Ulasan “Yakuza Apocalypse” (2015)

Mungkin udah ada ratusan atau bahkan ribuan film Jepang bertema yakuza – mafia sadis yang disegani dengan ciri khas tato di sekujur tubuh – tapi “Yakuza Apocalypse” yang berjudul asli “Gokudou Daisensou” ini adalah sebuah warna baru. Yakuza yang jadi vampir. Yakuza tanpa jadi vampir pun udah mengerikan apalagi kalo bisa hidup abadi kayak vampir. Tapi apa film ini sebagus itu? Tunggu dulu.

yakuza-apocalypseAdalah Yayan Ruhiyan (“The Raid”) yang membuat gw tertarik menonton film ini, mengingat keberingasannya mempertontonkan silat yang indah dalam film besutan Gareth Evans itu. Ya, film ini adalah film internasional pertama Yayan setelah alumnus “The Raid” Joe Taslim main di “Fast and Furious 6”. Malah Iko Uwais udah di beberapa film internasional, dengan kabar terbaru menyebutkan dia akan main di “Mile 22” bareng Mark Wahlberg dan Ronda Rousey.

Cerita film besutan sutradara nyeleneh Takashi Miike ini bener-bener di luar akal sehat. Semuanya seperti digarap sesuai selera sang sutradara. Masih ingat film pendek narsisistik Willem Dafoe di “Mr. Bean’s Holiday”? Nah, film ini lebih membosankan daripada itu. Padahal gw berharap banyak dari film ini mengingat kesuksesan dia sebelumnya menggarap “Crow Zero”, film tentang anak SMA berandalan yang teriak-teriak dengan urat leher mencolot. Adegan perkelahian yang seharusnya jadi daya tarik utama dari yakuza gak disajikan total di film ini.

Film dengan alur cerita berantakan ini mengisahkan tentang Genyō Kamiura (Lily Franky) sebagai yakuza yang kebal dari segala macam senjata. Hal itu ternyata karena dia adalah vampir. Untuk bisa kuat dia harus minum darah. Uniknya, darah yang diminum cuma darah sesama yakuza, dia ogah menyakiti warga sipil. Lalu kemudian dia dibunuh oleh kelompok yang entah datang dari mana, yang salah satu anggotannya adalah Yayan. Di sini Yayan berpenampilan seperti otaku culun tapi jago bela diri. Lalu anak buah Kamiura, Akira Kageyama (Hayato Ichihara) jadi vampir setelah digigit oleh kepala bosnya yang udah dipenggal dan berusaha menuntut balas pada yakuza lainnya.

Yayan cukup banyak mendapat dialog di sini dibandingkan “The Raid”. Tapi percakapan dia di sini sama hambarnya dengan adegan ketika dia menemui istrinya (Marsha Timothy) di “The Raid” plus bahasa Inggris yang gak bisa dibilang fasih. Yayan memang ditakdirkan sebagai mesin pembunuh bukan untuk berdialog. Namun, di sini kemampuan silat Yayan sama sekali tidak ditampilkan semaksimal di “The Raid”. Film ini sangat menyia-nyiakan talenta Yayan, yang sebenernya sama sekali gak memerlukan dialog.

yakuzaapocalypsefrog-xlargeKarakter-karakter yang ditampilkan cukup banyak namun gak ada satu pun yang punya kekuatan untuk jadi bintang. Porsinya terkesan diberikan seadanya tanpa special treatment. Ada Kappa (manusia berparuh burung yang bau), jagoan bela diri berkostum kodok, terus saingan Kamiura yang seharusnya agresif tapi keliatan lembek banget dan dari kupingnya bisa keluar air deras. Ya, lo gak salah baca, film ini emang seaneh itu.

Mungkin bagi pecinta Takashi, film ini gak ada apa-apanya dibandingkan “Gozu”, “Ichi The Killer” atau “13 Assassins”. Dan emang seperti itulah genre film Takashi yang menabrak semua batas nalar. Tapi bagi penonton yang ingin menikmati film ini karena andil si jago silat Yayan Ruhiyan, sutradara sudah berhasil mencapai tujuannya, yaitu mengecewakan penonton. Yayan mungkin harus lebih selektif lagi memilih peran, mengingat citranya yang udah sebegitu lekat sebagai Mad Dog. Atau jika udah capek bertarung dan memilih film seperti ini lagi, setidaknya harus lebih giat dalam mendalami dialog.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 292 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Foto Teaser “Batman v Superman: Dawn of Justice”

Close