Ulasan “The Good Dinosaur” (2015)

Pernahkah kita berpikir apa yang akan terjadi jika ribuan tahun lalu asteroid meleset, tak jadi menabrak Bumi? Gambaran asteroid yang meleset itu jadi adegan pembuka film animasi “The Good Dinosaur” garapan Disney dan Pixar. Dalam film yang disutradarai Peter Sohn – animator “Ratatouille” dan “The Incredibles” – ini, kelompok dinosaurus diceritakan masih berkembang biak, tak punah.

Adegannya dilanjutkan dengan menyorot kehidupan sebuah keluarga dinosaurus berjenis apatosaurus. Sepasang suami-istri yang giat bekerja mengolah lahan dan menunggu kehadiran anak-anak mereka. Bisa diterka, akan selalu ada rotten appple in the family dan seringnya ialah yang mendapat lampu sorot. Maka dalam film ini, Arlo (Raymond Ochoa), si dinosaurus paling ringkihlah yang menjadi pemain utama.

Arlo keluar dari sebuah telur yang paling besar. Namun, ia adalah bayi dinosaurus prematur. Selanjutnya ia tumbuh jadi anak dinosaurus yang sangat penakut. Beruntung, Arlo punya orang tua sesabar Poppa Henry (Jeffrey Wright) dan Momma Ida (Frances McDormand). Kedua orang tuanya yakin Arlo bukan anak yang biasa, ia akan tumbuh jadi anak yang mengagumkan – hanya tinggal menunggu waktu.

Sebagai keluarga petani, aktivitas sehari-hari mereka adalah mengolah lahan, menyiapkan dan menyetok bahan makanan untuk musim-musim sulit. Setiap pencapaian luar biasa diapresiasi anggota keluarga dengan meninggalkan cap kaki di bangunan penyimpan bahan makanan. Satu per satu meninggalkan jejaknya, Poppa, Momma, Buck (Marcus Scribner), dan Libby (Maleah Padilla)—kakak-kakak Arlo. Tinggal si bungsu yang penakut dan dianggap pengecut oleh kakaknya.

Pada satu malam, Poppa mengajak Arlo berjalan ke arah hutan. Poppa cukup keras untuk mendidik Arlo agar bisa melepas rasa takutnya. Kisah ayah-anak ini mengingatkan pada “The Lion King”. Tapi saya coba berbaik sangka aja bahwa Disney dan Pixar meyakinkan kalau ini akan menjadi kisah yang lain.

Tak banyak plot mencengangkan atau baru, tapi film ini menyajikan alur yang menyenangkan dan juga tampilan visual suasana alam yang keren semacam aliran sungai, pegunungan, air terjun, badai, dan lainnya. Alur yang cukup seru dan lumayan mancing air mata #anaknya lagi sensitif banget emang.

Secara umum kisah yang dialami Arlo untuk menjadi anak yang pemberani mirip-mirip dengan kisah tokoh-tokoh Pixar sebelumnya. Arlo harus ditempa lewat perjalanan tak terduga, ia harus mengalami sebuah titik yang mengguncang hidupnya sampai punya titik traumatis dan lambat laun ia harus bisa mengolah emosi dan traumanya sendiri. Pengalaman luar biasa, tentunya, untuk ukuran seekor dino yang masih kecil. Kalau disetarakan dengan umur manusia, usia Arlo sekitar 11 tahun saja. Masih bocah.

image_008fe539Menariknya lagi, di film ini Arlo dipertemukan dengan seorang anak manusia yang sangat liar. Tapi bisa sangat patuh terhadapnya. Arlo sendiri heran, tapi kehadiran Spot (Jack Bright) – si bocah tarzan – tentu semakin mewarnai perjalanan Arlo yang tak terduga. Hubungan antara Arlo dan Spot pun berawal dari hal tak menyenangkan; ada dendam, ada kesal, tapi berbuah hubungan persahabatan yang menyejukkan namun cukup menyesakkan di akhir film.

Lucunya, dalam film ini rasanya ada yang berbalik. Spot hadir dan tampil tak ubah seperti hewan peliharaan bagi Arlo. Spot mengikuti perintah – tapi bukan berarti Arlo memperbudak Spot – berlagak seperti anjing galak yang siap melindungi tuannya, berbaik hati mencarikan makan. Begitukah manusia sebelum mengenal peradaban dan menyadari kemampuan akalnya? Tapi lagi-lagi, di film ini Arlo bintangnya, Spot adalah aktor pendukung. Dan persahabatan keduanya sangaaaat menyenangkan untuk diikuti sampai akhir. Tak ada banyak dialog antara Arlo dan Spot, bahasa mereka adalah isyarat, gerak, dan tatap—ciyee gitu… Manis deh pokoknya.

Penonton (semua umur) bisa belajar dari pengalaman si kecil Arlo, seekor dinosaurus yang baik ini; tentang bagaimana ia berproses dan tumbuh serta perlahan menjadi berani. Dan itu semua bukan seperti memasak indomie yang matang dalam hitungan menit. Untuk menjadi Arlo yang baru dan berani, ia mesti menghadapi kesedihan mendalam, melawan penyesalan, berdamai dengan masa lalu dan dendam yang ia hadirkan. Bukan berarti hidup tak boleh punya rasa takut, Butch (Sam Elliott), salah satu T-Rex yang ditemui Arlo dalam perjalanan pun bilang, “If you ain’t scared, you ain’t alive.”

Hampir semua orang punya rasa ketakutan dalam hidupnya, mengendap dalam pikirannya. Tapi ketakutan bukan untuk merajai diri bukan pula untuk ditaklukkan, tapi dikelola sesuai porsinya. Ya, mungkin begitu saat saya berpikiran layaknya Om Mario Teguh. 😀

Stay updated! Follow us on:

Find me

Aisha Shaidra

Agen Sisifus di Bumi
Find me

Latest posts by Aisha Shaidra (see all)

(Visited 172 times, 1 visits today)

Aisha Shaidra

Agen Sisifus di Bumi

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Menantikan Penayangan “The Peanuts Movie”

Close