Ulasan “Kingsman: The Secret Service” (2015)

“Kingsman: The Secret Service”, membaca judulnya aja udah gak menarik. Sebuah judul film yang hambar, datar, kurang berwarna, dan sama sekali gak mencerminkan aksi. Kenapa gak belajar dari “007: License to Kill” yang terdengar lebih gahar atau “007: Casino Royale” yang terdengar lebih Eropa dan elegan dengan akhiran ‘e’. Ya, “Kingsman” udah gagal untuk menjadi film yang menarik lewat judul yang menjanjikan. Bukankah kita semua makhluk visual? To hell with don’t-judge-a-book-by-its-cover advice.

Tapi, ternyata nasihat itu benar adanya.

Film ini dibangun dengan cerita standar agen-agen rahasia. Gadgetnya standar, misinya standar, dan agen kuat yang kadang juga perlu berstandar di bahu seseorang untuk meredakan kegelisahannya. Namun, semua yang standar itu dibungkus dalam kemasan yang segar. Kalo biasanya di James Bond kita disuguhi aksi dengan sedikit lelucon kaku, di film dinas rahasia ini agennya beneran lucu. Agennya berdarah muda, darahnya para remaja, yang selalu merasa gagah, tak pernah mau mengalah.

Jagoan di sini adalah agen tua Harry Hart yang diperankan Colin Firth yang mencari kandidat pengisi slot agen yang tewas dalam dinas rahasia tersebut. Kemudian ada Mark Strong sebagai Merlin, agen teknis di dinas rahasia itu. Kolaborasi keduanya mengingatkan gw pada “Before I Go to Sleep” yang beberapa hari sebelumnya gw tonton. Jadi ketika gw menyadari mereka berdua main di film ini, ada unsur kedekatan yang timbul dalam diri gw. Dan mungkin ini juga memengaruhi penilaian gw tentang film ini.

Lalu ada Samuel L. Jackson, tokoh antagonis cadel yang ceriwis. Gw emang gak suka Samuel dari dulu. Gw benci dia ketika bossy banget di “The Avengers”. Gw benci dia karena badass sekaligus keren di “Pulp Fiction”. Dan gw benci dia karena dia convincingly menyebalkan di “RoboCop” sebagai Patrick “Pat” Novak – host dari perusahaan teknologi yang mencoba meyakinkan Amerika untuk mengganti pasukan manusia dengan pasukan mesin di medan perang. Gw gak yakin gw gak suka dia karena dia Samuel atau karena dia berhasil memainkan perannya yang menyebalkan dengan hati.

Nah, menilai dari perannya di “RoboCop”, sepertinya emang itulah lahan peran yang dikuasai Samuel. Dia aktor yang jago bernarasi, pernyataannya sangat argumentatif sekaligus persuasif. Dia bisa menggiring massa untuk memercayai sebuah ideologi yang ia bangun. H(ail)ello, Hitler!

Ya, di “Kingsman” Samuel juga menjual ideologinya. Semua orang jatuh ke dalam perangkapnya untuk menata ulang dunia. Dan di sini Samuel juga tampil gak kalah menyebalkannya dengan lidah cadel cerewet plus pilihan wardrobe you-got-SWAG ala Justin Bieber.

Kemudian ada Sir Michael Caine, yang gw udah gak percaya lagi dia selalu Alfred, pembantu Batman, yang baik setelah dia main di “Now You See Me”.

Ketika menonton film ini, dengan aksen Inggris pemerannya yang medok dan angle-angle kamera yang gak biasa, gw langsung inget film-film Guy Ritchie. Ternyata sutradara “Kingsman”, Matthew Vaughn, adalah produser di “Lock, Stock, and Two Smoking Barrels” – salah satu film brilian arahan Guy Ritchie yang gw kagumi sampai sekarang.

Angle nyentrik ala Guy Ritchie
Angle nyentrik ala Guy Ritchie

Ada satu adegan menarik ketika si jagoan yang berdarah muda tadi beraksi. Adegan aksinya disajikan dengan kamera ala first-person shooter, anak game pasti bakal langsung nyadar ini. Dan jika di film kartun adegan kekerasan diperhalus dengan suara-suara “nguik” “teet” dsb., kekerasan di film ini dihadirkan dengan animasi berwarna dan backsound lagu yang asik. Menyenangkan sekali melihat kepala-kepala meledak menjadi asap warna-warni yang membumbung ke angkasa. Melihat kematian tidak pernah semenyenangkan ini.

Secara keseluruhan, kalo lo mau nonton film agen rahasia yang penuh aksi sekaligus lucu, lupakan “Johnny English”, tonton Johny Indo!☺️

Serius, film ini cukup layak untuk ditonton.

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 209 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Stiker Mobil Berujung Angker

Close