Menyoal Kretek, Kapok, Kungkang, dan Kapan Kawin

Dunia dipenuhi orang-orang bijak dengan nasihat-nasihatnya yang menyentuh kalbu; Kahlil Gibran soal cinta; Martin Luther King, Jr. soal perjuangan kelas; Audrey Hepburn tentang bagaimana wanita seharusnya menyikapi kecantikan; Muhammad Ali tentang morale dalam pertandingan; dan kamu tentang… semuanya.

Semua hal bisa dinasihati tanpa empati, bahkan dalam urusan atma sampai sanggama.

Soal atma yang paling sering di-bijak-i adalah perokok – yang dianggap setara dengan pendosa. Setiap hari ada saja masalah yang berhubungan dengan rokok. Ya, rokok di Indonesia sudah jadi masalah pelik. Indonesia turut serta menggodok Framework Convention on Tobacco Control tapi ketika penandatanganan, negara plin-plan ini memilih mundur, berdalih itu akan berdampak pada hajat hidup orang banyak. Mudah ditebak, Indonesia selanjutnya dikecam karena menjadi satu-satunya negara di Asia, Pasifik sekaligus Grup 20 yang tidak menandatangani perjanjian tersebut.

Nasib serupa juga dialami perokok. Mereka tidak berhenti dihujani kecaman. Pernah ada orang yang menasihati perokok dengan kalimat, “Udah berhentilah ngerokok, apa susahnya sih? Orang gak ada gunanya juga. Kapokmu kapan? Sampai kena kanker?”

Suatu bentuk perhatian yang tulus sekaligus… kejam.

Si penasihat itu tidak merokok. Dia kemungkinan juga tidak paham bagaimana sulitnya perokok menghentikan kecanduannya. Untuk soal guna, kita sama-sama tahu rokok memang tidak berguna. Tapi merokok lebih dari sekadar nilai guna. Pembela rokok garis keras pasti mafhum akan hal ini. Perokok tentu tahu merokok sama sekali tidak berguna sekaligus merusak kesehatan. Tapi toh itu tetap tidak jua membuat mereka berhenti dalam satu tarikan napas. Alasannya? Susah!

Merokok itu kebiasaan dan – seingat saya – kebiasaan susah dihilangkan begitu saja. Mereka biasa merokok setelah makan, saat buang hajat, dan ketika nongkrong bersama teman di poskamling gegitaran nyanyi lagu Iwan Fals. Nah, yang terakhir itu sesungguhnya adalah alasan paling lazim sekaligus menggelikan tapi benar adanya. Peer pressure. Rasa itu susah banget dilawan. Si penasihat tadi pasti tidak tahu rasanya nongkrong sebagai perokok yang sudah berniat berhenti dan harus berada di tengah-tengah teman-teman perokok. Makanya dia bisa segampang itu menyuruh berhenti. “It’s easier said than done, you know,” kata bule di Jalan Jaksa. Jadi, saran saya, biarlah merokok tetap berada di ranah pribadi perokok yang tidak perlu diintervensi apalagi dihakimi selama itu tidak mengganggu kenyamanan nonperokok. Toh hidup adalah masalah pilihan.

Sedangkan soal sanggama, para jomblowati dan jomblowan adalah orang yang paling menderita. Mereka selalu ditanya kapan nikah. Bagaimana mau menikah? Pacar aja nihil. Memangnya mau nikah dengan istri in absentia? Memangnya KUA bisa disamakan dengan Mahkamah Agung?

“Kamu lama banget kawin, kayak kungkang. Buruan, keburu kiamat ntar gak sempet ngerasain nikmat,” begitu kira-kira celaan yang sering diterima jomblo dalam lingkaran pertemanan yang mayoritas anggotanya sudah menikah.

Kungkang atau Sid the Sloth di “Ice Age” punya beberapa fakta menarik. Lebih dari setengah kematian kungkang terjadi ketika mereka lagi buang air besar. Ajaibnya, karena memiliki pencernaan lambat, kungkang buang air seminggu sekali. Wong, katanya satu daun aja baru bisa selesai dicerna dalam 30 hari. Dan dengan beradabnya dia selalu buang air di tempat yang sama. Oleh karena itu dia jadi mangsa mudah bagi jaguar atau elang yang bisa mendokumentasikan kebiasaannya dengan buku catatan kecil layaknya detektif-detektif zaman dulu.

Masih mikir kungkang itu lambat? Lah ya memang. Tapi Itu kan karena kamu mikirnya pakai standar manusia, bukan standar kungkang.

Menurut kamu kungkang lambat? Menurut serangga, manusia yang lambat!

Sering kan kita mau mukul lalat tapi jarang kena? Ternyata itu karena di mata serangga, gerakan manusia itu kayak adegan slow-motion. Pernah nonton “Epic”? Adegan ketika mau dipukul manusia, makhluk kecil di film itu dengan mudah mengelak karena manusia bergerak lambat di mata mereka. Masih butuh bukti manusia yang lebih besar bergerak lebih lambat? Sudah nonton “Into the Woods”? Adegan ketika raksasa mencari Jack si penabur benih kacang juga dibuat seolah-olah gerakan raksasa pelan dan suaranya lam…………bat.

Mungkin kebanyakan orang dengan skeptisisme-nya akan bilang, “Ah itu kan cuma film.” Ini ada bukti penelitiannya kok.

Manusia yang sudah menikah dengan enteng ngatain jomblo itu kungkang. Hati-hati kalian manusia, jangan terlalu menikmati mengejek jomblo karena nanti bisa saja dikatain lambat oleh ‘serangga yang sudah punya anak’ karena – amit-amit jabang bayi – belum juga punya anak. Tapi apa boleh buat karena Tuhan bisa saja tidak menganugerahi kesuburan meski sudah berobat seperti nasihat Ikang Fawzi. Bagaimana rasanya? Sakit hati? Tentu. Tapi, seperti kata pepatah di Gunung Kidul: What goes around comes around.

Lagian kenapa sih ngoprak-ngoprak orang lain buru-buru kawin? Toh, tidak ada manfaat besarnya untuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Kalau berani suruh Jokowi tuh sana buru-buru menentukan sikap soal penunjukan Kapolri.

Stay updated! Follow us on:

(Visited 146 times, 1 visits today)

You May Also Like

Related Articles

Stay updated! Follow Mumovi!

Read previous post:
Mixtape Ala Remehtemeh #2

Close