The Script dan Album Barunya “No Sound Without Silence”

Menurut gue konsistensi dalam berkarya adalah suatu hal yang mutlak dimiliki oleh semua seniman, konsistensi inilah yang akan menjadi penyelamat dan identitas bagi seniman tersebut. Soalnya banyak banget seniman yang seolah kehilangan identitas dan jati diri lalu mencipta apa yang sedang menjadi tren. Bukannya nggak bagus sih cuma terasa nggak asli gitu jadinya.

Hal ini yang gue lihat dari grup band asal Irlandia, The Script. Band yang dimotori oleh lead vocalist/pianist Danny O’Donoghue, vocalist/guitarist Mark Sheehan dan drummer Glen Power pertama kali dibentuk pada 2001 dan pada 2008 akhirnya mereka menelurkan anak pertama mereka yang berjudul “The Script” sejak album pertama tersebut mereka konsisten bikin lagu yang enak, nggak ada lagunya yang nggak enak. Believe me.

Album terbaru mereka yang baru saja rilis pada September 2014 lalu “No Sound Without Silence” merupakan album yang rata-rata lagunya dibuat dalam perjalanan world tour di dalam bus trailer mereka. Dalam album barunya ini Danny and The Gang menawarkan 12 lagu yang punya cerita masing-masing. Rata-rata seperti biasa lagunya diawali dengan irama lembut mengayun lalu menghentak pada bagian refrain.

Seperti album-album sebelumnya lirik lagu di album baru ini juga mudah dihafal dengan nada dan irama yang sangat catchy di telinga. Judul albumnya sendiri saja sudah penuh dengan maksud tersirat sebagai pesan untuk indutri musik agar lebih kritis dalam menyampaikan ide dan keinginannya.

No Sound Without Silence is a phrase derived from an idea put forward by the band, where meaningful statements cannot be made without thinking about what you want to say first; the “silence” referring to the silence that persists while a person thinks about what they want to say, and the “sound” referring to the sounds made by people when they speak

Dalam lagu “Superhero” menurut gue pesannya hampir sama dengan “Wall of Fame”; bercerita tentang nilai perjuangan seseorang yang bikin orang itu pantas disebut sebagai superhero, nggak perlu kekuatan super untuk menjadi seorang pahlawan.

Kalau dalam “No Good in Goodbye” dan “Man on Wire” mungkin hampir sama dengan beberapa lagu di album sebelumnya, menceritakan tentang patah hati dan perasaan setelah ditinggalkan. Dalam “No Good in Goodbye” perasaan sendirian setelah ditinggal terasa kentara dangan kata-kata ‘where is the good in goodbye’. Hmmm dalem.

Sementara dalam “Man on Wire” justru menggambarkan…ehm..apa ya..penyesalan sih kalau yang gue rasain. Betapa setelah ditinggal perasaan berjalan di atas tali tanpa jaring pengaman itu sangat menyesakkan.

Buat anak rantau mungkin lagu “Paint the Town Green” bisa menggambarkan rindu lo sama rumah. Ya lagu ini menceritakan tentang kampung halaman banget tapi ya kampung halamannya personel The Script di Irlandia sana. Mungkin saking kebanyakan world tour mereka jadi homesick.

Lagu yang paling gue suka dari album ini adalah “Hail Rain or Sunshine” yang isinya kurang lebih nikmatin aja hidup lo entah saat terang atau gelap. Yoi banget.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 198 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Muse Kembali dengan Album Baru “Drones”

Close