Ulasan “The Little Prince” (2015)

Film animasi “The Little Prince” yang diangkat dari novel berjudul asli “Le Petit Prince” karya Antoine de Saint-Exupéry ini sebenarnya memiliki segmentasi untuk anak-anak. Novel yang ditulis tahun 1943 itu merupakan salah satu kisah terlaris di dunia – bahkan disebut sebagai buku terbaik abad 20 di Prancis – dan sudah diterjemahkan dalam 250 bahasa, termasuk Braille.

Tak pelak sang sutradara, Mark Osborne (“Kung Fu Panda”), punya beban berat memuaskan ekspektasi pembaca lintas generasi. Mark menggandeng nama-nama besar untuk film ini meski beberapa hanya ditampilkan dengan porsi yang terlalu sedikit, seperti James Franco, Benicio Del Toro, Ricky Gervais, Paul Rudd. Mark pun melakukan sedikit modifikasi dari kisah aslinya dengan menambahkan beberapa karakter.

Cerita dimulai dengan seorang gadis kecil (Mackenzie Foy) – yang tidak disebut namanya hingga akhir film – gagal tes masuk sebuah sekolah bergengsi. Akibatnya, ibunya (Rachel McAdams) yang obsesif dengan masa depan gemilang anaknya tersebut membuat jadwal belajar yang padat agar anaknya lulus ujian masuk tahun depan.

Dari sini kita disajikan adegan repetitif khas urban. Mulai dari sikat gigi hingga perjalanan ke kantor. Adegan di kota diambil dengan angle kamera eagle eye, memperlihatkan kesibukan sekaligus kemotonan orang dewasa dengan hidup yang terlalu terstruktur dan berpola.

Si gadis kecil pada satu titik berkenalan dengan seorang kakek aneh (Jeff Bridges) yang menjadi tetangganya. Dari mulut sang kakek itulah kita diperkenalkan pada Little Prince (Riley Osborne).

the_little_prince_2015_movie-wideLittle Prince ditampilkan sebagai seorang anak kecil di planet yang secara harfiah sangat kecil. Di sana dia memiliki mawar (Marion Cotillard) yang cantik sekaligus narsisistik. Mereka berhubungan sangat akrab hingga suatu titik Little Prince pergi keliling ke planet-planet lain. Di tiap planet tersebut ada raja yang berkuasa. Mereka digambarkan ada yang gila pujian, terlalu sibuk dengan bisnis dan sering mabuk-mabukan. Mereka mewakili hampir semua sifat orang dewasa.

Dari segi cerita, “The Little Prince” hampir sama dengan “Inside Out” yang berfokus pada dunia imajinatif anak yang sering kali gak bisa dipahami orang dewasa. Namun, mungkin film ini lebih sulit dicerna oleh anak-anak karena ceritanya yang sedikit rumit dan penuh simbol.

Ya, bagi pecinta semiotik film ini mungkin nantinya bisa dijadikan bahan skripsi karena sangat figuratif. Simbol keserakahan, kesibukan dan orang tua yang kurang imajinatif diwakilkan oleh karakter-karakternya.

Adegan pertama yang menjadi petunjuk tentang imajinasi ajaib seorang anak adalah ketika Little Prince meminta sang kakek (yang dulunya pilot dan terjebak di padang gurun) untuk menggambar biri-biri. Kakek, sebagai orang dewasa, menggambar biri-biri dengan wujud yang kasatmata yang dianggap ‘normal’ oleh kebanyakan orang.

Little Prince tidak puas dengan beberapa gambar biri-biri karena menurutnya biri-biri itu ada yang sedih, terlalu tua dan sakit-sakitan. Kakek, yang sudah lelah menuruti kemauan Little Prince akhirnya menggambar sebuah kotak dengan lubang. Dia mengatakan bahwa biri-birinya ada di dalam situ. Diberi gambar seperti itu, Little Prince baru puas. Sebuah reaksi yang mengherankan jika dilihat dari kacamata dewasa. Ya tapi di situlah kekuatan Little Prince mengantarkan pesan lewat analogi. Pantas aja novelnya bertahan dikenang sekian lama sampai saat ini.

Bumi di film ini juga menjadi simbol bahwa ketika anak sudah mengenal dunia maka keindahan mawar – yang tadinya adalah teman baik kita dan satu-satunya – nilainya sudah jauh berkurang. Tidak ada lagi yang spesial di mata orang dewasa karena kita sudah ‘terkontaminasi’ kesibukan untuk mencari penghidupan.

The-Little-Prince-international-paperSementara dari segi animasi, film ini bisa dibilang lengkap menampilkan pilihan. Ada animasi 2D, 3D untuk sebagian besar adegan, serta stop motion untuk menceritakan kisah Little Prince dari ingatan sang kakek. Paduan stop motion tanah liat dan kertas membuat pemisahan flashback dan keunikan kisah Little Prince jadi menonjol. Memberi batas jelas antara realitas dan imajinasi. Mungkin itu ditujukan untuk orang dewasa yang sudah kebas membedakan dunia khayal dan nyata. Dan melihat segalanya hanya dengan mata.

Film ini mengantar pesan bahwa terkadang beberapa hal terindah di dunia tidak bisa dilihat atau disentuh. Mereka hanya bisa dirasakan dengan hati. Hal yang tentu saja mudah untuk dilakukan anak kecil yang belum ‘terkontaminasi’ dunia dan segala kepahitannya. Tapi juga sekaligus mengajarkan orang dewasa untuk gak selalu menghakimi salah dan benar hanya lewat mata.

“And now here is my secret, a very simple secret: It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye.”
― Antoine de Saint-Exupéry

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 115 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “The Good Dinosaur” (2015)

Close