Ulasan “Ant-Man” (2015)

Setelah sukses menampilkan rangkaian superhero-nya, Marvel Cinematic Universe kembali dengan jagoannya, Ant-Man, yang bisa dibilang kurang terekspos dibandingkan Iron Man, Captain America atau Hulk.

Walau begitu, formula keseluruhan “Ant-Man” tampaknya udah tersirat dari film Marvel sebelumnya; “Avengers: Age of Ultron”. Hawkeye (Jeremy Renner) dimunculkan sebagai seorang bapak dengan keluarga yang harmonis. Di situ kita ditawari gagasan bahwa superhero juga manusia biasa, yang kedatangannya dengan selamat ditunggu oleh keluarganya di rumah sama seperti pemudik lebaran kemaren.

Film ini mengeksplorasi lebih dalam isu kebapakan tersebut. Hal itu membuat Scott Lang (Paul Rudd) mudah mendapatkan simpati meski bisa dibilang dia adalah seorang loser dalam kehidupan secara keseluruhan. Siapa yang gak terenyuh melihat bapak memperjuangkan mati-matian demi kebahagiaan anak perempuannya yang lucu?

“Ant-Man”, yang terbilang asing bagi penonton yang bukan penggemar fanatik Marvel Universe, mempunyai beban untuk menjelaskan asal-usul pahlawan tersebut. Dalam paruh pertama cerita dibangun dengan membeberkan ‘embrio’ pahlawan tersebut, mulai dari latar belakang, cara kerja baju saktinya, serta vilain dan hero-nya sendiri. Gw lebih menikmati paruh pertama ini karena lebih kaya konflik dan emosi. Paruh kedua yang seharusnya jadi puncak aksi malah terkesan selesai tanpa bekas yang layak dikenang.

Premis yang ditawarkan juga sama sekali gak baru; kejahatan tidak akan menang. Tapi yang jadi masalah, kejahatan di “Ant-Man” gak terlalu fatal atau bisa dibilang gak berdampak secara langsung pada keselamatan manusia. Villain-nya, Darren Cross (Corey Stoll), walau diperankan cukup apik namun terasa kurang keji dan ambisius.

Level bahaya di film ini gak terlalu masif karena hanya memfokuskan pada ambisi militer bukan menghancurkan manusia seperti film Marvel lainnya. Militer yang bisa menggunakan kekuatan serangga yang hampir invisible dan mungkin invincible baru akan menimbulkan bahaya untuk manusia setelah terjadi chain reaction, berbeda dengan kota yang diangkat dan dikocok-kocok di “Avengers” atau Loki dengan chitauri scepter-nya, yang biasa disebut militer sebagai imminent threat.

ant-man-trailer-new-feature-1200x520Lawan Ant-Man, Yellow Jacket – yang kostumnya dikendalikan oleh Darren Cross – meski terlihat sangar dan meyakinkan sayangnya gak diberi porsi yang cukup untuk tampil. Akibatnya pertarungan yang disajikan sama sekali gak memorable (kecuali adegan Tom si lokomotif yang dilempar itu *spoiler dikit).

Dan apakah memang semudah itu menggunakan kostum Yellow Jacket? Kenapa Scott mesti belajar mati-matian untuk bisa menguasai kostum tersebut sedangkan Darren gak terlihat latihan sama sekali tapi langsung mahir menggunakannya? Apa karena ambisi jahat yang cukup kuat membuat segalanya jadi mungkin? Sedangkan ambisi sendiri adalah hal yang abstrak. Dan lagi, film kan berkewajiban menampilkan alasan tersebut secara visual, alih-alih bergantung pada narasi.

Michael Pena yang berperan sebagai Luis layak diperhitungkan sebagai peran pembantu signifikan yang berkontribusi besar untuk film ini. Dari awal penampilannya dia berhasil mengocok perut penonton dengan aksen, kelakuan dan kepolosannya. Dua jempol buat aktingnya.

Secara keseluruhan “Ant-Man” lebih menonjol dalam komedi dibandingkan dengan kisah kepahlawanannya. Mungkin film ini lebih banyak berkiblat kepada “Guardians of The Galaxy” dibandingkan “Thor” atau “Avengers”. Tapi itu bagus karena kadang kita juga butuh tontonan Marvel yang tidak intens menampilkan detail suits of armor serta kekerasan yang bikin capek mata tapi lebih menonjolkan sisi manusia sang pahlawan. Kalo lo pecinta pertarungan mungkin akan sedikit kecewa tapi bakal lain jadinya bagi penggemar lelucon khas Marvel.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 128 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Bahaya Kanker di Balik Tren #SunburnArt

Close