Ulasan “Piku” (2015)

A: Udah nonton film India “Piku”?

B: Hah? “PK” kali.

A: Bukan, “Piku”.

B: Salah kali lo, “PK”!

Ini salah satu respons paling umum ketika membahas film “Piku” di tongkrongan gw. Popularitas film ini emang berbeda jauh dibandingkan “PK” yang fenomenal itu. Padahal film ini gak kalah bermaknanya jika dibandingkan dengan “PK”.

Berkisah tentang hubungan seorang arsitek berusia 30-an, Piku (Deepika Padukone) dan ayahnya Bhaskor Banerjee (Amitabh Bachchan), film ini bisa dibilang sebagai drama yang lembut namun memiliki pesan kuat. Amitabh Bachchan, bintang legendaris India, digambarkan sebagai seorang duda berusia lanjut yang hipokondria (memiliki ketakutan berlebihan atas penyakit ringan yang dideritanya – dalam beberapa kasus penderita hipokondria malah sebenernya gak mengidap penyakit apa pun). Bhaskor digambarkan memiliki sembelit, penyakit yang menjadi isu utama pembangun cerita ayah-anak tersebut. Unik, ya?

Piku sendiri juga diatributkan dengan kepribadian yang unik. Dia dewasa, pinter, masih belum menikah, udah gak perawan, judes serta berpikiran terbuka. Dalam berhubungan dengan ayahnya, Piku menunjukkan pribadi yang bertanggung jawab sekaligus geram terhadap ‘kemanjaan’ ayahnya. Sama sekali bukan cerita utopis. Sangat realistis karena hampir semua anak pasti dapat menganggap relevan sikap Piku tersebut.

Love-hate relationship dalam film ini ditampilkan apa adanya tanpa ada bumbu yang terasa berlebihan. Kita tidak perlu memeras otak untuk menyelami pengalaman pemerannya karena emang faktanya sudah tersaji jelas di hadapan kita dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai konflik juga gak segan dihadirkan antara ayah-anak serta orang-orang di sekelilingnya.

Bhaskor, dengan sinismenya, emang mudah dibenci oleh penonton, apalagi Piku. Tapi semua itu jadi berimbang karena pembawaan karakter Bhaskor yang membuat kita mafhum bahwa emang begitulah orang tua. Semakin tua orang semakin dia akan bersikap kekanak-kanakan, mencari perhatian dan apa pun yang bisa dianggap menyebalkan bagi orang yang belum pernah tua. Tapi romantisisme ini lebih sedap dinikmati dibandingkan film tentang asmara muda-mudi artifisial yang kadang terlalu giung (Sunda: kemanisan).

pikuFilm ini juga diramaikan oleh bintang Hollywood/Bollywood Irrfan Khan. Dia berperan sebagai juragan taksi yang naksi(r) Piku. Dia terpaksa terlibat dengan Bhaskor ketika harus mengantarkan mereka ke Kolkata untuk menengok rumah keluarga Bhaskor yang rencananya akan dijual. Dalam perjalanan ini dia beberapa kali terlibat perselihan dengan Bhaskor. Karakter Irrfan di sini juga ditampilkan humoris, realis, meski kadang cenderung sadis. Dia gak segan memarahi Bhaskor jika orang tua itu udah bersikap kelewatan. Namun, dia juga memiliki sikap ngemong dengan memberi tahu kiat-kiat buang air besar yang lancar untuk Bhaskor.

Drama keluarga di sekelilingnya meski gak menonjol tapi berhasil mengajak penonton merefleksikannya kepada kehidupan di dunia nyata. Dalam keluarga kita pasti punya tante cerewet, tante tukang ngeluh, paman yang baik dan selalu senyum serta detail-detail kecil dari keluarga lainnya. Momen ketika mereka pulang kampung ke Kolkata buat gw sangat sederhana namun dekat dengan kita. Atmosfer euforia keluarga Bhaskor ketika berkumpul menyeruak masuk ke memori kita ketika pulang kampung.

Bhaskor yang akhirnya berhasil B.A.B. setelah bersepeda keliling kota dan dimarahi Piku habis-habisan akhirnya meninggal dengan tenang keesokan harinya, dengan kutipan akhir paling nyentrik “Ini adalah buang air besar ternikmat dalam hidupku.” Bhaskor meninggalkan pelajaran – baik manis dan pahit – tentang cara menyikapi orang tua yang sedang krisis hari tua bagi Piku dan penonton.

Trivia: Bagi penonton yang antifilm India karena gak demen ada nyanyi-nyanyi dan nari yang kadang gak nyambung ama cerita, tenang aja film ini bebas dari itu. Jadi inget, film India yang layak tonton saat ini bukan cuma “PK” tapi juga ada “Piku”, PK with more romance because there are I and U in between. ❤️ *Naon, sih?

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 339 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Selamat Ulang Tahun Lampu Lalu Lintas

Close