dan memenuhi lumbung kebanggaannya. Enam film panjangnya dapat pengakuan internasional, sebut saja “Babel”, “21 Grams”, “Amores Perros” yang cukup unik dan rumit dengan teknik memecah beberapa kisah dan karakter yang pada akhirnya berkaitan satu sama lain di akhir film. Lalu yang terakhir “Birdman” yang menang Oscar 2015 untuk kategori film terbaik.

Iñárritu jelas memikul beban berat saat memutuskan membuat “The Revenant”. Untuk meringankan bebannya itu dia kembali mengganding DoP kesayangannya, Emmanuel Lubezki, yang sebelumnya banyak dipuji lewat teknik pengambilan gambar single-shot di “Birdman”. Hasilnya? Luar biasa!

“The Revenant” diangkat dari novel berjudul sama karya Michael Punke yang konon berdasarkan kisah nyata. Kisahnya berpusat pada Hugh Glass, seorang veteran yang jadi penunjuk jalan bagi pemburu pengusaha bulu binatang Andrew Henry (Domhnall Gleeson). Di tengah perburuan, mereka mengalami beberapa insiden, seperti dikejar Indian Arikara dan terpaksa meninggalkan kapal mereka untuk kembali ke markas dengan berjalan kaki di tengah cuaca dingin ekstrem.

Masalah yang paling tragis dialami oleh Hugh adalah ketika dia diserang beruang grizzly. Tubuhnya terkoyak-koyak sehingga harus ditandu oleh teman-temannya. Teman setimnya yang membencinya, John Fitzgerald (Tom Hardy), mengusulkan agar Hugh dibunuh saja untuk mengakhiri penderitaannya dan mempercepat perjalanan. Tapi sang pemimpin tim, Andrew, menolak usulan itu dan malah menawarkan uang hadiah untuk mereka yang bisa menjaga Hugh hingga sembuh. John akhirnya menerima tawaran itu.

Namun, John Fitzgerald ternyata tidak melakukan tugasnya sesuai perintah. Dia berusaha membunuh Hugh namun gagal dan akhirnya membunuh anak Hugh, Hawk (Forrest Goodluck) dan kembali ke markas untuk mengambil upah dengan mengaku telah merawat Hugh hingga ia mengembuskan napas terakhirnya.

Dari awal Emmanuel menyajikan sinematografi yang memesona. Kalau dulu di “Birdman” dia menggunakan teknik single-shot, kali ini dia masih menawarkan teknik yang sama – meski tidak banyak – tapi juga menambahkan person to person shot yang kontinyu. Adegan pembuka ketika bertempur dengan Indian terasa lebih intens mendebarkan dengan teknik seperti ini. Penonton seperti diizinkan berkenalan satu per satu pada tiap karakter yang terlibat dalam pertempuran itu dengan akrab.

Selain teknik pengambilan gambar yang membuat penonton benar-benar simpatik pada karakter-karakter di dalamnya, “Revenant” juga mengabadikan keindahan pemandangan namun kelam mendekati magis dari lokasi syuting yang kebanyakan dilakukan di Calgary, Kanada. Emmanuel menggunakan kamera format besar 65mm terbaru Alexa 65, yang hasilnya luar biasa detail meski lanskapnya ditampilkan dengan wide shot. Menurut Iñárritu, lokasi-lokasi “Revenant” adalah surga buat pecinta film tapi neraka buat pembuatnya.

24145152882_4d95e1fd03_b revenant2 revenantUntuk akting, Leonardo DiCaprio tampil meyakinkan. Kemungkinan ini adalah akting terbaiknya setelah “Django Unchained”. Adegan ketika diserang beruang – meski beruangnya dibuat dengan CGI – benar-benar meyakinkan. Iñárritu dikabarkan belajar tentang serangan beruang hanya dari video di Youtube. Tapi sampai saat ini belum ada orang yang mempertanyakan keakuratan ilmiah adegan beruang tersebut jadi bisa dibilang adegan tersebut cukup berhasil.

Perjuangan hidup Hugh jadi fokus utam dalam film ini. Dendam, bayangan masa lalu hingga aksinya untuk menghindari bahaya yang dihadapinya ditampilkan apik oleh Leonardo. Totalitas Leonardo terlihat jelas dari film ini, mulai dari berenang di sungai dingin, tidur di dalam perut kuda yang mati hingga makan hati bison. Kalau sampai Leonardo gak dapet Oscar untuk filmnya ini, entah apa yang ada di pikiran juri Academy sana. Aura dendam pada John Fitzgerald terpancar dari setiap tatapan mata dan embusan napasnya ketika berhadapan langsung.

Tom Hardy juga patut diacungi jempol. Kepribadian karakternya yang enigmatik, oportunis dan tamak bisa diperankannya dengan maksimal. Penonton bahkan bisa lupa bahwa beruang-lah yang dari awal bertanggung jawab untuk segala agonia Hugh dan mengalihkan kebencian mereka pada tokoh John Fitzgerald itu.

Simpulannya, film ini jauh lebih baik daripada “Birdman” dalam berbagai aspek. Kemenangan “The Revenant” di Golden Globes jelas sangat pantas. Kita tunggu saja Oscar nanti. Semoga Leonardo gak bunuh diri kalo dia gagal kali ini setelah bela-belain makan hati bison mentah.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 142 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “The Big Short” (2015)

Close