Ulasan “Jurassic World” (2015) dan Dinosaurus Feminin

“Jurassic World” tayang perdana di Indonesia 12 Juni kemarin. Banyak orang yang sangat menanti film ini setelah kesuksesan mahasutradara Steven Spielberg dalam “Jurassic Park” beberapa dekade silam. Penantian yang cukup lama. Bahkan sangat lama, mengingat situs film ini menyatakan bahwa Jurassic World udah dibuka pada 2005. Lalu pada 2011 di Comic Con San Diego, Spielberg baru mengumumkan film akan segera digarap. Kini penantian itu berakhir sudah.

Chris Pratt (Owen) yang sebelumnya tampil lucu di “Guardian of The Galaxy (GOTG)” kembali menghibur di film ini. Dia masih menjadi pribadi yang kocak walaupun gak semenggelitik di “GOTG”. Di sini dia berperan sebagai perawat raptor yang taktis dalam menghadapi serangan dinosaurus.

Dari segi cerita bisa dibilang cukup menarik meski gw jauh lebih suka versi terdahulu yang kental dengan fiksi ilmiah. Siapa yang gak inget tentang ekstraksi DNA dinosaurus dari darah nyamuk yang membeku di dalam getah pohon? Nyamuk dalam getah itu masih ditampilkan juga dalam film ini namun tanpa ada background story sama sekali. Jadi mungkin anak sekarang yang belum pernah nonton “Jurassic Park” akan menyangka itu sebatas properti pendukung yang gak signifikan sama sekali.

Ngomong-ngomong soal referensi dari “Jurassic Park”, film ini meminjam banyak banget properti dari film sebelumnya. Di museum masih ada animasi DNA sequence yang dulu menjelaskan tentang bagaimana dinosaurus dihidupkan kembali, lalu ada bekas mobil penjelajah taman dulu, teropong warna ijo yang dulu dipakai ketika serangan T-Rex yang fenomenal di mobil mogok, serta tak ketinggalan sekilas patung dari tokoh agung “Jurassic Park” John Hammond (Richard Attenborough).

Lalu jika berbicara dari kedalaman cerita dalam mengangkat sebuah isu maka itu adalah feminisme dan masalah dalam feminisme itu sendiri.

jurassic-world-tv-spot-bryce-dallas-howard-in-perilAdalah Bryce Dallas Howard (Claire) yang ditampilkan sebagai simbol feminisme sejati. Dia adalah sosok wanita pekerja keras yang tampak selalu determined dalam sikapnya dan yang paling penting dia pakai sepatu high heels ke mana pun. Bahkan ketika balapan lari sama T-Rex! A real survivor.

Mungkin akan ada yang menganggap ni penilaian gegabah dan gak bisa disebut feminisme karena sepatu sama sekali tidak mewakili nilai luhur feminisme? Whoa slow down, dear feminist. Gw sama sekali gak menganggap masalah sepatu ini sebagai suatu kebetulan. Dan gw yakin si sutradaranya (Colin Trevorrow) juga menampilkan ini dengan pesan tertentu. Dan lagi, pas dia balapan sama T-Rex, adegan tersebut diambil dengan teknik kamera low profile, hanya menampilkan sepatu yang dipakai Claire. Jelas ada maksud di balik itu kan? Karena durasi sangat berharga dalam sebuah film. Dan karakter Claire memang layak disoroti dalam film ini karena ditampilkan cukup maksimal oleh Bryce.

Ditilik secara semiotik, high heels berujung runcing ini kemungkinan, oleh sutradara, ingin dipertentangkan dengan gigi tajam dinosaurus. Wanita juga punya daya melawan makhluk besar itu. Gigi lawan gigi, hanya dalam ukuran berbeda.

Lalu masalah dalam dunia feminin yang biasanya berporos pada kecantikan juga ditampilkan secara tersirat di sini. Wanita berlomba-lomba mendapatkan kecantikan meski kadang cara satu-satunya adalah dengan menjadi artifisial. Kepalsuan tersebut diangkat dalam film ini, hanya saja kali ini subjeknya dinosaurus. Dinosaurus itu menjalani ‘operasi plastik’ – atau lebih tepatnya dikawinsilangkan dengan modifikasi gen – untuk mendapatkan berbagai keunggulan, ya kayak operasi hidung, tulang rahang, tapi minus payudara. Dinosaurus ‘oplas’ inilah yang bikin masalah dan pada akhirnya dinosaurus yang ‘cantik dari dalam’ lah yang jadi pemenangnya. Ngomong-ngomong, yang gw bilang cantik dari dalam itu adalah T-Rex dan velociraptor.

Gak seperti “Jurassic Park” yang masih terkenang dalam ingatan – meski samar – hingga sekarang sebagai salah satu karya sinema terbaik, dalam beberapa tahun lagi mungkin “Jurassic World” akan terkenang hanya sebagai film perjuangan high heels vs dinosaurs. Tapi gw sangat mendukung film ini karena dinosaurus kalah di tangan wanita. Karena apa jadinya dunia kalo wanita yang punah?

Simpulan? Kembalikan Spielberg ke kursi sutradara!

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 157 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Melawan Diskriminasi Ras Lewat Foto

Close