Ulasan “In the Heart of the Sea” (2015)

“Moby Dick” adalah salah satu karya paling bersejarah bagi literatur Amerika. Novel yang ditulis Herman Melville ini menginspirasi banyak karya seni dalam berbagai medium, mulai dari lagu hingga film. “In the Heart of the Sea” juga mengambil inspirasi dari novel tentang paus ini.

Film ini gak mengadaptasi bulat-bulat seluruh cerita di novel. Bagi para pembacanya, siap-siap gak akan menemukan Ahab dengan kaki buntungnya. Peran utama dalam film ini, Owen Chase, diperankan oleh Chris Hemsworth. Owen dikisahkan sebagai seorang pelaut miskin yang bercita-cita menjadi kapten kapal. Mimpinya itu hampir jadi kenyataan ketika kapal penangkap paus Essex membuka lowongan. Dia mendaftar untuk posisi tersebut. Sayangnya, posisinya itu direbut George Pollard (Benjamin Walker) yang merupakan anak konglomerat usaha penangkapan ikan.

Dalam seperempat awal durasi, film ini mempertontonkan adu testosteron antara Owen dan George. Owen jelas lebih unggul dalam hal ini. Dia yang sering melaut sudah hapal di luar kepala tentang ilmu kelautan. Sedangkan George, yang berasal dari keluarga kaya – dan digambarkan secara stererotipikal – terlihat hanya menguasai teori daripada teknis langsung di lapangan, atau dalam hal ini laut.

George sempat hampir mengantarkan nyawa para awak kapal kepada Poseidon dengan nekat berlayar menembus badai besar. Alasannya untuk membentuk mental berani para awak. Owen yang rasional gak bisa berbuat apa-apa karena pangkatnya hanya kelasi satu – di bawah kapten. Tapi akhirnya George luluh oleh kebodohannya sendiri dan membiarkan Owen memimpin kapalnya.

Dari sana hubungan kedua tokoh ini mulai mencair dan mengalir menuju arus utama ceritanya – PAUS. Perlu diketahui bahwa dulu sumber minyak didapat dari ikan paus. Minyak fosil yang kita kenal sekarang belum pernah dieksplorasi. Jadi, bisa dibayangkan nilai ekonomi minyak yang didapat dari lemak paus ini dan alasan mengapa orang-orang rela mengarungi laut berbahaya demi mendapatkannya?

George dan Owen yang akhirnya bekerja sama dalam memburu minyak dan pernah mengalami titik tertinggi produksi akhirnya kehabisan paus untuk diburu. Setelah bertemu nelayan di Ekuador untuk mengumpulkan pasokan perbekalan, mereka diberi tahu bahwa ada tempat yang berisi banyak paus. Tapi di sana ada juga paus putih yang tak kenal ampun membantai para nelayan. Ketamakan membuat mereka gak mengindahkan peringatan itu. Mereka langsung meluncur ke sana. Di sanalah cerita sesungguhnya dimulai.

Dari sisi cerita “In the Heart of the Sea” menawarkan sesuatu yang baru dalam repertoire film tentang laut. Posternya yang hanya menampilkan mata mungkin akan membuat orang mengira ini film tentang monster. Gak sepenuhnya salah tapi juga gak sepenuhnya benar. Paus putih itu benar-benar seekor monster di lautan. Sebuah pengingat bahwa gak ada yang dapat menandingi ciptaan-Nya. Ketamakan juga jadi inti cerita film ini. Manusia gak akan pernah puas dengan apa yang mereka punya saat ini, meski kadang yang mereka punya sekarang sudah lebih dari cukup.

1413485945735_Image_galleryImage_In_the_Heart_of_the_Sea_OSecara visual, Ron Howard menyajikan pengalaman yang memanjakan mata dengan detail ombak, badai, dan gambaran paus yang gore. Dia juga tetap berpegang pada cerita yang simpel dan mengalir dalam mengisahkan perburuan tersebut. Intrik yang dialami para awak kapal dapat dicerna dengan mudah tanpa pengetahuan tentang kelautan yang mumpuni sekalipun.

Jika dibandingkan head-to-head, “Life of Pi” – film yang juga berfokus pada kisah bertahan hidup di laut – menawarkan presentasi yang lebih edukatif dan pemaparan makna film yang lebih subtil. Namun, secara visual “In the Heart of the Sea” jelas jauh lebih unggul dibandingkan “Pi” meski penggambaran ukuran pausnya terkesan sangat bombastis.

Simpulannya, “In the Heart of the Sea” adalah sebuah tontonan yang sederhana sekaligus sarat makna yang dapat dinikmati siapa pun kecuali para aktivis-aktivis Greenpeace yang dengan ambisius menentang whaling. Atau malah ini jadi bahan kampanye efektif mereka untuk menimbulkan efek jera bagi para pemburu?

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 113 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ten Second Songs: Menyanyikan “Hello” dalam 25 Gaya Bernyanyi

Close