Ulasan “Pixels” (2015)

“Pixel” sebenernya berpotensi sukses karena mengusung tema dunia game klasik yang disukai hampir semua orang. Pac-Man, Galaga, Space Invaders, Tetris, Centipede, Q*bert dan beberapa game lainnya menjadi poros utama cerita. Dan sudah pasti kenangan akan muncul bagi setiap penontonnya yang juga gamer. Tapi keseluruhan ceritanya tidak terlalu spesial karena hanya menampilkan game-game tersebut secara acak dan tidak fokus dalam mengeksplorasinya. Hanya Donkey Kong dan Pac-Man yang tampaknya mendapatkan penanganan khusus dalam film ini.

Film ini berkisah tentang Sam Brenner (Adam Sandler) kecil dan teman-temannya Will Cooper (Kevin James), Ludlow Lamonsoff (Josh Gad) dan Eddie Plant (Peter Dinklage). Mereka adalah anak-anak cupu tapi jagoan dalam bidang arcade game. Sampai suatu saat mereka mengikuti turnamen game. Rekaman final turnamen tersebut dibawa oleh NASA ke luar angkasa dan dilihat oleh alien yang menggangap itu sebagai tantangan perang dari Bumi.

Ketika dewasa, Will Cooper, yang menjabat sebagai presiden, mendapat cobaan sebagai pemimpin. Negaranya, AS, diserang oleh alien-alien yang meniru video rekaman turnamen game tadi. Akibatnya dia harus memanggil kembali teman-temannya untuk membasmi alien itu karena merekalah yang paham seluk-beluk game klasik tersebut, menyelipkan pesan eksplisit bahwa anak sekarang yang main Call of Duty bukan gamer sejati karena mereka gak bisa membaca pola permainan.

Pixels-2Secara visual, film dengan  piksel kotak-kotak ini bisa dibilang cukup memanjakan mata. Beberapa efek termasuk penggambaran Pac-Man yang jadi penjahat terus dikejar pakai ghost dengan bentuk mobil warna-warni cukup seru. Tapi secara cerita, Adam Sandler berakting seperti Adam Sandler. Rasanya selalu ada sesuatu yang kurang dalam leluconnya. Entah sudah basi atau memang itu ciri khas yang dipegang secara konsisten oleh dia dalam setiap filmnya.

Adam Sandler buat gw dalam setiap filmnya hanya menawarkan celetukan konyol – gak jarang sexist – yang bisa berdiri sendiri tanpa harus relevan dengan cerita serta hampir selalu bernasib baik; selalu dipasangkan dengan wanita cantik. Selebihnya tidak ada yang spesial dari filmnya. Pun sama halnya dengan “Pixel”. Bagi pecinta Pac-Man mungkin akan mengharap lebih dari sekadar pemindahan game 2D tersebut ke dalam gambar tiga dimensi live action yang benar-benar hidup dan berinteraksi dengan manusia. Meski diramaikan oleh banyak cameo, seperti Madonna, Serena Williams, Martha Stewart bahkan pencipta Pac-Man, Toru Iwatani sebagai mekanik, film ini gak bisa dibilang film yang seru jika dibandingkan dengan “The Lego Movie” yang sama-sama membangkitkan memori masa kecil.

Pixels_Screengrab_1Kevin James tampil cukup bagus meski gak semenggemaskan di “Mall Cop”. Peter Dinklage juga tampil dengan ciri khas suara parau dan sisi misterius. Sedangkan Toru yang digigit oleh Pac-Man itu sebenernya diperankan oleh Denis Akiyama. Ide untuk menggantikan Toru itu juga patut dipertanyakan soalnya Denis juga gak berakting brilian-brilian amat. Kenapa gak sekalian aja dimainkan oleh Toru yang asli? Toh mungkin hasilnya gak akan berbeda jauh.

Secara keseluruhan film ini ya memang sangat pas disebut film Adam Sandler, yang biasanya menghasilkan film pas-pasan.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 146 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Panduan Pelafalan Makanan Asing

Close