Ulasan “The Big Short” (2015)

If money is your hope for independence you will never have it. The only real security that a man will have in this world is a reserve of knowledge, experience, and ability.

Henry Ford

Uang adalah hal yang penting bagi hampir seluruh manusia. Uang bisa jadi alat, motivasi atau bahkan jadi satu-satunya tujuan hidup manusia. Untuk yang terakhir itu gak jarang hidup manusia yang menganutnya akhirnya berujung pada kesengsaraan yang lebih besar.

Amerika Serikat sebagai negara adidaya selalu berpongah tentang ketahanan perekonomiannya. Sampai akhirnya krisis ekonomi terjadi pada 2007-2010, dengan puncaknya adalah gelembung properti yang meledak pada 2008. Setengah negara bagian AS dinyatakan bangkrut. Beberapa perusahaan besar di bidang perbankan gulung tikar. Ribuan orang jadi gelandangan tanpa rumah dan pekerjaan. Krisis ekonomi di AS itu dianggap sebagai yang terbesar setelah Great Depression pada 1930-an.

Premis itulah yang coba diangkat oleh sutradara Adam McKay lewat “The Big Short”. Film ini sebenarnya adalah adaptasi dari buku “The Big Short: Inside the Doomsday Machine” karya Michael Lewis. Buku itu pernah nongkrong di daftar buku terlaris New York Times selama 28 pekan.

Kisahnya berpusat pada kondisi perekonomian AS yang kuat namun ada celah yang ditemukan oleh segelintir ahli ekonomi. Adalah Dr. Michael Burry (Christian Bale) yang pertama menemukan celah tersebut. Dia adalah pemilik sebuah hedge fund bernama Scion Capital. Saat itu dia melihat fenomena kredit macet perumahan di AS dan menganggapnya sebagai sebuah bom waktu bagi perekonomian AS. Dari sana dia bertaruh dengan melakukan credit default swap. Artinya, alih-alih berinvestasi pada aset properti yang sedang booming saat itu, Michael bertaruh bahwa kredit perumahan akan gagal bayar. Sebuah pertaruhan nekat yang membuatnya mendapat pertentangan di sana-sini dari perbankan yang pede dan, otomatis dia dianggap gila oleh hampir semua orang.

Mengikuti ‘kegilaan’ Michael, seorang trader, Jared Vennett (Ryan Gosling), juga melihat celah tersebut dan melihat peluang meraup untung. Dia akhirnya membujuk Mark Baum (Steve Carell) untuk ikut bertaruh juga. Sementara di tempat lainnya di AS, Jamie Shipley (Finn Wittrock) dan Charlie Geller (John Magaro) yang memiliki sebuah hedge fund kecil-kecilan juga mengendus potensi ambruknya Wall Street. Mereka kemudian meminta bantuuan seorang pensiunan bankir Ben Rickert (Brad Pitt).

Bagi para penonton yang bukan pakar ekonomi film ini akan terasa sangat memeras otak. Paling-paling satu-satunya ilmu ekonomi yang paling familier buat kita cuma teorinya Adam Smith. Istilah credit default swap, collateralized debt obligation, mortgage, tranche dsb dengan leluasa dijejali ke penonton. Namun,  Adam McKay gak membiarkan istilah-istilah tersebut disajikan dengan liar tanpa penjelasan. Dia malah memakai metode penjabaran istilah yang cukup nyentrik. Dia menggunakan aktris seksi Margot Robbie, koki ternama Anthony Bourdain, mantannya Justin Bieber Selena Gomez untuk menjelaskan istilah-istilah yang terdengar seperti bahasa alien bagi kebanyakan penonton tersebut.

Sinematografi dalam film ini juga cukup intens namun tertata baik dengan menampilkan konflik di berbagai tempat berbeda yang pace-nya sama kencangnya di setiap adegan. Penonton dicekoki bertubi-tubi dengan istilah-istilah baru dan konflik yang kadang harus dikaitkan dengan pengetahuan dari berita di dunia nyata yang pernah dibaca seperti kehancuran Lehman Brothers dsb.

Untuk mengimbangi plotnya yang berat, “The Big Short” mengandalkan komedi instan untuk mencairkan suasana. Dan kendali komedi dalam film ini tampaknya dipercayakan kepada Ryan Gosling yang berulang kali berbicara ke kamera langsung kepada penonton dengan celetukan-celetukan konyol untuk menjelaskan pengalamannya saat terlibat dalam cerita tersebut. Strategi menyelipkan komedi itu terbukti berhasil bikin betah penonton yang kepalanya udah berasap. Komedi di film ini terasa begitu hidup karena Adam McKay juga bukan orang baru dalam film komedi. Sebelumnya ia telah menyutradarai sekuel “Anchorman” dan “Step Brothers”. Dia bahkan mempunyai channel komedi di Youtube yang diasuhnya bersama Will Ferrell.

big short1Dengan deretan pemain yang sebegitu menterengnya kebanyakan penonton mungkin akan merasa tertipu untuk menonton film ini karena tema yang diusungnya sama sekali gak ringan. Tapi niscaya setelah berusaha untuk mencerna, penonton akan larut dalam film ini dan akhirnya akan menikmatinya. Meski gak bisa memuaskan semua penonton dengan latar belakang nonekonomi, Adam McKay setidaknya berhasil mempresentasikan film yang terbilang sulit dengan kemasan yang ‘agak’ mudah dicerna bagi penonton awam.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 143 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Selamat Jalan, David Bowie!

Close