Ulasan “Star Wars: Episode VII The Force Awakens” (2015)

Selamat Natal dan selamat hampir tahun baru buat semuanya. May the force be with you all.

Ngomongin masalah force, Natal tahun ini kita dihibur dengan episode terbaru “Star Wars”, yang melanjutkan film terakhirnya “Revenge of The Sith” yang tayang sekitar 10 tahun lalu. Menurut die-hard fans-nya, serial bertajuk “Star Wars Eps. VII: The Force Awakens” adalah film terbaik selama 35 tahun sejarah franchise film ini.

Sayangnya, sorry to say, menurut gue episode ini nggak terlalu berbeda dengan film pertamanya – “Star Wars Eps. IV: The New Hope”. Diawali dengan pembantaian dan robot imut lucu yang menjadi si pembawa pesan terus ketemu orang asing dan terjadilah petualangan. Seriously, terlalu biasa.

Premis yang disajikan juga masih belum banyak berubah, masih tentang kegelapan dan sisi terang; baik dan jahat.

Walaupun begitu tetap ada beberapa kejutan di sana-sini yang tetap bikin melonjak senang, apalagi di bagian-bagian tokoh lama yang kembali muncul. Selain itu candaan-candaan ringan yang sedikit satire di tengah adegan baku hantam dan tembak menambah bumbu cerita yang membuat plotnya nggak melulu tegang.

Namun, selain hal-hal yang berbau nostalgia yang mengobati rasa rindu ada banyak “celah” dari penggambaran karakter yang bikin bingung dan semoga bakalan dapat penjelasan dari film-film “Star Wars ” selanjutnya.

Pada awal film ada tokoh Lor San Tekka – kemungkinan jedi – yang dibunuh sama Kylo Ren dan juga dipercaya sama Putri Leia yang mengetahui lokasi keberadaan saudara kembarmya, Luke Skywalker. Nah yang jadi masalah dia ini siapa? Bukankah bangsa jedi sudah punah dan Luke itu jedi terakhir?

Kemudian ada tokoh sentral dalam film ini bernama Finn. Oke, kita tahu dia adalah seorang Stormtrooper dengan kode nama FN-2187 yang sejak lahir dilatih untuk menjadi seorang Stormtrooper atau yang pada beberapa adegan selanjutnya menyebut bahwa dia diculik dari keluarganya sebelum kemudian dilatih. Namun, dia adalah Stormtrooper pertama yang seolah punya hati nurani. Setelah melihat temannya yang mati tertembak dia seolah ketakutan dan menyadari sesuatu lalu berkhianat. Penampilan Finn yang tanpa asal-usul terasa agak mengganggu dan seolah ‘mengencingi’ mitos bahwa “Star Wars” merupakan epos paling detail dalam dunia sinematografi.

star warsTokoh yang juga nggak kalah penting adalah seorang wanita bernama Rey. Dia digambarkan sebagai cewek kuat yang bertekad bertahan di Jakku demi menanti keluarganya. Tapi hingga akhir keluarga yang dinantikannya sama sekali nggak dipaparkan secara gamblang.

Latar belakangnya sampai bisa terdampar di Jakku yang tandus dan menjadi scavenger juga luput diceritakan. Padahal rasanya ini penting untuk diangkat, mengingat kecerdasan Rey berhasil menarik hati Han Solo. Perlu digarisbawahi bahwa Han Solo adalah seorang pilot andal dan somehow Rey juga seorang pilot yang nggak kalah jago. Maka skill tersebut seharusnya bisa dielaborasi dengan lebih detail dalam penceritaannya. Dari mana dia belajar menerbangkan pesawat saat sehari-hari dia harus mencari sisa suku cadang di puing-puing rongsokan?

Sementara dari karakter antagonis, Ben Solo dikisahkan sebagai murid dari Luke Skywalker yang kemudian digoda oleh Snoke dan akhirnya memihak dark side. Tapi konfrontasi Snoke dengan Ben yang membuatnya membelot dan mengubah namanya menjadi Kylo Ren dilesapkan begitu saja. Yang paling ganggu adalah sikap lemah Kylo Ren saat merasakan aliran force di tubuhnya. Dia nangis dan menganggap seolah-olah dia melanjutkan perjuangan kakeknya. Anak yang aneh.

Terakhir ada jagoan yang mati. Lips are sealed supaya gak spoiler. Please deeeh, ini yang paling ganggu dan bikin gue nangis sepanjang film. Kenapa juga harus dimatikan. Sekali saja biarkan Luke, Leia dan *** berada dalam satu frame yang sama. Nggak ada salahnya kan?

Selain lima hal di atas, masih banyak lagi yang bikin gue penasaran kayak kenapa Leia sebagai seorang ibu nggak nemuin anaknya sendiri. Padahal mungkin sebagai anak, Kylo Ren akan lebih dengar kemauan ibunya.

Namun secara keseluruhan film ini keren, selain jalan cerita yang benar-benar mengobati kerinduan, hadirnya film ini juga mengembalikan masa muda orang-orang generasi pertama yang menonton film pertama seri “Star Wars” yang rilis pada 1973.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 160 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “In the Heart of the Sea” (2015)

Close