Ulasan Film Terbaik Oscar 2015: “Birdman”

Pengumuman pemenang Oscar 2015 digelar kemarin. Para pemenangnya mungkin sekarang masih pengar setelah after-party gila-gilaan. Salah satunya mungkin Alejandro González Iñárritu. Alejandro boleh merayakan malam dengan semabuk-mabuknya karena dia memenangi penghargaan kategori Film Terbaik di Oscar – ajang penghargaan tertinggi di dunia film. Ya, “Birdman” yang disutradarainya membuatnya berada di bawah lampu sorot sampai sekarang. Dia terbang tinggi membubung ke angkasa laiknya burung, atau secara kontekstual lebih tepat disebut manusia burung.

“Birdman” bercerita tentang isu post-power syndrome dari aktor Riggan Thomson (Michael Keaton). Riggan merupakan aktor film superhero “Birdman” yang menolak untuk berperan dalam sekuel selanjutnya dari film tersebut. Dia kemudian mencoba mengembalikan masa-masa keemasannya sebagai aktor dengan beralih ke Broadway. Usahanya sama sekali tidak mulus. Dia harus menahan egonya yang kembali menjadi bukan siapa-siapa di Broadway. Dia juga dibenci kritikus film dari koran dengan pengulas andal dan sirkulasi yang gigantik, hal yang sangat fatal dalam sebuah drama Broadway.

Film ini mendapat penghargaan karena… gw gak tau alasannya. Seriously.

Pertama ini film yang membingungkan – yang sepertinya memang ciri khas Oscar – dengan terlalu banyak referensi dari dunia nyata. Terus terang gw baru sadar bahwa Michael Keaton adalah mantan pemeran Batman. Tapi hal itu kemudian langsung memengaruhi referensi gw ketika mendengar kata Birdman; otak gw langsung membayangkan Batman. Dan menganggap bahwa burung itu sebenarnya kelelawar.

Tunggu, apakah gw salah ketika dengan dangkal mengidentifikasi Birdman dengan atribut Batman? Mungkin iya, mungkin gak. Bukankah gw seharusnya menempatkan Batman di brankas sebelum berangkat menonton Birdman agar kedua film itu menjadi tidak ambigu dan campur baur? Tapi kenapa harus gw tinggalkan Batman sebagai pegangan gw tentang Michael Keaton ketika sutradara menampilkan referensi dari dunia film yang nyata? Sutradaranya mengambil referensi, bahkan menyebutnya secara eksplisit, tentang Tony ‘Ironman’ Stark, Jeremy Renner, Michael Fassbender, “The Hunger Games” dsb. Jadi apakah gw salah menganggap Birdman itu sebagai Batman yang telah berevolusi jadi burung?

Intinya sutradara agak keblinger karena dia menampilkan Michael Keaton sebagai Birdman dengan menyebutkan tokoh-tokoh dan film-film lain ke dalam cerita tapi di saat yang sama seperti “mengekang” penonton agar tidak menyamakan Birdman dengan Batman.

Tenang aja, ini gak akan menjadi blunder Hollywood yang terakhir kok ketika bicara tentang superhero berbeda ditampilkan oleh pemeran yang sama. Ben Affleck, si Daredevil dulu, akan berperan jadi Batman dalam “Batman vs. Superman”. Apakah Hollywood benar-benar tidak mengenal cara kerja sejarah dan menafikan fakta tentang bagaimana Google dengan cekatan dan tangkas merekam itu semua?

Kenapa film ini gak dibuat sebagai spin-off Batman aja sih? Pasti lebih relevan kalo ceritanya tentang Michael Keaton sebagai pensiunan Batman. Nanti kan bisa ngajak Val Kilmer, George Clooney dan Christian Bale dalam film bertajuk “The Retirees of Batman(s)”. Oh, jangan! Itu pasti akan terdengar sangat murahan dan gak mungkin dilirik oleh panelis berselera tinggi di Academy.

Kedua adalah tentang cerita. Selain egosentrisme Riggan, tidak ada lagi isu yang ditawarkan dari film ini. Mungkin film ini hanya cocok untuk ditonton oleh orang-orang yang akan pensiun dari karier puncaknya, sebagai persiapan menghadapi post-power syndrome. Selebihnya gak ada yang baru, gak ada yang unik. Dan adegan pementasan drama ditayangkan secara repetitif tanpa ada konflik yang berbeda secara signifikan di masing-masing adegan berulang itu, bisa membuat siapa pun mencari tombol fast-forward.

Film ini disebut bergenre dark comedy, yang juga tidak baru, oleh karena itu menawarkan sindiran-sindiran yang superpedas. Tokoh-tokoh superhero tentu jadi sasaran empuk sindiran karena mereka satu profesi dengan Birdman. Kemudian ketika bergeser ke Broadway, kritikus yang jadi santapan. “Birdman” menyebut kritikus sebagai orang putus asa yang gagal jadi aktor dan cuma bisa melabeli ini-itu dengan adjektiva tanpa mengerti struktur, filosofi dan hal-hal teknis lainnya dari suatu karya.

Riggan dikisahkan memarahi seorang kritikus terkenal yang berjanji akan menjatuhkan pementasan dramanya lewat ulasannya. Cuma di adegan ini, menurut gw, akting Michael terlihat meyakinkan. Entah apa intensi sutradara memasukkan bagian ini. Emang itu mendukung ceritanya tentang bagaimana sulitnya Broadway menaklukkan kritikus-kritikus pedas tapi, to a certain extent, ini seperti pagar antisipasi bagi sang sutradara untuk menghindari kritikus yang nantinya akan menilai betapa membingungkannya film ini. Sekaligus sebagai pancingan agar kritikus semakin gencar menulis kritikan tentang film ini karena toh berita buruk tetap berita yang memperluas publisitas. Succès de scandale. Sangat keSyahrini-an.

Dan sindiran yang lebih jelas adalah ketika Birdman (alter ego Riggan berkostum burung) menyebut bahwa kini orang-orang benci semua film-film yang filosofis dan hanya ledakan-ledakan dan aksi berbahaya yang laku di pasaran. Itu tidak terdengar seperti dark comedy melainkan lebih kepada dikte sang sutradara untuk film ini, yang memaksa penonton untuk menyukai film yang ‘filosofis’ ini.

_AF_6405.CR2Tapi gak semuanya dari “Birdman” mengecewakan. Mike (Edward Norton), yang bukan pemeran utama, lebih menonjol daripada sang aktor utama. Menonjol dalam hal konsistensi. Dia ditampilkan sebagai orang yang total menyebalkan karena menegasikan apa pun di sekelilingnya. He’s not a jerk, he’s just a misfit. Mungkin Riggman, yang sebentar patut dikasihani lalu tiba-tiba berubah menyebalkan, perlu belajar dari Mike. Edward tampil total untuk menyebalkan sama seperti ketika ia bermain sebagai seorang anti-Semit di “American History X”. Siapa yang gak memuja bad boy?

Selain akting Edward, sinematografi adalah hal yang layak mendapatkan penghargaan dalam “Birdman”. Sinematografer asal Meksiko Emmanuel Lubezki Morgenstern dengan apik menggunakan teknik single continuous take – teknik kamera yang merekam adegan satu ke yang lainnya tanpa transisi yang patah sama sekali. Susah bayanginnya? Bayangkan kamera 360° Google Street View. Ya cuma dua elemen brilian itu yang layak mendapatkan Oscar dari “Birdman”. Bukan cerita atau aktor utamanya.

Tapi apalah arti gw yang mengkritik, “Birdman” gak boleh dikritik. Mereka gak main-main soal peringatan ini karena udah tertera jelas di filmnya. Jangan ganggu gugat!

Buat gw “Boyhood” tetap pemenang di hati gw dan tidak perlu legitimasi dari patung mas-mas dari emas kaku untuk itu. Jadi kalo lo pengen nonton Film Terbaik Oscar 2015 tontonlah “Birdman” baru setelah itu tonton “Boyhood”. Karena seperti kalimat bijak nan pongah ketika masih SD, “Jagoan selalu dateng belakangan.”

Stay updated! Follow us on:

Find me

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.
Find me

Latest posts by Imanuel Kristianto (see all)

(Visited 151 times, 1 visits today)

Imanuel Kristianto

A movie enthusiast. A professional cynic but my heart's not in it.

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Mixtape Ala Remehtemeh #4

Close