Ulasan “Battle of Surabaya” (2015)

“Battle of Surabaya”, film animasi 2D layar lebar pertama di Indonesia memang patut diapresiasi. Jadi pionir dalam jenisnya, film ini tak pelak mendapat sorotan luas dari media, digadang-gadang dengan segala kehebatan dan penghargaan internasional untuk trailer yang diterimanya.

Film ini berkisah tentang Indonesia yang baru merdeka pada Agustus 1945 dari Jepang dan diusik kembali oleh Belanda dan sekutunya yang ingin menjajah lagi. Kondisi menjelang perang Surabaya November 1945 itu – yang sekarang diperingati sebagai Hari Pahlawan – tidak aman bagi mobilitas orang dewasa maka dipilihlah Musa (Ian Saybani), seorang bocah miskin penyemir sepatu untuk menjadi pengantar pesan bagi para pejuang karena anak kecil tidak mungkin dicurigai oleh tentara musuh.

Konsep cerita tersebut sebenarnya udah bagus, mengingatkan gw pada perang di Aljazair yang dibantu wanita dengan menyembunyikan senjata di balik jilbab panjangnya karena mereka gak mungkin digeledah layaknya pria. Heroik sekaligus mencekam. Gw udah siap terpukau.

Tapi itu hanya sebatas menjadi keinginan di angan karena film ini gak semenegangkan itu.

Walau transisi antar-frame cukup menarik – seperti asap rokok yang di-panning untuk menjadi awan atau asap lokomotif *agak lupa – transisi antaradegan terkesan melompat tanpa arah. Pengenalan karakter-karakternya seperti terburu-buru, tanpa latar belakang dan motif konkret sehingga penonton sulit memilih untuk bersimpati ke siapa. Dan parahnya, jumlah karakter tersebut terlalu banyak serta ditampilkan tanpa fokus yang jelas.

Detail statistik juga ditampilkan gak tanggung-tanggung. Nama kota dan tanggal terlalu banyak ditampilkan dengan durasi yang sangat sebentar untuk bisa terbaca padahal justru di situlah kemampuan terlemah audiens: memproses detail angka dan trivia yang tidak familier.

Film animasi ini, yang sejatinya mau gak mau harus bisa dinikmati penonton segala usia, tergolong cukup berat. Bahasa yang digunakan (contoh: paramiliter) terlalu rumit untuk bisa dicerna bocah-bocah yang nanya terus di samping gw di bioskop.

Untuk animasinya sendiri cukup bagus meski ada beberapa kekurangan mencolok. Background, coloring, angle serta lighting-nya cukup memuaskan mata. Tapi hal tersebut sayangnya dihancurkan oleh frame rate yang kayaknya rendah banget sehingga gerakan animasinya jadi terlihat patah-patah, kayak nonton Youtube di handphone murah yang udah abis kuota internetnya.

Adegan perangnya cukup epic meski terlalu sebentar ditampilkan. Turbulensi malah lebih berfokus pada karakter-karakter yang tersebar di berbagai daerah. Momen perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato juga tampak tidak mendapat perlakuan istimewa dalam penggarapannya sehingga terkesan datar, tak jauh berbeda dari konflik lainnya.

Jika dilihat secara lebih mendetail, sinkronisasi suara dan gerakan mulut karakternya juga masih menyedihkan. Jika boleh dibandingkan dengan animasi buatan anak bangsa lainnya, “Battle of Surabaya” masih berada jauh di bawah “Adit Sopo Jarwo” untuk masalah sinkronisasi dubbing.

cak soleh
Cak Soleh

Berbicara masalah dubbing, hanya ada dua karakter yang terdengar meyakinkan: Danu (Reza Rahadian) dan Cak Soleh. Dan ajaibnya keduanya bukan tokoh utama. Sedangkan karakter utama, Musa, walau terdengar menjiwai tapi – entah luput atau disengaja – sama sekali tidak memanfaatkan dialek Surabaya yang terkenal itu. Di sisi lain, karakter Yumna (Maudy Ayunda) terdengar lebih seperti membaca skrip dibandingkan berakting. Gak ada emosi yang terlibat dalam seluruh dialognya kecuali bagian, “Mas Danu bohong!”

Untuk film yang katanya didedikasikan sebagai hadiah ultah RI ke-70, “Battle of Surabaya” tampak masih agak malu-malu menggunakan bahasa daerah yang menjadi tema ceritanya. Padahal beberapa adegan terlucu diciptakan oleh interaksi antara tokoh dengan dialek Jawa dan Batak. Menggelikan menonton film rasa anime Jepang dengan dubbing seperti itu. Rasanya itu akan lebih berhasil membangun proximity dengan rakyat Indonesia, utamanya orang Surabaya. Di JTV – stasiun TV berbahasa Jawa yang tayang di Jawa Timur dan Tengah – bahkan serial TV “Knight Rider” di-dubbing dengan bahasa Jawa kasar. Dan itu lucu!

Pun jika nantinya bahasa daerah tersebut harus dibuatkan subtitle, rasanya tidak akan jadi masalah mengingat banyak dialog dalam bahasa Belanda dan Inggris yang juga ditulis di subtitle. Kenapa lebih memaklumi budaya asing dibandingkan negeri sendiri? Bisa jadi ini karena alasan komersialisasi. Bukan tidak mungkin film ini ditargetkan untuk ditayangkan secara global mengingat Walt Disney Asia Pasifik tertarik pada pemasaran film ini.

Sebagai film animasi 2D pertama di Indonesia, “Battle of Surabaya” layak untuk dipertimbangkan meski banyak celahnya. First-timer, bruder jadi maklum aja. Sutradara Aryanto Yuniawan juga mungkin masih minim pengalaman dalam menggarap film animasi jadi hasilnya, meski membanggakan, masih jauh dari memuaskan. Tapi secara keseluruhan “Battle of Surabaya” layak dapat dua jempol untuk menjadi yang pertama tapi ya cuma itu, selebihnya gak ada yang terlalu spesial dari film ini. Semoga ini jadi pembuka untuk film animasi Indonesia yang lebih bagus nantinya.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 404 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan Komedi Nyentrik “Amélie” (2001)

Close