Euforia Hari Raya

Pagi menjelang siang yang panasnya hot-hot pop guys!!! Masih semangat nggak puasanya? Hari-hari terakhir nih, sebentar lagi lebaran dan Jakarta sudah mulai sepi ditandai dengan waktu tempuh dari rumah ke kantor yang nggak lebih dari 15 menit saja. Lebay? Bodo amat, buat gue yang biasa kena macet ini berkah!

Kalau tahun lalu menjelang lebaran gue nulis tentang printilan lebaran yang berbau nostalgia, tahun ini gue mau ngebahas hal-hal yang bikin gue sedikit heran. Ini bukan dakwah, toh agama gue nggak bagus-bagus banget kok tapi seenggaknya mari berfikir dan mendidik diri sendiri biar nggak lagi jadi orang yang “nggak tahu”.

Baju Baru

images2Inget nggak dulu lagunya Dhea Ananda mantan personel Trio Kwek Kwek? Yang ceritanya tentang baju baru itu loh? Tapi dia juga bilang nggak punya baju baru juga nggak apa-apa kok soalnya masih ada baju yang lama kan?

Nah kurang lebih itu nyeritain kita banget loh, iya kita itu termasuk GUE. Sayangnya budaya membeli baju baru itu jadi budaya yang mengakar banget. Idul Fitri akhirnya jadi ajang pamer baju baru, yah balik lagi akhirnya sih kalau yang punya uang sah sah saja tapi yang jadi masalah adalah kalau harus sampai mencuri demi ini. Ahh..miris cuy.

Sebenarnya yang paling penting dari Idul Fitri itu adalah memperbarui hati, bukan maksudnya bukan transplantasi hati, tapi niatan untuk ngurang-ngurangin dosa di masa setahun yang akan datang sambil nunggu Ramadhan selanjutnya. Percuma kalau bajunya baru tapi kelakuan nggak berubah, kurang-kuranginlah.

Masak Besar

Huft, kayak yang pernah gue bilang kalau masak besar itu bikin repot karena gue yang harus masak, sebenarnya selain itu masak besar itu pemborosan. Kenapa? Karena lo akan bosan makan ketupat dan teman segenknya menjelang hari ketiga, bahkan akan lebih cepat lagi kalau lo punya banyak tempat yang harus disambangi dan sajiannya itu-itu doang. Niscaya pada hari keempat lo akan sibuk cari makanan yang teksturnya lebih ringan kayak bakso atua mpek-mpek.

Berangkat dari situ gue berpikir sebenarnya masak dalam jumlah biasa lebih baik.

Masjid yang Beranjak Sepi

Lo liat deh masjid yang pada awal ramadhan ramainya nggak aturan beranjak sepi peminat. Kemana para jamaahnya? Biasanya sih lagi sibuk bikin kue, belanja baju baru dan lain-lainnya. Soalnya kan kalau belanja siang-siang nanti lapar dan haus takutnya malah batal lagi. Ada yang kayak gitu? Banyak.

Ini menurut gue sangat miris bayangin baju baru bisa lebih berharga daripada ibadah. Miris abis

Batal saat Mudik

Ini yang paling bikin geli, mudik lo yang kepengen terus dengan alasan lo adalah musafir lo bisa batalin puasa gitu?images Iya sih Tuhan pengertian tapi buat gue tetap nggak masuk akal saja. Dari kecil bahkan saat mudik sekalipun gue nggak pernah batalin puasa, awalnya sih emang karena dilarang bokap cuma lama-lama ngerasa sayang aja gitu ngebatalin toh selama perjalanan kita nggak ngapa-ngapain cenderung duduk dan yang paling utama adalah itu risiko dari pilihan mudik yang kita ambil. Jadi guys jangan nyerah ya.

Nggak masalah kok kalau mau ngerayain lebaran dengan semarak dan besar-besaran tapi bukan berarti harus meninggalkan yang wajib demi sekadar euforia belaka kan? Karena yang paling penting adalah menjadi diri yang lebih baik setelah “ujian naik kelas” yang kita rasakan selama bulan Ramadhan. Iya kan?

Nah, semoga puasa kita semua berkah ya genks, akhir kata Selamat Idul Fitri semuanya!!!!!

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 48 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Inside Out” (2015), Bukan Kartun Biasa

Close