Ulasan “James Bond: Spectre” (2015)

Penantian para penggemar James Bond setelah berbulan-bulan hanya disajikan teaser, product endorsement dan soundtrack akhirnya berakhir. Layaknya film sebelumnya, “Spectre” dibuka dengan adegan high-octane dan penuh adrenalin; helikopter hampir jatuh menimpa kerumunan massa dalam perayaan Dia de los Muertos atau Day of The Dead di Meksiko.

James-BondPada awal film, adegan direkam dengan teknik pengambilan gambar single shot, sama seperti “Birdman” yang fenomenal itu. Atmosfer dusty  Meksiko dan musik latar belakang yang melebur seirama dengan adegan menciptakan ketegangan yang intens. “Spectre” udah siap tampil mengesankan tapi ternyata adegan selanjutnya gak diperlakukan dengan teknik yang sama.

Lagu Writing’s On The Wall” kemudian dimainkan untuk mengiringi opening credit, mengikuti ciri khas dalam setiap film Bond. Lagu Sam Smith yang sebelumnya terdengar biasa saja itu menjadi megah ketika dinikmati di bioskop. Sayang, presentasi pembuka itu gak maksimal bahkan bisa dibilang gak ada apa-apanya dibanding “Skyfall” yang lebih tematik atau “Casino Royale” yang didominasi animasi berkelas. Animasi gurita simbol dari musuh Bond dalam film ini tampak seperti berdiri sendiri dan sangat berjarak dengan lagu temanya.

Bond (Daniel Craig) kali ini dihadapkan dengan misi untuk membongkar sebuah organisasi teroris bernama SPECTRE (Special Executive for Counter-intelligence, Terrorism, Revenge and Extortion). Misi organisasi tersebut di dunia nyata mirip seperti National Security Agency Amerika – menyadap semua orang dengan justifikasi demi keamanan negara – yang jadi topik hangat setelah dibongkar Edward Snowden. Namun, yang jadi masalah ternyata program itu dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan sebuah organisasi teroris yang menganggap bahwa informasi adalah kekuatan paling vital untuk menguasai dunia.

Akting Daniel Craig masih tetap seksi dan elegan tapi gak menunjukkan perkembangan karakter yang luar biasa dibandingkan film sebelumnya sehingga terasa monoton karena terlihat hanya seperti pengulangan dari yang sudah-sudah. Dia masih tampil stylish, flamboyan tapi agak ‘lembek’ dalam mengatasi musuhnya.

Di sisi lain, pemeran antagonis Franz Oberhauser (Christoph Waltz) patut jadi sorotan. Dia tampil cukup meyakinkan sebagai seorang maniak dengan obsesi besar. Meski aktingnya gak sefenomenal karakternya di “Inglorius Basterds” dan “Django Unchained” yang flawless, Christoph mampu menyajikan latar belakang yang menjadi motivasi tindakannya dengan tepat kepada penonton.

Sedangkan karakter Eve Moneypenny (Naomie Harris) yang sebelumnya mendapat porsi cukup signifikan di “Skyfall” malah tampak hanya jadi pelengkap di film ini. Mantan sekretaris M ini sekarang hanya jadi asisten Bond. Kelihaian aktingnya jadi kurang tergali. Sementara Lucia Sciarra (Monica Bellucci) mungkin akan mendapat sorotan besar dari kelompok feminis. Dia seolah benar-benar menjadi pengokoh stigma bahwa James Bond hanya menganggap wanita sebagai makhluk rapuh yang hanya menjadi objek seks. Aktingnya gak lebih dari sekadar pemuas nafsu Bond dengan dialog yang gak signifikan dan terlalu koheren dengan cerita.

Bond girl Madeleine Swann (Léa Seydoux) ditampilkan cukup memesona. Hubungan pahit dengan ayahnya, meski subtil, didalaminya dengan apik. Penonton bisa merasakan kepahitannya walaupun alasannya agak samar hingga akhir film. Kehadiran Léa yang tangguh entah kenapa seperti agak diredam oleh sang sutradara. Meski diatributkan dengan kemandirian, dia seperti takluk di hadapan Bond ketika harus mengambil keputusan penting.

Premisnya secara keseluruhan terasa datar, cenderung membosankan, tanpa ada twist yang membutuhkan penalaran lebih. Salah satu kelemahan fatal dalam cerita ini adalah referensi dari film sebelumnya yang terlalu banyak. M yang sekarang diperankan Ralph Fiennes, menggantikan Judi Dench, beberapa kali sempat menyebut “license to kill” – yang gak akan efektif bagi penonton era Daniel Craig. Dan lagi, Ralph kan bisa dibilang orang baru di film Bond, kenapa sutradara merasa perlu membawa-bawa film Bond yang lama?

Dialog-dialog pun intended praktis seperti “I’ll drink to that” ketika dia ingin mengatakan setuju sambil minum alkohol yang ada di depannya terdengar terlalu cheesy untuk disandingkan dengan suit-suit dan eyewear mahal rancangan Tom Ford yang dipakai Daniel Craig – membuatnya jadi bertolak belakang dengan citra Bond yang mature, classy dan enigmatic. Gak ada yang salah ketika film Bond memasukkan unsur komedi, tapi sebaiknya tugas melucu sepenuhnya dipercayakan kepada Q (Ben Whishaw) yang masih konsisten menghibur dari film sebelumnya.

“Spectre” bisa dibilang hanyalah etalase iklan produk-produk mewah, seperti mobil sport, jas, jam tangan, kacamata hingga bir yang dibalut aksi. Daniel Craig sukses bersinar sebagai bintang. Bintang iklan. Ya, dengan biaya produksi $300 juta, film ini mengandung banyak product placement untuk menutupi biaya produksinya. Franchise Bond kini tampaknya jadi sebuah merek dagang yang menjanjikan sehingga membuatnya lebih seperti bisnis daripada karya sinematik. “Spectre” is not the biggest flop in Bond history, it’s only a disaster.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 87 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Afgan&Raisa Rilis Lagu Duet “Percayalah”

Close