Ulasan “Bridge of Spies” (2015)

“Bridge of Spies” bukan film yang menceritakan tentang kehebatan spionase namun tentang risiko kegiatan spionase bagi pelaku dan dampaknya terhadap negara-negara yang berkaitan. Adalah Steven Spielberg yang menggarap film yang gue berani sebut ciamik ini. Berlatar perang dingin antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia pada 1960 kedua negara ini saling mengirimkan mata-mata demi mengumpulkan informasi paling remeh-temeh tentang masing-masing pihak.

“Bridge of Spies” terinspirasi dari kisah nyata James Donovan, seorang pengacara asuransi yang disewa oleh pemerintah AS untuk membela mata-mata Rusia Abel. Cerita berawal sangat statis dan kelabu, memperlihatkan James Donovan (Tom Hanks) tengah berdebat santai dengan rekannya sesama pengacara lalu berganti dengan adegan beberapa orang laki-laki berbadan besar dan tegap tengah mengintai dan membuntuti seorang laki-laki tua, Rudolf Abel (Mark Rylance) yang kelihatannya sangat tidak berbahaya bahkan terkesan payah dan lemah.

Namun, akhirnya takdir dua laki-laki berbeda profesi ini bersinggungan saat James Donovan yang memiliki sebuah firma hukum ditawari untuk membela Rudolf Abel yang menjadi tersangka spionase. Penunjukan Jim (sapaan James Donovan) untuk membela Abel sebenarnya hanyalah sebuah rekayasa untuk memperlihatkan seolah AS yang saat itu tengah perang dingin dengan Rusia akan memberikan peradilan yang adil bagi Abel yang merupakan seorang mata-mata Rusia.

Walaupun pada awalnya Jim enggan untuk menerima kasus tersebut karena tidak ingin menjadi sorotan publik dan menjadi sasaran karena tingginya tingkat kebencian masyarakat terhadap Rusia, pada akhirnya dia setuju untuk membela Abel karena komitmennya terhadap prinsip keadilan dan perlindungan pada HAM.

Selama persidangan timbul hubungan tak terduga antara Abel dan Jim karena sikap saling menghormati dan komitmen keduanya terhadap idealisme yang dijunjungnya.

Penunjukan Jim sendiri dikarenakan materi yang disampaikan Jim saat menjadi pembicara dalam sebuah seminar. Masalah terbesarnya adalah Jim bukan seorang penuntut umum atau pengacara tindak pidana dia adalah seorang pengacara asuransi namun apakah itu membuatnya kurang kompeten dalam menangani kasus pidana? Untuk menemukan jawabannya, lo harus nonton filmnya dan pastikan jangan sampai ketiduran. Ya, durasinya cukup panjang untuk ukuran film non-epic tapi tidak untuk standar mahasutradara Spielberg. Dua setengah jam!

Dalam film ini jelas beberapa rintangan yang harus dihadapinya sebagai seorang pengacara; dianggap pengkhianat karena membela mata-mata Rusia, perlakuan tidak adil di pengadilan, ancaman kebencian dan ancaman negara. Namun, hebatnya ancaman tersebut tidak membuatnya goyah untuk membela Abel yang saat ditemuinya tenyata adalah seorang yang lembut hati.

Film ini juga nggak melulu serius dan membosankan. Ada komedi gelap yang terselip di sana-sini yang walau terdengar sangat satire saat dilontarkan namun tetap bisa membuat kita terkekeh geli karena membayangkan situasinya yang sangat pelik saat itu.

Keteguhan seorang Jim juga tidak dapat disepelekan, gue yang lulusan fakultas hukum dengan bokap yang seorang pengacara aktif aja pasti gentar juga kalau ancaman yang didapat dari lingkungan sosial bisa membahayakan keluarga tapi hal ini kayaknya sama sekali nggak menyurutkan semangatnya untuk membela hak-hak Abel yang hanya menjalankan “tugas” dari negaranya.

Jim juga mungkin sangat menjunjung adagium “lebih baik melepaskan sepuluh orang bersalah daripada menghukum satu orang tidak bersalah” dan jargon “fiat justitia ruat caelum” – keadilan harus ditegakkan meski langit runtuh – sebagai pegangan hidupnya. Bagi Jim, seorang Abel yang dengan sangat kesatria berupaya tidak membelot dari negaranya dengan berbalik membantu AS adalah seorang yang patut mendapatkan hukum yang seadil-adilnya walaupun itu berarti Jim harus memperjuangkannya seorang diri dan menjadi seorang persona non grata. Jim juga sadar sepenuhnya bahwa dia bertindak atas nama negara tapi negara sendiri tidak mengakui hal tersebut.

Konflik yang ditawarkan dalam film ini memang biasa banget dalam dunia apalagi dalam hukum perang. Dalam hukum perang, hukuman mati bagi mata-mata sendiri adalah sebuah tindakan yang biasa. Pun sama halnya dengan barter tahanan. Hanya saja, yang membuat konflik kian mencekam adalah kesalahan sedikit saja dari Jim dapat menimbulkan perang nuklir bagi kedua belah negara. Mengerikan?

Secara keseluruhan “Bridge of Spies” layak untuk dijadikan tontonan sejarah yang edukatif karena kita bisa juga belajar bahwa spionase itu nggak melulu tentang James Bond tapi ada sisi lain yang nggak pernah diperlihatkan: mediasi dan kecerdasan berdiplomasi bisa menentukan nasib suatu negara.

Ini adalah kata-kata yang gue rasa jadi daya tarik film ini, dialog singkat antara Jim dan Abel yang intinya cemas itu nggak ngebantu apa-apa. Wicked!!!

James Donovan: Aren’t you worried?

Rudolf Abel: Would it help?

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 186 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ucapkan “Hello”, Adele Is Back!

Close