Ulasan “The Martian” (2015)

Setelah sebelumnya kita disajikan “Gravity” dan “Interstellar” yang digadang-gadang sebagai karya sinematik terbaik tentang luar angkasa yang pernah dibuat, sekarang kita ditawari “The Martian”.

Kisah yang diangkat dari novel karya Andy Weir berjudul sama ini bercerita tentang misi penjemputan seorang astronaut, Mark Watney (Matt Damon), yang tertinggal di Mars dalam sebuah misi yang dipimpin komandan Melissa Lewis (Jessica Chastain).

Godaan untuk membandingkan “The Martian” dengan “Gravity” dan “Interstellar” sangat sulit dihindari mengingat setting luar angkasa yang sama pada ketiga film. Bukan itu saja, ansambel Jessica Chastain dan Matt Damon sebelumnya udah pernah kita saksikan di “Interstellar”.

Secara visual mungkin “Gravity” masih belum bisa ditandingi. Environment Mars di film ini mengingatkan kita pada “Mad Max”. Sedangkan untuk kompleksitas cerita, Christopher Nolan lebih bikin pusing lewat “Interstellar”-nya. “The Martian” berada di tengah-tengah kedua film tersebut.

Pada adegan pembuka, kita langsung disajikan adegan fast-pace badai di Mars yang dialami komandan Melissa dan timnya. Di situlah awal malapetaka terjadi. Mark terlempar terkena semacam parabola yang terhempas akibat badai. Dianggap tewas, Mark pun ditinggal oleh timnya.

Setelah itu kita akan langsung sadar bahwa ini adalah sebuah film survival laiknya “Cast Away” atau “127 Hours”, hanya saja yang ini lebih ekstrem. Di Mars! Dengan jarak jutaan kilometer dari Bumi, ada miliaran kemungkinan berbahaya di sana.

Karakter Mark, meski menderita, disajikan dengan playful dan mampu berpikir jernih. Hal ini efektif membuat penonton peduli terhadapnya karena gak melulu disajikan kesuraman tersesat di Mars. Aksi-aksinya setiap sol (kependekan dari solar day, istilah NASA untuk menyebut hari di Mars) meski disajikan dengan narasi sains yang sangat teknis dan membuat bingung penonton awam, dapat mengundang simpati – terbantu oleh pembawaan karakter Mark yang optimistis.

Sutradara Ridley Scott, yang sebelumnya membuat “Alien”, dengan sangat sadar dan rendah hati gak merusak film yang katanya berkonsultasi langsung dengan NASA ini dengan menampilkan makhluk hijau bengis penghuni Mars. Dia murni menampilkan kemampuan Mark sebagai ahli botani untuk mengakali hidupnya secara ilmiah di Planet Merah itu.

Pergumulan batin kental ditampilkan di sini. Titik terendah Mark ketika ladang kentang yang berhasil dibuatnya hancur berantakan membeku karena salah satu palka kapsulnya meledak adalah pertunjukan paling emosional dari Matt Damon di film ini.

themartianCeletukan konyolnya tentang selera musik sang komandan juga secara brilian ditampilkan repetitif. Meski agak membosankan, tapi kita tau bahwa Mark berusaha susah payah untuk men-distraksi pikirannya dari derita yang sedang dialaminya. Sarkasmenya juga ditampilkan dengan porsi yang gak berlebihan, seperti ketika dia berhasil menanam kentang pertamanya dan mengejek astronaut legendaris dengan kalimat angkuh, “In your face, Neil Armstrong.” Menertawakan kesialan diri tampaknya merupakan satu-satunya obat terampuh untuk mengobati keputusasaan yang udah mencapai titik nadir. Itu semua menjadi perpaduan asyik yang disajikan Ridley.

Meski ada beberapa film survival terkenal, Ridley mencoba untuk gak mengulang formula yang sama. Matt Damon ditampilkan berbeda dari Tom Hanks di “Cast Away” yang delusional menciptakan teman dari bola voli dan menonjolkan transformasi fisik ekstrem. Ridley menampilkan itu semua tapi gak mengekor seratus persen. Mark tetap ditampilkan sebagai Mark, ilmuwan waras yang hampir gak waras karena, literally, jadi satu-satunya manusia di planet.

Selain karakter Mark yang gemilang, direktur misi NASA Vincent Kapoor (Chiwetel Ejiofor) dan astronom nyentrik Rich Purnell (Donald Glover) juga patut diperhitungkan. Vincent digambarkan sebagai ilmuwan ‘manusiawi’ yang menjajal segala kemungkinan demi menjemput Mark. Sedangkan Rich Purnell yang mendapat peran kecil langsung jadi favorit penonton. Dia astronom NASA tapi perilakunya ceroboh ala anak kuliahan. Dan hebatnya, dia jadi otak di balik keberhasilan penjemputan Mark. Siapa coba yang gak jatuh cinta sama karakter pinter tapi slengekan?

Kulminasi kebrilianan Ridley adalah ketika hari penjemputan. Dia memasukkan elemen psikologi massa, yaitu perilaku kolektif – seperti ketika ada satu orang yang bertepuk tangan di keramaian maka orang lainnya akan ikut tepuk tangan dan seterusnya hingga semua orang di tempat itu tepuk tangan. Ridley menampilkan upaya penyelamatan itu di giant screen di berbagai tempat di dunia. Penonton di dalam film (yang menonton giant screen) dan bioskop dibuat tenggelam dalam ketegangan upaya penyelamatan. Pada penonton bioskop efeknya dua kali lipat lebih tegang karena mereka melihat euforia keramaian penonton di dalam film plus cerita penjemputan itu sendiri. Maka hasilnya adalah klimaks yang benar-benar klimaks.

Buat gw, “The Martian”, dengan cerita dan visual yang lebih membumi (atau dalam hal ini mem-mars) dibandingkan Interstellar” dan “Gravity”, berhasil menempati posisi film favorit gw tentang luar angkasa dibandingkan kedua pendahulunya. Ditambah lagu “Starman” dari David Bowie, film ini resmi jadi film luar angkasa paling autentik sejauh ini. “In your face, Bullock-McConaughey!”

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 424 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Soundtrack James Bond “Spectre” Karya Sam Smith Dirilis

Close