Mengikuti Tren yang Nggak Ada Habisnya

Menurut gue orang Indonesia itu rajanya pengikut arus. Maksudnya, orang-orang terlalu ngikutin arus perubahan zaman dan sedikit sekali orang yang kreatif yang memang bisa menciptakan arus itu sendiri.

Weits, jangan emosi dulu. Pernah nggak lo tiba-tiba menggandrungi sesuatu yang padahal sudah ada sejak lama tapi lo baru suka setelah banyak orang suka akan hal itu, biar dibilang gaul, eksis dan nggak ketinggalan zaman?

Mulai yang bagus kayak menjadi seorang wirausaha (walaupun akhirnya harus gulung tikar karena lo emang cuma ikut-ikutan) sampai yang nggak penting buat kayak punya kamera DSLR. Oh my.

Baru-baru ini ada lagi tren yang lagi hype, batu akik. Ya siapa sih yang nggak tahu batu akik? Dari jenis-jenis yang namanya masih terdengar ramah di telinga sampai yang namanya terkesan berlebihan dan dibuat-buat. Tren yang ini nggak terbatas pada anak muda atau manusia-manusia mainstream yang mengikuti zaman saja sih, karena sebenarnya tren batu akik ini adalah tren lama yang tiba-tiba naik daun lagi, entah apa pencetusnya.

Nggak percaya kalau ini aslinya tren zaman baheula? Coba lo liat Pak Haji Bolot, dari zaman dulu beliau kalau manggung sudah pakai pakai batu akik. Cuma nggak sebanyak sekarang setelah akik menjadi salah satu gaya hidup, paling cuma di dua jari saja kok.

Salah satu tren lain di Indonesia yang gue inget banget adalah tren tanaman seharga jutaan bahkan ratusan juta. Iya bener, itu duit semua cuma dipake buat beli tanaman. Emangnya dapat berapa banyak tanaman dengan duit segitu? Sama sekali nggak banyak dan nggak mungkin bisa bikin taman soalnya cuma satu pot. Namanya adalah bunga Gelombang Cinta atau Anthurium. Tanaman ini sama sekali nggak bisa mengirimkan gelombang-gelombang cinta ke gebetan lo yang dablek nggak bisa nangkep sinyal-sinyal yang lo kasih dan warnanya juga biasa aja; hijau karena klorofil. Kecuali layu mungkin jadi kecoklatan.

Yak, bayangin lo ngeluarin uang segitu banyaknya cuma buat tanaman yang kalau lo lupa nyiram dia akan mati. Terus kalo udah mati, lo cuma bisa garuk tembok di pojokan atau duduk manis merenung di bawah shower.

Ikan lohan, sepeda fixie dan vapor adalah salah tiga dari banyak tren yang pernah ada di Indonesia. Masih banyak pecinta sejatinya sampai sekarang tapi yang cuma ikut-ikutan saja pun lebih banyak lagi. Yang sebenarnya nggak masuk akal adalah publikasi yang terlalu masif yang akhirnya justru bikin banyak orang kecele dan hilang arah berusaha mengikuti tren yang nggak ada batasnya.

Kalau yang uangnya cekak punya satu saja sudah senang, seenggaknya bisa buat pamer dan mentasbihkan dirinya sebagai salah satu orang gaul. Nah, masalah akan timbul kalau lo ngerasa punya uang dan jadi bisa beli lebih banyak dan lebih nggak terkontrol.

Suka sama sesuatu hal atau kepingin beli barang seharusnya ya wajar-wajar saja. Lebih baik lagi kalau yang dipinginin adalah barang yang benar-benar dibutuhkan dan berguna buat hidup lo. Soalnya kalau terus-terusan nurutin tren nggak akan ada habisnya dan kalau sudah nggak kepakai cuma akan jadi onggokan sampah di pojok rumah. Sayang, kan?

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 248 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Kumpulan Tweet Lucu #SaveHajiLulung

Close