Tiga Film Terbaik Mendiang Didi Petet

Pada 15 Maret 2015 lalu Indonesia kehilangan salah satu aktor terbaiknya, Didi Widiatmoko atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Didi Petet. Beliau berjasa besar dalam menciptakan dunia sinema yang berkualitas bagi negeri ini. Segala peran pernah dia mainkan, mulai dari banci, orang desa, sampai bapak-bapak yang benar-benar kebapakan.

Ada beberapa film Didi Petet yang paling memorable buat gw. Berikut beberapa di antaranya:

“Catatan Si Boy I-V” dan “Catatan (Harian) Si Boy”
boy1Di film ini Didi berperan total sebagai Emon, cowok kemayu yang jadi teman curhat kesayangan Vera (Meriam Bellina). Film ini sekaligus menjadi barometer kegaulan anak muda di zamannya. Film ini sebenarnya diangkat dari drama radio yang mengudara di Prambors. Setelah penggemarnya melimpah ruah barulah ceritanya di angkat ke layar lebar.

Kalo sekarang GGS (Ganteng-Ganteng Sempak) jadi kiblat gaya, tahun 90-an – tahun keemasan yang paling banyak diagungkan di internet – pemuda pemudinya punya banyak role model dalam kegaulan. Sebut saja Lupus, Olga yang jago sepatu roda dan yang paling abadi ya Si Boy (Onky Alexander). Boy digambarkan sebagai remaja saleh, cerdas, bertanggung jawab dan yang paling penting tajir, cing! Di tahun 90-an boilnya aja udah Ferrari Testarossa, bokap nyokapnya juga asik, dan bokinnya cewek yang seksi banget. Istilah-istilah gaul barusan juga jadi daya tarik tersendiri dari film yang mahagaul ini.

Emon, di sisi lain, hadir sebagai katalisator bagi karakter Andi (Kendi, diperankan Dede Yusuf) yang macho, mbak Vera yang feminin dan Si Boy sendiri yang penuh gejolak. Karakter Emon bisa menjembatani semua karakter tersebut dengan cara yang asik. Dia bisa jadi teman curhat terpercaya Vera sekaligus penasihat bagi Boy yang kurang paham perasaan cewek.

Walau ngondek, Emon tidak membuat penonton berjarak karena menahan jijik. Malah sebaliknya, dia jadi bintang kesayangan yang kehadirannya sama pentingnya dengan tokoh utamanya sendiri.

Nada manja Emon setiap memanggil ‘Ihh Mas Boy…’ dan ‘Deuh Kendi…’ akan selalu abadi di ingatan para pecinta film 90-an.

“Si Kabayan dan Anak Jin”

eaa6df20594903b58bad5679156ca168-002048700_1431662551-Capture2Siapa yang tidak kenal Kabayan? Tokoh ini jadi living embodiment dari cowok Sunda. Kabayan diceritakan memperjuangkan cintanya untuk Nyi Iteung (Nike Ardilla). Untuk mencapai tujuannya tersebut, ia dibantu oleh jin (Sena A. Utoyo).

‘Cir gobang gocir’, mantra yang dipakai untuk mengundang jin sok tau itu pernah sangat viral dulu. Karakter happy-go-lucky Kabayan dalam film ini dibawakan sangat apik dan total oleh Didi. Cerita yang simpel dipadukan dengan kesederhanaan orang desa, sangat berbeda dengan tuntutan sinematik saat ini yang melulu ‘seperti wajib’ menampilkan hal-hal yang serba-wah.

Film ini praktis dapat masuk ke semua segmentasi pasar, utamanya untuk masyarakat Sunda sendiri karena unsur kultural sangat menonjol dalam film ini. Jawa Barat boleh berbangga karena selain Cepot dan Sule, Kabayan juga berperan besar dalam membuat tanah Pasundan mendapatkan paparan yang luas di dunia hiburan.

“Madre”

vino-bastian-didi-petet-madreFilm ini bisa dibilang sebagai film terakhir dengan kehebatan akting Didi yang gw nikmati. Dalam film yang diangkat dari novel Dee Lestari ini, Didi beradu peran bersama Vino G. Bastian.

Pada awal film, penonton langsung disajikan adegan patah tanpa background cerita; Tansen (Vino) berdiri di depan nisan sang kakek. Lalu dalam surat wasiat dari kakeknya, dia diperintahkan untuk menghadap Pak Hadi (Didi Petet) untuk mengambil warisan: Madre. Madre adalah biang roti kebanggaan kakek Tansen yang mempunyai toko roti yang dulu pernah berjaya Tan de Bakker. Di sinilah cerita dibangun lewat bantuan Pak Hadi. Karakternya yang lengkap: pemarah namun perhatian, usil, dan mengayomi sangat mengalir tanpa terlihat artifisial dalam film ini.

Di sini, lagi-lagi Pak Hadi berperan sebagai orang Sunda yang hampir di setiap akhir kalimatnya ditutup dengan kata ‘he euh?’. Penampilan Pak Hadi di sini terasa ditampilkan tanpa beban oleh Didi. Pemain lain yang juga patut diacungi jempol di sini adalah Laura Basuki. Dia adalah gambaran wanita mandiri, punya prinsip dan tidak mudah menyerah.

Pak Hadi total menjadi poros dalam cerita film ini. Dia yang menentukan hendak ke mana para pemeran lainnya akan mengarah. Kejenakaan dari seorang pria lanjut usia diabadikan dengan sempurna. Dan yang lebih membuat terhenyak lagi saat menontonnya adalah salah satu dialog ketika Pak Hadi berbicara intim dengan Tansen di bangku depan rumahnya tentang kematian. Gw nonton ini setelah dia tutup usia dan langsung terenyuh mendengar kebijaksanaan tentang kematian tersebut.

Kalo lo menyadari, kata yang terlalu sering diulang dalam artikel ini adalah total. Ya, memang gw gak bisa menemukan lagi kata yang tepat untuk menggambarkan usaha Didi Petet untuk bisa dikenang dalam industri film Indonesia. Semoga karyanya selalu abadi dan dikenang. Selamat jalan, maestro!

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 414 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Spy” (2015), Ketika Tugas Mata-Mata Cuma Bikin Ketawa

Close