Ulasan “Beasts of No Nation” (2015)

“Beasts of No Nation” bukan film yang mengusung tema antiperang biasa. Jika lazimnya film antiperang sedikit memamerkan ‘kemegahan’ perang – seperti teknologi, aspek kolosal, strategi kelas wahid – untuk dikontraskan dengan derita yang diakibatkannya, film ini sama sekali menjauhi tradisi tersebut. Film ini benar-benar hanya menyajikan agonia yang paling pahit dari perang. Dalam dua jam durasinya kita dipaksa merasakan kemurungan dan kepedihan perang. Gak ada selebrasi yang layak dikenang di dalamnya karena memang perang gak menawarkan kemenangan sejati.

Premisnya berpusat pada seorang tentara anak, Agu, yang diperankan oleh Abraham Attah – aktor yang baru memulai akting perdananya lewat film ini. Agu dikisahkan sebagai seorang anak dari keluarga sederhana yang hidup cukup ceria hingga suatu saat perang yang berkecamuk merambat ke tempat tinggalnya. Adik dan ibunya berhasil melarikan diri dengan mobil sewaan ketika sedang darurat perang. Dia tertinggal di kampungnya bersama dengan ayah dan kakaknya. Nahas, kakak dan ayahnya terbunuh oleh milisi setelah tempat persembunyian mereka diketahui.

Agu kemudian melarikan diri dari milisi yang membunuh ayah dan kakaknya tersebut hingga tersesat di hutan dan di sana ia ditangkap oleh kelompok milisi lain, NDF, yang diketuai oleh seorang Komandan (Idris Elba). Setelah itu ia dilatih menjadi tentara untuk jadi bagian kelompok pemberontak tersebut.

Sang sutradara, Cary Fukunaga (“Jane Eyre”, “True Detective”), beberapa tahun ke belakang sudah meriset tentang tentara anak yang jumlahnya saat ini ada sekitar 250.000 di dunia. Dia belum menemukan formula yang pas untuk mengupas isu ini hingga ia membaca novel Uzodinma Iweala yang berjudul sama. Dia lalu menggodok cerita film ini selama tujuh tahun.

Film ini digambarkan dengan jeli oleh Cary. Perjalanan emosional Agu diejawantahkan dengan jelas, baik melalui perilaku maupun suara hatinya. Agu yang tadinya polos dan digambarkan religius – ditampilkan sering berbicara dalam hati dengan Tuhan – akhirnya berubah menjadi anak kecil yang gak segan membelah kepala orang atau menembak wanita yang sedang diperkosa temannya. Dampak perang bagi mental seorang manusia jelas tergambar di film ini.

Sedangkan untuk tema besar tentara anak, Cary, tetap gak lupa menyisipkan potret kepolosan jiwa kanak-kanak Agu, menyandingkannya dengan pemeran pembantu Strika (Emmanuel “King Kong” Nii Adom Quaye) yang tidak bisa bicara. Persahabatan erat khas anak kecil antara mereka terjalin berkat satu rasa sepenanggungan. Meski kebanyakan hubungan mereka dilakukan dengan dialog satu arah, gesture mereka menunjukkan keterikatan yang gak bisa diucapkan dengan sekadar kata-kata.

Beasts-of-No-Nation-Abraham-Attah-Idris-Elba-600-400Satu-satunya magnet Hollywood di film ini, Idris Elba, sama sekali gak bisa disebut sekadar jadi dongkrak bagi film ini. Idris digambarkan sebagai sosok komandan yang kesempurnaannya hampir mendekati myth. Dia menunjukkan persona dengan kualitas seorang pemimpin sejati; rangkaian kalimatnya persuasif, piawai meningkatkan morale prajuritnya, obsesif terhadap tujuannya serta sama sekali gak meragukan keputusannya. Meski ditampilkan seperti itu, Idris juga tampak diatributkan dengan sifat-sifat yang manusiawi. Dia gak segan menunjukkan sikap kebapakan bagi Agu dan Strika meski kita tau bahwa itu merupakan salah satu cara untuk menjaga loyalitas prajuritnya. Kepribadiannya yang sudah complicated itu semakin pelik setelah dikontraskan dengan orientasi seksualnya, yang membuat karakter ini benar-benar legendaris. Buat gw, ini mungkin karakter villain paling epic setelah karakter Governor (David Morrissey) di serial “The Walking Dead”.

Aspek dalam perang lainnya juga diangkat dengan cerdas dalam film ini. Tujuan perang kadang masih kabur bahkan, gak jarang, sama sekali gak masuk akal. Para petinggi di lapangan kadang hanya jadi alat bagi penguasa yang lebih tinggi untuk mewujudkan kepentingannya. Mereka seolah hanya boneka dari the invisible puppetter yang gak mau mengotori tangan mereka sendiri dengan darah. Para pejuang yang uneducated dan hanya tau bertempur diperalat sedemikian rupa dengan hanya dijanjikan kenaikan pangkat dan standar hidup yang semu.

Cary yang juga merangkap sebagai sinematografer sama sekali gak bisa disepelekan. Gambar-gambar yang dihasilkan berhasil menguras perasaan penonton dengan tone yang indah sekaligus suram bahkan kadang nyeleneh. Pada suatu adegan, para tentaranya mengonsumsi semacam narkoba. Mereka mengonsumsi narkoba supaya gak merasa gentar ketika berperang. Dan efeknya baru terasa ketika mereka menyerang musuh. Warna hijau pada dedaunan berubah nuansa menjadi ungu dan langit biru berubah jadi kelabu, menggambarkan halusinasi psychedelic. Adegan itu mengajak kita untuk merasakan perspektif para pejuang tersebut ketika perang. Dan membuat kita tau bahwa ada aspek buruk lain, selain tembak-tembakan, yang terlibat dalam perang. Pemerkosaan, penjarahan, penculikan dan, tentunya, narkoba udah seperti jadi bumbu wajib dalam perang.

Film ini bukan gak memiliki kelemahan sama sekali. Dalam novelnya, Uzodinma mengatakan bahwa setting ceritanya adalah di Afrika tapi negaranya gak disebut secara spesifik. Dan sampai akhir alasan perang pun gak dijelaskan secara eksplisit. Tadinya gw menganggap ini di Nigeria karena ada beberapa faksi militan yang bertikai lalu referensi NDF tiba-tiba dimunculkan, yang gw tau cuma ada di Suriah. Tapi referensi itu jadi gak bisa dipakai ketika dibenturkan dengan novel tersebut yang gak menyebut lokasinya. Jadi sampai akhir penonton gak tau ini perang tentang apa dan di mana. Mungkin emang tujuan utama film ini adalah untuk menunjukkan pada dunia tentang fenomena penderitaan tentara anak. Bagi pembaca novelnya mungkin akan terkejut bahwa sang Komandan gak mati dibunuh anak buahnya tapi ini bukan masalah besar karena Cary mengganti ‘kehilangan’ itu dalam bentuk lain.

Film yang hak distribusinya dibeli oleh Netflix ini hasil penjualannya gak terlalu sukses di bioskop. Tapi ini bukan berarti jadi kerugian untuk mereka. Hal ini dikarenakan Netflix picky dalam memilih bioskop mana saja yang boleh menayangkannya. Mereka lebih berfokus memuaskan jutaan pelanggan mereka yang dapat menikmati film ini di rumah. Pilihan Netflix tersebut kemungkinan akan mempersulitnya untuk masuk dalam nominasi Oscar karena persyaratan penghargaan tersebut adalah film harus diputar di Los Angeles minimal sepekan atau gak ditayangkan dalam format nonbioskop sebelum ditayangkan di LA. Tapi, semoga Oscar bisa membuat pengecualian untuk film ini karena “Beasts of No Nation” benar-benar layak untuk diketahui dunia.

Jika disimpulkan “Beasts of No Nation” adalah film yang sebenar-benarnya dalam menggambarkan penderitaan perang sampai saat ini. Sama sekali gak ada glorifikasi yang bisa membuat perang bisa dijustifikasi. Agu dan kawan-kawannya udah cukup menggambarkan bagaimana buruknya dampak perang. Dengan musik ambience mencekam dari Dan Romer, film yang layak dapat penghargaan setara Oscar ini sama sekali gak mudah untuk ditonton. Adegan keji seperti membacok kepala, daging yang terkoyak, luka menganga dan pemerkosaan terlalu gore untuk ditampilkan di bioskop. This movie is clearly not for the faint-hearted. Tapi mungkin, beginilah gambaran perang yang sesungguhnya.

Dan pada akhirnya, meski puitis, film ini mungkin bisa jadi tempelengan bagi kita untuk menjauhi atau bahkan sama sekali gak memikirkan ide untuk menginisiasi perang, dalam bentuk apa pun. Semoga Agu jadi anak terakhir yang merasakan pahitnya perang di dunia ini.

Sun, why are you shining on this world? I am wanting to catch you in my hands. To squeeze you, until you cannot shine no more. That way, everything is always dark and no one is having to see all the terrible things that are happening here.

– Agu

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 454 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Bridge of Spies” (2015)

Close