Ulasan “Minions” (2015)

Siapa sih yang nggak suka sama makhluk mungil lucu berbentuk kapsul berwarna kuning yang pertama kali muncul di film “Despicable Me”? Semua orang pasti suka mulai dari orang dewasa, anak-anak, orang tua, remaja bahkan manula. Ya sosok itu adalah para minions yang punya satu misi, menemukan tuan untuk dilayani.

Sosok konyol ini kembali menghibur kita dengan petualangan barunya. Sama Gru lagi? Nggak coy, ini adalah film prekuel yang menceritakan tentang minions jauh sebelum masa mereka dengan Gru dan masih mencari penjahat yang paling jahat untuk dilayani.

Film garapan sutradara asal Prancis, Pierre Coffin, ini terasa segar dan menghibur, candaan slapstick-nya nggak kasar dan bisa ditonton anak-anak yang sudah ngerti dan pastinya dengan bimbingan orang tua. Padahal percaya atau nggak kita semua dijamin nggak akan ngerti sama apa yang diomongin para minions karena bahasa yang dipakai sangat absurd tapi tetap saja kita bakalan dibuat ketawa sama tingkah laku si kuning lucu itu.

Bahasa yang dipakai para minion bukannya celotehan tanpa makna tapi memang dibuat dengan menggabungkan beberapa bahasa antara lain bahasa Inggris, Prancis, Spanyol dan Indonesia. Iya benar bahasa Indonesia, hal ini karena sang sutradara memiliki darah Indonesia dari sisi ibunya yang seorang novelis terkenal Indonesia, N.H. Dini.

Nah, inilah yang menjadi daya tarik film ini, makhluk aneh dengan bahasa mereka sendiri yang nggak sama sekali bingung atau ngerasa kalau manusia normal nggak ngerti bahasa mereka. Intinya mereka tetap asik sendiri.

Selain menyutradarai, Coffin juga menjadi pengisi suara untuk tokoh Kevin, Stuart, Bob dan semua minions lainnya yang merupakan poros cerita. Selain sang sutradara, film ini juga bertaburan bintang-bintang kawakan Hollywood yang suaranya dipinjam untuk mengisi suara. Sebut saja Sandra Bullock sebagai Scarlet Overkill yang membuat cerita dan film ini tambah semarak serta suara teduh dari Geoffrey Rush yang menjadi narator cerita.

Minions-2015-Movie-Desktop-WallpapersNamanya juga film animasi ya nggak semuanya harus masuk akal tapi justru hal-hal nggak masuk akal itu bikin kita ngekek sampai ngakak ngeliatnya, coba lo bayangin aja seekor T-Rex lagi menjaga keseimbangan di atas sebuah batu yang menggelinding atau Bigfoot yang menggoyangkan kepala saat para minion menyanyi dan menari untuk mereka.

Namun, justru sisi absurd film ini yang menarik tawa penontonnya. Apalagi diceritakan dalam beberapa upaya para minions menemukan tuan yang jahat mereka justru tidak sengaja membuat tuan-tuan mereka itu meninggal dengan tragis dari ketindihan piramida sampai ketembak meriam pasukan sendiri. Ngenes.

Sayangnya jalan ceritanya terlalu sederhana. Atau mungkin memang sengaja dibuat kayak gitu. Jalan ceritanya datar tanpa ada lonjakan yang berarti, leluconnya masih tetap bikin ketawa sih walau makin akhir ketawanya semakin biasa.

Dari film ini gue juga nangkep satu hal yaitu sekeras apa pun lo berusaha jangan lupa untuk bersenang-senang. Lo liat aja tingkah para minions yang sangat playful dan sangat menyayangi tuannya. Iya nggak sih?

Terakhir yang paling bikin gue nyengir adalah saat Bob memeluk sang ratu dan bilang “Terima kasih”, biasalah orang Indonesia kalau dengar sesuatu dari negaranya masuk film internasional rasanya gimana gitu.

Secara garis besar film ini sangat menghibur dengan candaan a la minions yang kayak bocah, cuek dan nggak terlalu banyak peduli. Poopaye!

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 303 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Jurassic World” (2015) dan Dinosaurus Feminin

Close