Ulasan “Seventh Son” (2014)

Gue selalu suka film-film fantasi, dari yang jenis naga-nagaan (bukan film naga-nagaan di TV swasta itu loh) sampai yang jenisnya mesin-mesinan. Beberapa pekan lalu juga gue nonton sebuah film baru dengan genre kolosal (atau apa pun itu genrenya) karena terpancing dengan pemeran utamanya, yaitu si Prince Caspian di “Narnia” – Ben Barnes.

Dalam film ini, Ben Barnes berperan sebagai anak ketujuh dari anak ketujuh (Thomas Ward) yang menjalani kehidupannya sebagai murid seorang Spook atau pembasmi penyihir untuk kemudian menggantikan gurunya Master Gregory yang diperankan oleh Jeff Bridges. Kisahnya berpusat tentang balas dendam Madam Malkin (Jualiane Moore) yang dulunya pacaran sama Master Gregory.

Ceritanya standar bahkan cenderung gampang ditebak: si baik pasti akan mengalahkan si jahat, dengan penjahat-penjahat galau karena cinta yang akhirnya bikin mereka terkesan kaya pengkhianat karena harus memilih salah satu pihak. Njelimet? Ya nonton sendiri sana biar ngerti.

Menurut gue film ini nggak begitu bagus, meski cukup oke kalau menontonnya ditujukan mengisi waktu di akhir pekan. Tapi kalau lo benar-benar berniat untuk nonton dan memilih film ini, bersiap-siaplah untuk kecewa karena gue sendiri kecewa banget.

Cerita yang nggak jelas

Dari beberapa kekurangan menurut gue, film ini melakukannya dengan fatal ketika kurang menjelaskan tentang cerita latar belakang atau tokoh utamanya. Menurut gue seharusnya bisa dijelaskan sedikit saja sebagai prolog awal mula kisah Madam Malkin dan Master Gregory. Secemil saja nggak usah terlalu banyak, itu bisa bikin lebih penasaran.

Aspek anak ketujuh

Ada apa dengan angka tujuh? Dalam film ini sangat ditonjolkan tentang legenda anak ketujuh. Dalam legenda dikatakan bahwa yang bisa jadi seorang Spook hanyalah anak ketujuh dari anak ketujuh. Namun, sayangnya nggak dijelaskan apa sih yang bikin angka tujuh itu begitu sakral.

Konflik yang kurang greget

Film garapan sutradara Sergei Vladimirovich Bodrov yang mengadaptasi cerita dari novel berjudul “The Last Apprentice: Revenge of the Witch in America” ini kurang greget dalam konfliknya. Kalo dianalogikan seperti anak bengal yang gampang banget tobat dan insaf. Kayak Tom Ward yang awalnya nggak setuju dengan teori bunuh semua penyihir dan semua makhluk kegelapan, pikirannya berontak dengan pertanyaan “bagaimana kalau mereka penyihir yang baik?”. Namun, dengan sedikit pengertian dari Master Gregory, Tom nggak lagi keberatan membunuh.

Akhir yang sangat antiklimaks

Semacam menuju orgasme tapi pasangan sudah selesai duluan, rasanya itu kentang. Yak menurut gue film ini kayak gitu; kentang, teu puguh, nanggung atau semua kata lain yang bisa menggambarkan betapa tanggungnya film ini dalam menggambarkan peperangannya. Di awal film sudah digadang-gadang akan ada perang akbar tapi di akhir cerita perang itu terhenti begitu saja. Nggak ada perang akbar, nggak ada perang mematikan cuma….yah gitu deh tonton sendiri biar afdol.

Namun, tetap saja bagi penggemar film fantasi, film ini lumayan kok untuk menemani akhir minggu lo, biar nggak terlalu kelabu.

Stay updated! Follow us on:

Novita Nurfiana
Find me

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah
Novita Nurfiana
Find me

Latest posts by Novita Nurfiana (see all)

(Visited 59 times, 1 visits today)

Novita Nurfiana

Cita-cita jadi Ranger Merah

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Menyoal Kretek, Kapok, Kungkang, dan Kapan Kawin

Close