Ulasan “Friend 2: The Great Legacy” (2013)

Setelah kemarin gue ngebahas film Korea “Gangnam Blues (Gangnam 1970)” yang bercerita tentang wilayah Gangnam pada era 70-an yang sarat dengan perebutan kekuasaan – wilayah yang menurut gue justru kurang masuk akal dan politikus korup – sekarang gue akan ngebahas tentang film Korea juga. Ceritanya pun tentang gangster hanya saja dengan kemasan yang berbeda sehingga membuat film ini jadi lebih bagus daripada film pertama Lee Min Ho tersebut.

“Friend 2: The Great Legacy” garapan Kwang Kyung-Taek yang rilis pada 2013 ini adalah film sekuel dari “Friend” yang juga disutradarainya pada 2001 yang menjadi box office dengan pendapatan kotor terbesar di Korea sepanjang masa.

Cingu4Film “Friend” sendiri mendapatkan banyak penghargaan dan dua pemeran utamanya (Yu Oh-Seong dan Jang Dong-Gun) juga memenangkan penghargaan aktor terbaik dan aktor pendukung terbaik pada penghargaan Festival Film Asia Pasifik ke-46. Walau akhir cerita sangat menyedihkan buat gue namun sekuelnya ternyata lebih keren lagi.

Film ini ini menceritakan tentang tiga generasi gangster yang dibuat dengan alur maju-mundur. Maksudnya adegan-adegan dalam film ini juga diambil dari film pertamanya dan masa sebelum film pertamanya dalam bentuk kilas balik tapi pengemasannya yang apik nggak akan bikin kita bingung.

Tiga tokoh gangster yang menjadi cerita dalam film ini adalah Lee Chul Joo (Joo Jin-Moo) yang merupakan pendiri kelompok gangster di Busan sekaligus ayah Lee Joon Seok (Yu Oh-Seong), Lee Joon Seok dan tentu saja Choi Seung Hoon (Kim Woo Bin)

Film dibuka dengan sidang dakwaan atas Lee Joon Seok dengan tuduhan pembunuhan pada Han Dong Su (Jang Dong Gun) disusul dengan kisah masa kecil Choi Seung Hoon. Dua adegan pembuka itu cukup menjelaskan jalan cerita dan plot twist yang ada sekaligus menggambarkan tentang penggambaran karakter tokoh sikap dan perilaku tokoh utama.

Dengan alur yang maju mundur kita diberikan pengetahuan tentang masa lalu dan masa kini secara terus menerus untuk membangun konsep dalam mengerti jalan cerita secara keseluruhan. Menggambarkan kenapa si ini begini dan si itu begitu. Apalagi karena film sekuel ini rilis dengan rentang waktu yang cukup jauh dari film pertamanya kilas balik mungkin dirasa perlu oleh sang sutradara walaupun sebenarnya film ini sangat mandiri.

Satu hal yang membuat film ini menyenangkan untuk ditonton adalah penokohan yang sangat jelas. Kalau biasanyafriend_the_great_legacy_ver2 lo akan kebingungan dengan siapa kawan-siapa lawan, dalam adegan perkelahian di sini beda. Beberapa karakter pendukung diperkenalkan “pelan-pelan” dan ditampilkan terus menerus jadi jelas si ini antek-anteknya siapa.

Hal ini yang sama sekali nggak diupayakan di film “Gangnam Blues”. Di film tersebut gue jamin lo akan kebingungan tentang kawan dan lawan karena kesan keroyokannya.

Hal lain yang bikin gue lebih menikmati film ini adalah jalan cerita yang jelas dan terarah, pelan-pelan tapi nggak terlalu lambat. Tiap adegan digambarkan dengan cukup detail, nggak bikin ngos-ngosan bahkan adegan sensualnya juga nggak ditampilkan secara kasar, brutal dan nggak kayak film porno namun cukup untuk menjadi bumbu yang bikin orang berimajinasi liar sendiri.

Selain itu pendalaman materi yang dilakukan para pemain bisa dibilang cukup matang karena yang gue tahu bahasa Korea pun punya logat bermacam-macam di tiap kota atau wilayah yang berbeda dan para pemainnya bisa menampilkan cara bicara dengan logat Busan yang kental dan sangat khas. Gaya bicara yang sangat berbeda dengan film Korea yang biasa gue tonton yang gue simpulkan sebagai logat Seoul.

Film ini sendiri adalah penggabungan antara film drama dan action jadi ada beberapa adegan yang bisa bikin kita ketawa atau bahkan ngerasa sedih karena kita dibuat ngerasain emosi si pemeran. Jadi nggak bentar-bentar berantem atau ribut.

Bahkan yang paling gue suka adalah bagaimana Lee Joon Seok berhasil membuat kita merasa terenyuh saat mengingat masa lalu atau saat membayangkan keberadaan teman-temannya tanpa banyak bicara. Maaan aktor yang bisa ngelakuin akting kayak gitu itu pasti adalah aktor yang sangat berpengalaman atau aktor baru yang punya talenta murni.

Buat gue film ini pantas dapat nilai 8 dari total 10. Di film ini lo bisa merasakan gesekan masa lalu yang bisa lo rasakan korelasi menyedihkannya di masa ini. Ahhh… satu kata buat film ini. DAEBAK!!!

Ada satu kutipan dialog di film ini yang gue suka, kutipan ini adalah dialog antara Joon Seok kepada Seung Hoon saat dia meminta anggota geng Seung Hoon untuk bertemu dengannya dan makan bersama. Bunyi dialognya kurang lebih seperti ini;

Bagaimana orang tanpa hubungan darah bisa berjuang bersama seperti keluarga, itu karena mereka pernah kelaparan bersama, melarikan diri bersama, hampir mati bersama dan menangis bersama, itulah kenapa orang asing bisa menjadi keluarga

Ya keluarga itu nggak harus orang dengan hubungan darah, nggak jarang kita justru bisa nemuin keluarga di teman dan sahabat yang ngerasain jatuh bangun bareng kita. Selamat menonton.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 496 times, 4 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Ulasan “Gangnam Blues” (2015)

Close