Ulasan “Goosebumps” (2015)

“Goosebumps” karya R.L. Stine mungkin jadi pembuka jendela mimpi buruk pertama yang dialami anak tahun 90-an. Cerita-cerita horor menegangkan yang ditampilkannya mengajak kita bertualang meski nantinya kita selalu tau bahwa nasib para pemeran utama gak berakhir tragis. Setelah hampir 20 tahun direncanakan, film ini akhirnya berhasil diwujudkan. Tapi sutradara yang direncanakan di awal, Tim Burton, batal menggarap film ini, malah Rob Letterman (“Gulliver’s Travels” dan “Shark Tale”) yang terpilih. Alih-alih mengangkat satu dari 62 cerita bukunya, Rob Letterman dengan brilian merangkum hampir semua makhluk astral dengan poros cerita penulisnya sendiri.

Dikisahkan Zach Cooper (Dylan Minnette), bersama ibunya (Amy Ryan), pindah ke kota kecil setelah kematian ayahnya. Di rumah barunya itu ada cewek cantik yang jadi tetangganya, bernama Hannah (Odeya Rush) yang ternyata adalah anak dari penulis terkenal R.L. Stine (Jack Black).

Zach pada suatu malam mendengar Hannah berteriak dan oleh karenanya berniat menyelidiki rumah tetangga barunya itu. Dia masuk bersama temen cupunya Champ (Ryan Lee) dan menemukan buku-buku karangan Stine yang terkunci rapi. Buku-buku tersebut digembok ternyata karena bisa mengeluarkan monster dan makhluk-makhluk astral lainnya yang ada di dalam buku. Di situlah kekacauan dimulai.

Makhluk-makhluk ciptaan Stine yang dulu pernah jadi mimpi buruk anak-anak; boneka ventriloquism Slappy, gnome-gnome jahat, mumi, zombi dan werewolf – dimunculkan secara serempak. Namun, pendekatan yang dipakai Rob untuk menggarap film thriller ini sepertinya lebih menyasar pada penonton anak-anak. Makhluk-makhluk itu ditampilkan ‘less scary’ dengan sisipan komedi di sana-sini serta efek suara yang gak bisa membuat lo melompat dari kursi. Buat gw, penampilan monster yang berhasil membuat tegang cuma werewolf. Selebihnya, Rob cenderung bermain aman dengan segmentasi penontonnya tersebut.

Dengan cerita yang ringan, “Goosebumps” dapat dikategorikan sebagai film keluarga. Namun, meski ringan, ada celah dalam ceritanya yang sampai akhir gw menunggu untuk mendapatkan penyelesaiannya, seperti alasan kenapa Hannah (atau makhluk mirip Hannah?) teriak, yang menyebabkan Zach penasaran ke rumah tetangga barunya itu.

901718 - Goosebumps
Champ (Ryan Lee)

Eksplorasi karakter juga terkesan tanggung kecuali untuk Jack Black. Hampir semuanya ditampilkan sangat keras berusaha untuk lucu dengan celetukan dan gesture mereka. Bicara tentang gesture, Zach sangat berusaha untuk tampil muda dengan mimik dan celetukan ciri khas remaja. It’s okay but a little bit too much. Malah sidekick pemeran utama, Champ, tampil effortlessly funny didukung oleh penampilannya yang mendukung untuk itu.

Cerita berisi monster-monster “Goosebumps” ini disajikan dengan tempo cepat dalam adegan berurutan tanpa jeda sehingga membosankan buat gw. Twist yang ditawarkan juga gak menantang penonton dan hanya kemaruk ingin memasukkan semua monster dalam satu frame atas nama nostalgia para pembaca bukunya. Malah hal yang menarik sepertinya luput untuk digali lebih dalam, seperti mesin tik yang gak dijelaskan dari mana kekuatan mistisnya berasal.

Pada akhirnya “Goosebumps” hanyalah tontonan nostalgia sederhana bagi para penikmat bukunya yang kini udah beranjak dewasa tanpa banyak keseraman dan hanya mampu mengurai senyuman, bukan teriakan. But still, this movie is far better than other menye-menye werewolf movies, like “Twilight” or “Ganteng-ganteng Sifilis”.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 147 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “The Martian” (2015)

Close